Adara menunduk. "Aku jadi nggak semangat, nggak ada Zeline," ucapnya dengan nada murung.
Davian menepuk bahu sahabatnya itu. "Adara… kamu nggak boleh gitu! Justru kalau kamu sedih dan nggak semangat, Zeline juga bakal ikut sedih," tegurnya lembut.
Adara menghela napas pelan. "Kalau gitu, pulang sekolah aku mau jenguk dia. Kamu mau ikut nggak?" tanyanya.
Davian mengangguk mantap. "Tentu saja."
°°°
Sepulang sekolah, mereka langsung pergi menjenguk Zeline di rumah sakit. Mereka membawa makanan, minuman, dan buah-buahan untuk sahabatnya itu.
Begitu memasuki kamar rumah sakit, mereka melihat Zeline yang tengah berbaring lemah. Mendengar suara langkah kaki, gadis itu membuka mata dan tersenyum tipis.
"Kalian kenapa ke sini?" tanyanya dengan suara pelan.
"Emangnya kita nggak boleh kangen sama kamu?" Adara mencoba tersenyum, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.
Zeline menatapnya penuh kasih sayang. "Duh, jangan nangis dong. Aku baik-baik aja kok," ucapnya sambil menghapus air mata Adara.
"Tapi kamu—"
"Shh, aku yakin aku bisa sembuh. Jadi, jangan khawatir, ya?"
Adara mengangguk pelan. "Aku cuma sedih, lagi-lagi kamu harus masuk rumah sakit."
"Kamu jangan sedih. Kalau kamu sedih, aku juga ikut sedih," kata Zeline, mencoba menyemangatinya.