Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
AKU YANG MENUNGGU, KAU YANG TAK PERNAH MENOLEH
°°°
Setelah melewati tahun-tahun bersama, kini Zeline menapaki babak baru dalam hidupnya. Usai kelulusan, ia bekerja di Studio Lukis Arunika tempat di mana warna dan imajinasi bertemu menjadi karya.
Hari-hari terasa lebih sunyi sejak kepergian Gavin ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan kedokterannya. Mereka sudah lama tak bertemu, dan komunikasi pun mulai renggang. Di hari-hari tertentu, kerinduan itu datang diam-diam, seperti kabut tipis di pagi hari.
Pagi itu, matahari bersinar cerah, membasuh jendela kamar Zeline dengan hangatnya. Ia bangkit dari tempat tidur, melangkah ke kamar mandi, dan bersiap untuk bekerja. Saat tiba di studio, Lulu rekan kerja sekaligus sahabatnya menyambut dengan senyum cerah yang sudah seperti matahari kedua.
"Amboi, kenapa wajah Zeline cemberut gitu? Yang semangat dong!" ucap Lulu teman kerjanya, ia mencubit pipinya ringan.
Zeline hanya tersenyum tipis lalu berjalan ke arah kanvasnya. Lukisan yang belum rampung itu menjadi pelariannya dari ribuan pikiran yang berkecamuk.
"Zel, kamu kenapa sih? Dari kemarin kelihatan murung terus," tanya Lulu sambil mendekat, nada suaranya penuh perhatian.
"Gitu deh, Lu," jawab Zeline pelan, matanya tak lepas dari goresan kuas.
"Gitu gimana? Hmm... aku tebak, kamu lagi kangen sama pacar kamu yang jauh di sana, ya?"
Zeline tertawa kecil, lalu mengangguk.
"Iya... udah lama banget gak ketemu. Sekarang dia juga jarang ngehubungin aku," ucapnya, lirih.
"Sabar ya, Zel. Jangan buru-buru mikir yang aneh-aneh. Dia lagi fokus sama kuliahnya. Nanti kalau udah selesai, dia pasti pulang dan langsung nyamperin kamu," kata Lulu menenangkan.
"Tapi... entah kenapa aku takut, Lu. Takut dia nemu cewek lain di sana," ujar Zeline, matanya menerawang.
"Ssst! Jangan mikir negatif terus. Nih, kamu aja belum makan, kan? Ini aku bawain sarapan. Makan dulu, biar hati kamu juga kenyang," ucap Lulu sambil menyodorkan kotak makanan.
Zeline akhirnya tertawa kecil dan menerima sarapan itu. Saat ia mulai menyendok makanan ke mulutnya, sosok Kenzo datang menghampiri dan duduk di hadapannya.