Chapter 14

19 13 2
                                        

BUKAN HARI BIASA

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

BUKAN HARI BIASA

°°°


Zeline baru selesai kelas siang itu. Langkahnya cepat, membawa map tebal dan tumbler ungu kesayangannya. Sambil menunduk, ia berjalan menuju taman kecil di sisi belakang kampus tempat mereka biasa bertemu diam-diam, jauh dari lalu lalang teman-temannya.

Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bukan karena lari tapi karena tahu siapa yang menunggunya di sana.

Dan benar saja, Gavin sudah duduk santai di bangku panjang bawah pohon, memainkan kunci motornya. Begitu melihat Zeline, senyum khasnya langsung muncul.

"Lama banget sih. Aku hampir pensiun nungguin kamu," godanya santai sambil berdiri.

Zeline nyaris tergelincir saking gugupnya, lalu menyerahkan map dan tumblernya ke Gavin, seperti biasa. Ia tahu lelaki itu akan langsung membantu tanpa diminta.

"Maaf, dosennya lama banget." ucapnya pelan, tanpa berani menatap mata Gavin.

"Yuk duduk dulu," katanya lembut.

Mereka duduk. Nggak terlalu dekat, tapi juga nggak jauh-jauh amat. Cukup buat bikin deg-degan.

"Tadi di kelas ngantuk nggak?" tanya Gavin, memiringkan kepala.

Zeline mengangguk pelan. "Dikit."

Gavin tersenyum. "Besok aku bawain teh chamomile deh. Anget, enak, dan aman buat asam lambung."

Zeline langsung menoleh. "Kok tahu?"

Gavin mengangkat alis, sok heran. "Aku pacar kamu, Zel. Masa aku nggak tahu kamu punya asam lambung? Aku hafal semua yang penting tentang kamu."

Zeline menunduk. Senyum kecil muncul di bibirnya, tapi pipinya sudah semerah stroberi.

Tak lama kemudian, beberapa teman sekelas Zeline lewat. Otomatis, ia merapikan posisi duduknya, menegakkan badan, dan menatap langit seperti sok-sok mikir masa depan.

Gavin hanya menoleh sekilas lalu nyengir.

"Tenang, kita nggak lagi pegangan tangan kok," bisiknya pelan.

"T-tapi nanti dikira aneh," bisik Zeline, setengah panik.

"Dikira pasangan bahagia? Ya emang iya," jawab Gavin tanpa dosa.

Zeline ingin membalas, tapi malah menahan senyum sambil memalingkan wajah. Malu? Jelas. Tapi juga bahagia.

"Belum bilang siapa-siapa juga," gumamnya lirih.

Gavin menoleh padanya, kali ini lebih serius. "Aku nggak masalah. Mau kamu umumin ke dunia, atau kita keep dulu berdua, yang penting kamu nyaman."

"Tapi kamu nggak kesel?"

"Zel," Gavin meraih tangan Zeline pelan-pelan, hati-hati banget biar nggak ada yang lihat.

"Aku pacaran sama kamu, bukan sama kampus, bukan sama temen-temen. Kalau kamu masih mau simpen dulu, aku juga simpen. Tapi hatiku sih udah ngumumin dari awal kamu milik aku."

Zeline menahan napas. Rasanya dadanya hangat. Ia menunduk makin dalam. "Maaf ya…"

"Kenapa malah minta maaf?"

"Soalnya aku masih suka gugup kalo deket kamu."

Gavin tertawa pelan, menahan diri buat nggak gemes. "Lah aku malah seneng. Kamu gugup aja gemes banget. Apalagi nanti kalau udah nggak gugup, wah bisa makin bikin aku nggak tahan."

"Ish…" Zeline nyikut pelan lengan Gavin, tapi senyumnya nggak bisa disembunyikan.

Hari itu mereka duduk lebih lama dari yang direncanakan. Ngebahas tugas, ngomongin dosen killer, sampe berdebat soal topping burger paling enak.

Nggak ada pegangan tangan, nggak ada pelukan dadakan, dan nggak ada panggilan sayang keras-keras. Tapi rasanya tetap spesial.

Karena cinta mereka bukan tentang siapa yang tahu duluan, tapi tentang siapa yang tetap tinggal meski belum semua orang tahu.

FOREVER MINE (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang