Chapter 17

4 3 0
                                        

DALAM DIAM AKU MENJANJIKAN PULANG

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

DALAM DIAM AKU MENJANJIKAN PULANG

°°°

Sinar lampu sore menyusup lembut melalui celah jendela kaca di sudut ruangan, memantulkan cahaya keemasan ke lantai kayu yang sunyi. Segalanya terasa hening seolah semesta turut menahan napas, memberi ruang bagi dua hati yang sedang belajar melepaskan, bukan karena berhenti mencinta, tapi karena mencinta dengan cara yang berbeda.

Di pojok ruang itu, Zeline duduk bersandar pada dinding, mengenakan sweater hitam longgarnya, Sementara itu, Gavin berbaring menyamping, kepalanya bersandar di pangkuan Zeline. Seolah dunia telah mengecil, cukup selebar dekap yang menenangkan.

Tangan Zeline menggenggam ujung hoodie abu-abu yang dipakai Gavin erat, seperti takut waktu mencuri lebih dari yang seharusnya. Jemari panjang dan rapi miliknya bergerak lembut mengelus rambut Gavin, sehalus belaian angin yang menenangkan malam. Ada kasih dalam setiap geraknya, seperti menenangkan anak kecil yang baru saja terbangun dari mimpi buruk.

 Ada kasih dalam setiap geraknya, seperti menenangkan anak kecil yang baru saja terbangun dari mimpi buruk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Cr: Pinterest

Padahal hari ini, mimpi buruk itu adalah kenyataan. Kenyataan bahwa Gavin akan segera pergi. Meninggalkan Zeline, tanah yang mereka pijak, dan segala kenangan yang mereka rakit demi satu cita gelar dokter di negeri seberang.

Hari itu, Gavin lebih sunyi dari biasanya. Lebih manja, lebih sering menunduk, lebih sering menyembunyikan wajahnya di lengannya seolah itu bisa menahan air mata yang mendesak keluar dari matanya yang biasanya kuat dan yakin. Kini, hanya rapuh yang tersisa.

"Zel... kamu yakin nggak bakal benci aku nanti?" Suara Gavin nyaris seperti bisikan, takut dan gemetar. Sebuah pertanyaan dari hati yang tak ingin kehilangan.

Zeline menunduk, alis kecilnya mengerut. Ia mengelus pelipis Gavin dengan ibu jarinya gerakan sederhana yang menyimpan jawaban panjang.

"Benci? Kenapa aku harus benci sama orang yang lagi ngejar mimpinya, hah?" Suaranya lembut, tapi tegas. Seperti pelita kecil yang menolak padam di tengah gelap. Cinta, baginya, bukan tentang jarak tapi tentang percaya.

FOREVER MINE (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang