Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°°°
Matahari senja perlahan bersembunyi di balik cakrawala, meninggalkan semburat jingga yang membalut kota dalam nuansa hangat. Langit yang mulai meredup seakan mencerminkan suasana hati Adara yang tengah diliputi kekesalan. Sepanjang perjalanan pulang sekolah, langkahnya berderap cepat, sementara bibir mungilnya terus menggerutu tanpa henti.
Di sisinya, Zeline hanya bisa menatap heran. Wajah sahabatnya itu tampak begitu kesal, seolah dunia baru saja melakukan ketidakadilan besar padanya.
"Adara... tenang dong. Emangnya kamu kenapa?" tanya Zeline dengan alis berkerut, berusaha memahami apa yang sedang terjadi.
"Itu tuh, si Aydin! Kenapa coba tiba-tiba ngajak aku ke kafe?" gerutunya dengan nada jengkel.
Zeline menghela napas panjang. "Aydin yang mana sih?"
"Duh... gimana ya jelasinnya," Adara tampak berpikir keras, seolah mencari cara paling tepat untuk mendeskripsikan pemuda itu.
Zeline menatapnya penuh selidik, lalu menyahut dengan nada menggoda, "Kenapa kamu tolak? Siapa tahu dia beneran suka sama kamu."
Adara terdiam sejenak. Pikirannya melayang pada sosok Aydin, yang meskipun sering ia abaikan, tetap tak pernah menyerah mendekatinya.
"Iya juga sih..." gumamnya pelan.
Namun, secepat itu pula ia menggeleng, mengusir pikiran yang mulai meracuni benaknya. Ia kemudian menatap Zeline dengan tatapan memohon. "Eh tapi kamu ikut ya, Zel. Aku gak mau ke sana sendirian!"
"Loh, kenapa bawa-bawa aku?" Zeline menatapnya sebal, lalu menguap kecil. "Gak ah, aku udah capek. Mending di rumah aja, rebahan."
"Kamu gak kasihan sama sahabat kamu ini?" rengek Adara, memasang wajah penuh harap yang sulit untuk ditolak.
Zeline mengembuskan napas lelah, lalu akhirnya mengangguk pasrah. "Ya udah deh, aku ikut."
Di sisi lain, Aydin pun tak ingin datang sendiri. Ia menatap Gavin dengan ekspresi memelas.
"Plis, Vin. Temenin aku kali ini aja!" pintanya.
Gavin mendecak. "Ck, nyusahin aja," gerutunya, namun akhirnya menyerah. "Iya deh, iya."
Mata Aydin langsung berbinar. "Thanks ya! Nanti aku traktir deh!"