Bab 39

22 0 0
                                        

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Kegentingan itu masih berlanjut hingga menjelang sore. Aster masih setia menemani Lovelyn yang ternyata harus menjalani operasi dan belum juga keluar bahkan setelah beberapa jam.

Anthony yang satu jam lalu datang bersama asistennya langsung mencengkram kerah Ayaz yang juga terluka namun tak separah putrinya.

Aster tak ingin peduli dan hanya mengabaikan teriakan-teriakan Anthony dan Erlangga yang sibuk memisahkan mereka. Aster hanya berharap Lovelyn selamat untuk saat ini. Tidak ada hal lain dalam pikirannya. Jika sampai terjadi apa-apa padanya, apa yang bisa dia lakukan kedepan tanpa Lovelyn?

Apa ikut mati juga?

Semakin di rasa-rasa, dada Aster kian sesak dengan napas berat. Aster masih duduk tak bergerak di kursi panjang dekat ruang operasi itu sejak tiga jam lalu. Hingga akhirnya, ada seseorang yang keluar. Namun sepertinya tidak membawa kabar baik karena dia malah bergegas mencari Anthony dan membawanya entah kemana.

"Cari tau!" Titah Aster pada Tomi yang masih berjaga sejak tadi. Dia bahkan tak menjawab dan langsung mengangguk lalu pergi. Artinya dia siap melaksanakan perintah.

Aster kembali duduk menunggu begitupun dengan Ayahnya Erlangga. Tadi dia sempat menjelaskan jika memang dirinya tak sengaja bertemu Lovelyn di jalan dengan kondisi seperti itu dan langsung membawanya ke sana. Erlangga bermaksud ke tempat lain sebelumnya namun takdir berkata lain.

"Dia siapa sebenarnya?" Tanya Erlangga menunjuk Ayaz yang kini duduk bersebrangan dengan mereka.

"Pacar Lovelyn waktu mereka di Turki.." Jawab Aster apa adanya.

"Pacar?" Erlangga tentu sedikit terganggu dengan pernyataan itu. Bukankah Anthony menjodohkan putrinya dengan Aster? Erlangga tak habis pikir.

"Kamu bisa-bisanya di selingkuhin?" Erlangga tak percaya.

"Aku gak pacaran sama Lovelyn. Kita cuma saling suka.." Aster kembali menjawab meski lilitan dalam otaknya masih belum terurai. Tak seharusnya dia menjawab pertanyaan dari sang ayah. Makin di jawab hanya menambah pelik benang kusut yang menggunung dalam otaknya.

"Gila kamu.." Umpat Erlangga meski dengan suara pelan. Bisa-bisanya anak dari seorang Erlangga berakhir jadi budak cinta begini.

"Ayah pulang." Erlangga akhirnya bangkit lalu berlalu tanpa menunggu. Dia bahkan enggan membahasnya lagi. Sudahlah.. Nanti saja. Setelah situasinya kondusif. Pikir Erlangga.

Beberapa saat menunggu, Tomi kembali dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat cemas. Dia mendekati Aster kemudian menatap wajahnya lekat.

"Apa?" Tanya Aster penasaran. Tomi mendekat bahkan duduk di samping Aster sekarang.

"Mas.. Lovelyn butuh transfusi darah. Mereka bilang kemungkinan stok darahnya gak cukup." Kecemasan Tomi membuat Aster berpikir jauh. Kenapa butuh darah saja sampai panik seperti itu? Bukankah tinggal di cari? "Golongan darahnya Rh null.." Kalimat lanjutan dari Tomi membuat dunia Aster seakan runtuh. Bukankah ini artinya dia dan Lovelyn sama dengan mustahil?

Deg!

Aster tertegun. Dengingan hebat dalam gendang telinga tiba-tiba mengganggu. Dia benar-benar kebingungan saat itu. Jadi benar. Lovelyn memang bisa membunuhnya. Artinya, semua tanda-tanda yang dia rasakan selama ini adalah proses kehilangan kekuatan karena terus bersama Lovelyn?

"Gimana Mas?" Tomi kembali mempertanyakan dengan cemas. Keputusan dari Aster kali ini tidak akan benar-benar ditelan bulat. Tomi sudah punya gambarannya sekarang. Dia bisa bertindak diluar perintah jika perlu.

Aster (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang