Kafka menyusuri jalanan dengan hati-hati, mencari keberadaan Shenka. Tanpa uang, tanpa ponsel, Kafka bahkan tidak bisa menggambarkan seberapa besar kekhawatiran yang dirinya rasakan sekarang.
Tidak ada yang bisa Kafka datangi untuk bertanya, dirinya baru menyadari jika tidak ada satu pun teman Shenka yang dirinya tahu. Atau bagian terburuknya Shenka malah mungkin tidak mempunyai teman.
"Di mana sih, Shen? Kalo marah mending ngamuk sambil mukul-mukul, daripada ngilang kayak gini." Kafka memukul kepalanya. Harusnya tadi dia memegangi Shenka lebih kuat, agar dia tidak pergi sendirian. Minimal sampai Kafka memberikannya uang.
Ting!
Bibi:
- Neng Shenka udah dateng, Den. Dia langsung masuk kamar.
Itu seperti oase di tengah Sahara. Kafka menghela napas lega, dia pun segera memacu motornya untuk menuju rumah.
"Kalau lagi ngambek gini, Neng Shenka susah keluar kamar, bahkan buat makan. Biasanya keluar tengah malam, jadi sisa makanannya dibiarin di meja aja, Den," pesan ART-nya saat berpapasan di depan.
Meskipun begitu, Kafka tetap menghampiri kamar Shenka. Dia berdiri di depan pintu yang tertutup rapat, tangan Kafka terangkat lalu memberikan ketukan pelan.
"Shen, makan dulu?"
Tidak ada jawaban.
Kafka tidak menyerah dia mengetuk lagi. "Maaf, kita bicara baik-baik ya?"
Kafka mendengar suara gedebuk dari dalam. Mungkin Shenka melempar bantal atau bonekannya pada pintu.
Kafka menghela napas. Dia tahu dari awal Shenka itu benci pada Elisa. Kafka juga tidak bermaksud sengaja apalagi melakukan saran Satya untuk mendekati cewek itu. Tadi, di kelasnya yang punya pulpen lebih dari satu hanya Elisa. Kafka hanya tidak mau Shenka terkendala belajarnya karena tidak ada pulpen. Bodohnya Kafka tidak terpikir untuk pergi ke koperasi.
Saat membeli yang Shenka minta pun, Kafka bukan sengaja meminta saran Elisa. Kebetulan mereka bertemu di minimarket saat Kafka hampir membeli semua jenis pembalut di sana. Memang Kafka yang kemudian berinisiatif untuk menanyakan hal lain yang biasanya dibutuhkan cewek di saat masa menstruasi. Kafka lakukan itu karena ingin yang terbaik untuk Shenka.
Meskipun Shenka menyebalkan, meskipun tingkahnya di luar nalar, Kafka masih menyayanginya. Sekarang, entah bagaimana Kafka membujuk dia.
"Aku bakal keluar, jadi kamu makan ya?"
oOo
Kafka menahan dirinya di luar sampai jam 8 malam, tapi sayangnya semua makanan di meja masih utuh. Kafka bahkan memeriksa kulkas dan tidak ada perubahan di sana.
Untungnya di pagi ini, Kafka bisa sedikit bernapas lega. Dua batang cokelat yang kemarin dibelinya hilang, termasuk pembalut yang sudah Shenka ambil satu buah itu. Setidaknya ada yang masuk ke dalam perut dia.
Kafka sudah siap dengan seragam sekolahnya. Dia kembali berdiri di depan kamar Shenka lalu mengetukkan punggung tangannya.
"Shen, mau sekolah nggak?" tanya Kafka dengan lembut. Sayangnya tidak dijawab oleh orang dari dalam sana.
"Kalo nggak mau nggak papa. Jangan lupa sarapan, kalo ada sesuatu bilang sama Bibi. Uang jajan aku simpan di atas kulkas ya."
Kafka terperanjat kaget begitu pintu itu tiba-tiba terbuka. Shenka keluar dari sana dengan tangan yang mendekap laptop. Tanpa melihat sedikit pun pada Kafka, cewek itu melenggang pergi. Kafka pun bergerak cepat menyusul.
"Shen kita berangkat bareng," ucap Kafka begitu melihat Shenka membuka gerbang sendiri. Cewek itu hanya mengedikkan bahu lalu cepat berjalan keluar.
"Shen, kalo mau naik angkutan, seenggaknya ambil dulu uang--" ucapan Kafka tidak berlanjut begitu Shenka menaiki boncengan Satya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Sister! [TAMAT]
Teen FictionKetika cewek yang lagi disayang-sayangnya adalah anak dari suami nyokap lo. Mau benci, tapi masih cinta. Mau cinta, dia adek lo. *** Orang bilang kebucinan Kafka pada Shenka itu sudah pada tahap akut. Kafka tak masalah dicap lebay. Baginya Shenka a...
![Hello, Sister! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/357898801-64-k944261.jpg)