Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°°°
Waktu mengikis segalanya. Kenangan, perhatian, bahkan perasaan yang dulu hangat di dada. Zeline kembali menjadi sosok yang dingin, seolah Gavin hanyalah angin lalu yang tak perlu diingat lagi. Setelah kejadian di waktu itu, Zeline menutup pintu hatinya rapat-rapat, membiarkan waktu yang bicara tanpa kata.
Di sisi lain, Gavin justru tenggelam dalam labirin pikirannya sendiri. Ada rasa asing yang mengusik, rasa kehilangan yang tak mampu ia definisikan. Pesan yang tak pernah dibalas, panggilan yang tak pernah diangkat. Seolah dunia Zeline telah menghapus keberadaannya. Pertanyaan-pertanyaan berputar di benaknya, tanpa jawaban yang mampu meredam rasa penasaran itu. Apa yang terjadi? Apa dia baik-baik saja? Atau... mungkinkah Gavin adalah alasannya menghilang?
Suasana siang itu cukup cerah, meski bagi Gavin langit tampak sedikit suram, selaras dengan pikirannya yang penuh tanya. Mereka berjalan di lorong toko, diapit rak-rak yang dipenuhi pakaian berwarna cerah.
"Tumben banget ngajak ke sini," ucap Gavin sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, matanya menyapu deretan baju yang tergantung rapi.
Aydin berhenti di depan sebuah rak, mengangkat dress berwarna pastel, lalu memutar tubuhnya menghadap Gavin. "Vin, menurut kamu barang ini lucu nggak? Baju ini bagus nggak? Dress ini cantik nggak?" tanyanya beruntun, membuat Gavin mengerutkan dahi.
Gavin mengangkat sebelah alis, menatap dress itu sekilas lalu beralih menatap Aydin. "Bentar, ini kamu beli barang-barang banyak buat apa?" tanyanya heran.
Aydin tertawa kecil, lalu menghela napas pelan. "Besok kan Adara mau lulus. Aku harus hadir, dan ini sebagai hadiah buat dia," jawabnya santai.
"Yaiyalah, di sekolah. Besok kan ada acara kelulusan, jadi aku harus hadir buat besok," balas Aydin sambil memilih-milih dress lain.
Gavin tiba-tiba merasakan detak jantungnya berubah ritme. "Kalau Adara mau lulus, berarti... Zeline juga dong?" suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.
Aydin menarik napas dalam, seolah pertanyaan itu berat untuk dijawab. "Ya kan emang iya. Kamu kok kayak nggak tahu aja sih," celetuknya santai.
Gavin tertawa miris. "Ya aku emang nggak tahu, anjir."
Aydin menoleh, tatapannya bingung. "Emang kamu nggak dikabarin sama Zeline?"