Bab 43

20 1 0
                                        

.
.
.
.
.

Adakah hal yang lebih menyenangkan daripada 'kebebasan?'

Bagi Aster, satu kata itu adalah hal yang paling dia harapkan sejak lama. Meski ayahnya hanya bersikap manipulatif tanpa intimidasi, namun entah mengapa selama ini dia merasa terkukung dalam sangkar. Meski bukan kebebasan yang sebenarnya, setidaknya untuk Lovelyn, kali ini tak terhalang lagi.

~

Sejak pagi tadi keanehan terus saja berlanjut hingga langkah Lovelyn kini dengan bebas menuju ruangan khusus Aster dan teman-temannya. Dia bahkan berjalan bersama Tomi. Bukankah dia pagar penghalang pertama antara dirinya dan Aster? Kenapa hari ini dia malah menjemput dan membawanya ke sini?

Pintu hitam tinggi itu ia buka perlahan. Terlihat mereka semua lengkap sedang duduk bersama sambil senyum-senyum. Dan satu orang yang dirindukan itu menoleh dengan senyuman hangat.

"Selamat datang lagi di Utopia..." Ungkap Aster sambil berpangku tangan di atas sofa.

Duar
Duar

Bayu dan Gio bahkan menembakkan conffeti ke udara. Mereka terlihat sedang merayakan.

"Maksudnya apa?" Raut wajah Lovelyn masih belum berubah. Dingin. Bahkan terlihat marah.

Bayu dan Gio terlihat saling melempar pandang. Situasinya tidak seperti yang diharapkan.

Aster sedikit panik, buru-buru bangkit menghampiri Lovelyn.

"Lyn..."

"Lu pikir gue bego?! Sehari lu bilang bakal mati gara-gara gue, terus besoknya lu bilang engga..." Tumpah. Sejak mendapat kabar dari sang Ayah jika dirinya bisa kembali sekolah, ada banyak kejanggalan yang Lovelyn rasakan. Dan sepertinya akan ia tumpahkan hari itu juga.

"Keluar dulu Yo..." Pinta Aster pada Bayu dan Gio.

Mereka mengangguk lalu buru-buru pergi bahkan menutup pintunya rapat-rapat.

"Maaf Lyn..." Aster berusaha mengamit tangan itu namun langsung ditepis bahkan sebelum sampai.

"Ter... Lu bisa aja bego-begoin mereka Ter..." suara Lovelyn bergetar, matanya nyalang penuh kemarahan yang ditahan terlalu lama.

Aster terdiam. Dia paham. Lovelyn tidak sebodoh itu. Lovelyn sudah terlalu sering dipermainkan oleh keadaan, dan sekarang... dia merasa orang yang paling dia percaya juga melakukan hal yang sama.

"Gue gak—"

"Apa? Enggak bisa jauhin gue? Enggak bisa berhenti deketin gue padahal katanya lu bisa mati kalo kita gini terus?" Lovelyn makin maju, napasnya memburu.

Aster menelan ludah. Tangan yang tadi ingin dia ulurkan kini terkepal erat di sisi tubuh. Sesak. Tapi dia harus ngomong. Harus.

"Gue... enggak bisa, Lyn." kalimat itu lirih, nyaris bergetar.

Lovelyn terdiam sejenak, keningnya berkerut. "Apa?"

"Gak bisa ninggalin lu!" suara Aster kali ini lebih tegas, walau jelas terasa luka di baliknya. "Sebelum lu datang ke sini... Gue pikir bisa... Tapi setelah pulang dari kuburan Mbah Gun, gue sadar. Ada kemungkinan lain."

"Kemungkinan yang lu pikir belum tentu bener Ter..."

"Seenggaknya ada celah lain dari Mbah Gun. Dia bilang gue harus bertahan. Gue bisa. Gue kuat. Percaya sama gue Lyn..."

Lovelyn menatapnya lama, matanya yang semula berkaca-kaca kini makin berair. Dia benci ini. Benci dirinya yang masih peduli, benci Aster yang ngomong kayak gitu setelah kebohongan yang dia buat tentang bicara dengan arwah Mbah Gun. Dia hanya berspekulasi sendiri.

Aster (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang