Chapter 9

20 23 0
                                        

LANGIT SENJA DAN PERASAAN
YANG TAK TERUNGKAP

°°°

°°°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°°°


Senja perlahan menyapu langit dengan semburat jingga keemasan. Angin sore berembus lembut, menggoyangkan dedaunan yang mulai meranggas. Di sudut taman sekolah, di bawah pohon rindang, tiga sahabat duduk berdekatan. Suasana hening, hanya suara dedaunan yang berguguran menemani mereka.

Zeline menatap kosong ke tanah, wajahnya redup, matanya terlihat sendu. Adara yang duduk di sampingnya meraih tangan sahabatnya itu, menggenggamnya erat.

"Zel, ayo dong senyum lagi," ucap Adara dengan nada lembut. Hatinya ikut terasa berat melihat Zeline seperti ini.

"Iya, Zel. Kan ada kita yang selalu ada buat kamu," sambung Davian, mencoba menghibur.

Adara menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis meskipun hatinya masih terasa sesak. "Sebenarnya aku juga kangen sama Aydin," gumamnya pelan, "tapi mau gimana lagi, dia juga harus kuliah. Kita juga kan mau kuliah setelah lulus, jadi pasti bisa ketemu lagi di sana."

Zeline dan Davian saling bertukar pandang, memahami perasaan Adara yang masih berat untuk berpisah dengan Aydin.

Tiba-tiba, Zeline membuka suara, "Semalam aku mimpi Kak Gavin jalan bareng temen sekampusnya," ujarnya dengan ekspresi sedikit ragu.

Adara mengerutkan kening. "Ya wajar dong, Zeline sayang. Masa Gavin jalan bareng teman sekampusnya aja kamu gak izinin?" sahutnya sambil memeluk dan mengelus punggung sahabatnya itu.

Zeline menggeleng pelan. "Bukan gitu maksudnya," ia menatap Adara, lalu melanjutkan, "yang di mimpi aku, Kak Gavin jalan bareng sama temen sekampusnya itu cewek. Mereka jalan berduaan gitu loh."

Davian tertawa kecil. "Ya udah, kamu tenang aja. Itu kan cuma mimpi," ucapnya berusaha menenangkan.

"Iya juga sih," Zeline menggumam, meski hatinya masih tak tenang.

Davian menatapnya dengan seringai jahil. "Yang aku heran, kamu dan Gavin gak ada hubungan apa-apa, tapi kok kayak pacaran, ya? Mana lebih sweet kamu dari pada aku lagi" celetuknya.

Zeline terdiam. Benar juga yang dikatakan Davian. Tapi... kenapa rasanya ia tak terima jika Gavin dekat dengan perempuan lain? Apakah ia cemburu? Apa ini yang disebut jatuh cinta? Zeline pun bingung dengan perasaannya sendiri.

Adara tiba-tiba tersenyum jahil. "Mending kamu call Gavin aja, biar kamu tenang," sarannya.

Zeline ragu sejenak, tapi akhirnya menurut. Dengan sedikit gemetar, ia menekan tombol panggil. Tak butuh waktu lama, suara yang sudah lama dirindukannya terdengar dari seberang.

FOREVER MINE (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang