Chapter 12

15 14 0
                                        

SEMAKIN DEKAT

°°°

°°°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°°°

Satu tahun telah berlalu sejak pertemuan pertama mereka. Hubungan Gavin dan Zeline tak lagi sekadar pertemanan biasa. Ada kenyamanan yang tumbuh, ada perhatian yang perlahan mengakar, dan tanpa disadari, kedekatan mereka menjadi sesuatu yang tak terpisahkan.

Matahari sore mulai condong ke barat, mengirimkan cahaya keemasan yang menari di sepanjang koridor kampus. Suasana kampus perlahan lengang seiring berakhirnya jam kuliah. Zeline melangkah keluar dari ruang kelasnya, membetulkan tali tas di bahu sambil menghela napas lega. Pandangannya tertumbuk pada sosok yang berdiri di dekat tiang lampu, menunggu dengan santai.

“Kak Gavin? Ngapain di sini?” tanya Zeline dengan alis terangkat, langkahnya melambat saat mendekat.

Tanpa banyak kata, Gavin meraih lengan Zeline dengan lembut, menariknya menjauh dari kerumunan mahasiswa yang berlalu-lalang. Sentuhan hangat itu membuat Zeline terdiam, matanya menatap penuh tanya.

“Kita mau ke mana?” tanyanya, bingung dengan sikap Gavin yang tiba-tiba ini.

Gavin tidak menjawab. Dia hanya terus berjalan sambil menggenggam tangan Zeline. Gadis itu mengernyitkan dahi, mencoba melepaskan tangan Gavin yang erat, tetapi sia-sia.

“Kak! Kita mau ke mana sih?” Zeline bertanya lagi, suaranya sedikit kesal karena penasaran.

Gavin berhenti sejenak. Ia berbalik, menatap mata Zeline yang memancarkan campuran rasa ingin tahu dan protes. Ia kemudian meletakkan telunjuk di depan bibir Zeline, mengisyaratkan untuk diam.

“Shut… jangan tanya-tanya mulu. Kamu ikut aja, ya,” bisiknya pelan, namun cukup jelas membuat Zeline mendengus pelan, pasrah mengikuti langkahnya.

Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah kafe kecil di sudut kampus, tempat yang hangat dengan aroma kopi dan kayu manis memenuhi udara. Gavin membuka pintu, mempersilakan Zeline masuk terlebih dahulu.

“Ayo makan siang bareng! Aku udah pesan makanan dan minuman, juga tempat duduknya,” ujar Gavin sambil tersenyum santai.

“Oh… aku kira mau ke mana,” ucap Zeline, setengah lega, setengah malu karena sudah berpikir terlalu jauh.

“Emang kamu pikir kita mau ke mana?” Gavin menaikkan satu alisnya, menahan tawa melihat ekspresi Zeline yang sedikit gugup.

“Lupain aja deh. Zeline mau makan dulu,” sahut gadis itu, buru-buru duduk dan membuka bungkus makanannya.

Gavin duduk di seberang Zeline, namun bukannya makan, ia justru menatap gadis itu tanpa henti. Cara Zeline menyendok makanannya, bagaimana pipinya sedikit mengembung saat mengunyah, semua terlihat sangat imut di matanya.

Bagaimana mungkin dia tidak makin jatuh cinta? Semua sikap sederhana Zeline justru membuat hatinya berdebar lebih cepat.

Tanpa sadar, Gavin mengulurkan tangan, mengelus lembut rambut Zeline. Gadis itu terhenti sejenak, menoleh dengan tatapan bingung. Gavin tersenyum.

“Besok weekend, kita pergi ke aquarium date, yuk!” ajaknya dengan nada penuh antusias.

“Aquarium date?” Zeline mengernyit, mencoba mencerna ajakan itu.

“Iya… Zeline sayang,” bisiknya pelan, membuat wajah gadis itu sedikit memanas.

“Mau ngapain?” tanya Zeline polos, membuat Gavin tertawa kecil.

“Ya liburan aja. Daripada saat hari libur kamu di apartemen mulu, sendiri. Nggak bosen apa? Mending jalan sama aku,” ucapnya santai.

Zeline mengangguk pelan. “Iya juga sih.”

“Ya udah, okay deh,” jawabnya akhirnya menerima ajakan Gavin.

“Nanti aku jemput kamu, ya,” tambah Gavin, senyum kecil tak lepas dari wajahnya.

“Iya,” jawab Zeline singkat.

Suasana menjadi lebih santai. Gavin bersandar di kursinya, menatap Zeline yang kini sudah hampir menghabiskan makanannya.

“Oh ya, kamu gimana kuliahnya? Asik nggak? Seneng atau ada yang Zeline kurang suka?” tanya Gavin, mencoba menjaga obrolan tetap mengalir.

“Nggak. Zeline suka kok,” jawabnya singkat, tanpa banyak ekspresi.

“Syukurlah kalau begitu. Tapi ingat, kalau ada orang yang gangguin, atau ada yang bikin kamu kurang nyaman, harus bilang ya sama aku,” ucap Gavin, nada suaranya sedikit serius.

“Heum,” gumam Zeline sambil berdeham pelan.

“Kamu itu, kalau diingetin, suka nggak bilang apa-apa sama aku, terus malah jadi masalah buat kamu sendiri.” Gavin menggeleng kecil.

“Jangan pendam masalah sendirian. Aku ada di sini, dan aku siap bantu kamu apapun itu,” lanjutnya, penuh perhatian.

“Iya… Kak Gavin, iya,” jawab Zeline, menahan tawa kecil mendengar Gavin yang mulai terdengar seperti orang tua.

“Aku paling nggak suka kalau kamu pendam masalah sendirian. Setidaknya cerita sama aku, biar aku bisa berguna dan bantu kamu.”

“Iya… Kak Gavin sayang,” balas Zeline dengan nada menggoda, membuat Gavin terdiam sejenak.

Mimik wajah Gavin berubah, pura-pura bingung. “Apa-apa? Tadi kamu bilang apa?”

Zeline tertawa kecil. “Udah ah, Zeline jadi nggak mood,” ucapnya pura-pura cemberut.

“Loh kok gitu?” Gavin mengernyit, benar-benar heran.

“Ya dari tadi, Kak Gavin nasehatin Zeline mulu. Kayak ayah aja,” jawab Zeline, tertawa pelan.

Gavin mendekat sedikit, menurunkan suaranya menjadi bisikan penuh godaan. “Aku kan emang calon ayah dari anak-anak kamu.”

Mendengar itu, Zeline refleks mencubit pinggang Gavin dengan cepat.

“Aw! Iya-iya, maaf. Aku cuma bercanda kok,” seru Gavin, meringis sambil tertawa.

Tawa mereka berbaur dengan suara pelan musik kafe, menghangatkan suasana sore itu. Tak ada yang lebih indah daripada kebersamaan sederhana yang penuh tawa dan kejujuran seperti ini. Dan tanpa perlu diucapkan, hati mereka saling tahu: kedekatan itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan perasaan yang tumbuh perlahan namun pasti.

FOREVER MINE (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang