.
.
.
.
.
.
Seminggu setelah kecelakaan, demi Tuhan, Lovelyn menunggu Aster setiap hari di rumahnya.
Sumpah! Dia beneran gak datang? Apa gak ada kabar apapun tentang kecelakaannya pada Aster? Bahkan beberapa kali coba Lovelyn hubungi ponselnya benar-benar tidak pernah aktif.
Aster bak hilang ditelan bumi. Beneran ngilang? Seriusan? Lovelyn bahkan sudah menendang Ayaz jauh-jauh. Memintanya untuk tak lagi datang sebab hatinya sudah menjadi milik Aster.
Tapi ini dia beneran ngilang? Kalau saja kakinya gak di gips gara-gara kecelakaan konyol sama si Ayaz, mungkin sekarang Lovelyn sudah mengobrak-abrik Utopia untuk mempertanyakan kenapa Aster bisa setenang ini tanpa kabar apapun.
"Pah.." Anthony tiba-tiba datang ke kamar Lovelyn ketika dia tengah memperhatikan ponselnya yang masih saja sepi dari notifikasi.
"Gimana kaki kamu hari ini?" Tanya Anthony. "Kepala udah gak pusing?" Lanjutnya lagi.
"Mendingan sekarang Pah.." Jawab Lovelyn apa adanya.
"Aku boleh minta tolong Pah?"
"Apa sayang?"
"Bisa minta Om Erlangga buat bikin janji makan malam sama Aster?" Lovelyn terlihat ragu namun ini satu-satunya cara. Gio dan Bayu sudah tidak bisa diharapkan sebab terus menerus mengabaikannya.
"M.. Soal itu, kayaknya kamu harus pindah sekolah Lyn.."
Deg!
"Kenapa?"
"Ada aturan aneh di Utopia ketika masuk waktu itu kan?" Anthony kembali mengingatkan.
"Apa?"
"Tes darah itu.. Papah sempat minta kamu buat gak bilang kalau darah kamu rh-null, tapi B..."
"Oh.. Iya. Papah gak kasih tau aku alasannya waktu itu." Lovelyn mengingatnya dan mulai berpikir kemana-mana. Benar! Bukankah dulu Aster juga sempat ribut soal ini?
"Sebenarnya orang yang berdarah istimewa kayak kamu dilarang masuk ke Utopia. Tapi ayah maksa masuk ke sana karena ayah pikir, Utopia adalah sekolah terbaik di sini."
"Memangnya kenapa ada aturan kayak gitu Pah? Aneh banget.." Lovelyn masih tak bisa menemukan titik terang.
"Mereka sih gak bilang gara-gara apa. Tapi kemarin-kemarin gak tau kenapa dibahas lagi. Padahal ayah udah ngasih uang banyak banget waktu kamu masuk sama kepala sekolahnya."
"Pak Okan?"
"Iya."
"Papah nyuap maksudnya?"
"Ya gitu kurang lebih.."
"Kenapa harus banget sampai nyuap-nyuap segala sih Pah?"
"Ya itu tadi. Papah pikir cuma Utopia yang cocok sama kamu."
"Ya tapi.. Ah.." Lovelyn kehilangan kata-kata. Lagipula sudah terlanjur. Dia bahkan sudah mengenal Aster sejauh ini. "Terus kenapa sekarang harus pindah lagi? Setelah ngabisin uang banyak harus pindah lagi?" Tanya Lovelyn malah makin kesal.
"Ya.. Begitulah. Kepala sekolahnya juga mengundurkan diri beberapa hari lalu. Dan kepala sekolah baru memberlakukan aturan baku itu lagi. Golongan darah rh-null gak boleh ada di Utopia."
"Ya kenapa Pah?"
"Ya itu yang Papah pertanyakan beberapa hari ini sama mereka. Tapi jawaban mereka selalu sama. Katanya aturan baku di Utopia memang sudah seperti itu dan gak bisa dirubah lagi."
"Kok aneh banget?" Lovelyn tak habis pikir. Apa mungkin ada hubungannya dengan Aster kah? Bisakah dia bertanya langsung padanya? "Berapa Pah?" Lovelyn penasaran juga tentang ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aster (End)
Fantasi(FOLLOW DULU ATUH, BIAR SAMA-SAMA ENAK YE_KAN..) CERITA INI MENGANDUNG KETIDAKJELASAN, KEGABUTAN, KEHOREAMAN, KEGILAAN, KESIN**TINGAN, KEJENUHAN, KEBISINGAN, KEHENINGAN SEMUANYA POKONAMAH.. JADI JANGAN TERLALU BEREKSPEKTASI TINGGI.. BISI KECOA.. ~ ...
