Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°°°
Lampu kamar sudah mati, tapi mata Zeline masih terbuka. Gelap tak pernah benar-benar gelap bagi orang yang pikirannya terlalu ramai. Di balik kelopak matanya, kenangan terus berputar, saling bertabrakan tanpa izin.
Ia memiringkan tubuh, memeluk bantal, menariknya lebih dekat ke dada.
Biasanya, posisi ini membuatnya cepat terlelap. Namun malam ini, bantal itu terasa dingin. Tidak ada kehangatan yang biasa ia rasakan saat mendengar suara Gavin di ujung telepon, suara yang selalu rendah dan tenang, seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Jam di dinding berdetak pelan, menghitung waktu yang terasa semakin berat.
22.03.
22.04.
22.05.
Zeline memejamkan mata lebih erat, seolah dengan begitu ia bisa memaksa pikirannya berhenti. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kalimat-kalimat yang tak sempat terucap kembali memenuhi kepalanya.
"Apa aku terlalu berisik di kepalanya?"
"Apa aku jadi beban di tengah semua kesibukannya?
"Atau… aku cuma penting di saat dia punya waktu luang?
Dadanya mengencang. Zeline menelan ludah, mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran itu. Ia tidak suka berpikir sejauh ini. Ia tidak suka menjadi seseorang yang mencurigai orang yang ia cintai.
"Aku nggak kayak gini dulu," bisiknya lirih.
Dulu, ia selalu percaya. Tanpa ragu. Tanpa hitung-hitungan. Tanpa menunggu balasan dengan jantung berdebar seperti ini.
Tangannya bergerak pelan, meraih ponsel sekali lagi. Layar menyala, memantulkan cahaya samar ke wajahnya. Tidak ada perubahan. Tidak ada nama Gavin.
Zeline tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip refleks daripada perasaan.
"Lucu ya," gumamnya.
"Cuma nunggu satu orang, tapi rasanya kayak nunggu hujan di musim kemarau."
Ia mengunci layar ponsel itu, lalu meletakkannya di meja samping tempat tidur, kali ini agak jauh dari jangkauan. Ia tahu dirinya sendiri kalau ponsel itu terlalu dekat, ia akan terus tergoda untuk melihatnya setiap lima menit.