Masuk BK? Tentu saja.
Mereka mendapat omelan panjang yang hanya bisa dengan pasrah Kafka iyakan. Shenka? Cewek itu tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Terdiam layaknya sebuah patung. Entah termakan dunianya sendiri atau memang enggan berhadapan dengan sang guru.
Setelah menghabiskan waktu yang lumayan, mereka akhirnya diperbolehkan keluar. Kafka melangkah dengan sangat pelan. Antara tidak ingin pergi ke kelas dan putaran kemelut dalam dirinya yang terlalu kencang. Beberapa kali dia terlihat mengacak rambutnya dengan helaan napas frustrasi, terlebih saat melihat lagi surat pemanggilan orang tua di tangannya.
Teresa beberapa kali pernah memenuhi panggilan seperti ini, terakhir bahkan wanita itu bersikap santai, tidak kesal atau marah-marah. Namun, surat yang sekarang pasti akan jauh membuat wanita itu kaget dibanding surat pertamanya dulu.
Kafka melirik pada Shenka yang malah mengikuti ritme pelannya di samping. Pandangan mereka bertemu--kebetulan saat itu Shenka sedang melihat padanya. Kafka tahu ada rasa bersalah di sana, mungkin gengsinya yang tinggi membuat cewek itu cepat-cepat memalingkan wajah.
"By ...," panggil Kafka dengan sisa nyawa yang bercecer setelah dikeruk oleh ketantruman Shenka dan omelan guru BK.
Shenka tidak menjawab, tapi Kafka paham sekarang bukan sesi ngambek seperti tadi lagi. Mungkin jin dalam diri Shenka sudah lepas lalu sekarang dia baru sadar jika perbuatannya menimbulkan masalah sebesar ini.
"Beritanya pasti nyebar, sekarang kamu udah lega karena semua orang udah tau soal hubungan kita?" Sesabar-sabarnya Kafka, dia tetap manusia juga. Setidaknya dia masih mengeluarkan kata-kata sindiran untuk sedikit mewakili rasa marahnya.
Andai Shenka tidak tiba-tiba ngamuk, andai yang datang tadi benar-benar guru, andai Kafka bisa mencegah Shenka pergi ke lapangan ... dari semua permasalahan di sekolah, dari dulu Kafka sudah bersumpah tidak akan melakukan kesalahan yang berhubungan dengan perempuan, itu pun konteks yang Teresa sangat benci. Sayangnya itu terjadi sekarang meski bukan Kafka lakukan sendiri secara sadar, tapi guru BK pun sampai mengucapkan kata mesum.
Mungkin tatapan Kafka terlalu dingin, hingga membuat Shenka gugup dengan bibir yang dia rapatkan kuat.
Kafka mengusap wajahnya kasar. Untuk menyadarkan diri jika tidak ada gunanya memarahi Shenka. Selain dia yang tinggi gengsi, salah-salah Shenka malah balik marah padanya. Pernah lihat jembatan kaca dalam series Squid Game? Menghadapi Shenka sama seperti itu, antara selamat atau mati benar-benar bergantung pada keberuntungan tebakan.
"Cara aku emang salah, aku paham kamu marah, tapi seenggaknya kasih waktu aku sebulan aja, By," papar Kafka dengan tangan yang memegangi kening.
"Aku nggak mungkin nyembunyiin selamanya, aku juga nggak nunggu buat ketahuan dulu, aku udah punya rencana buat bilang sendiri ke Mama. Tapi bukan sekarang-sekarang banget juga."
Shenka melirik pada Kafka, tapi cepat-cepat berpaling lagi saat mendapati tatapan datar dari cowoknya itu.
"Aku udah cari tempat kos yang deket, tapi semua penuh. Sama kayak kamu, aku juga nggak pengen jauh-jauh. Aku lagi nungguin orang yang mau pindah kos dari sana bulan depan, cuma ... dua minggu lagi, By." Meskipun Kafka tetap berkata pada Shenka dengan lembut, tapi erangan-erangan yang sesekali lolos dari bibir cowok itu menunjukkan jika dia benar-benar kesal.
"Kamu bisa ke kelas sendiri, 'kan?" ucap Kafka pada akhirnya
Shenka tak menjawab, tapi dia langsung berbelok pada koridor yang menuju kelasnya. Kafka menghela napas panjang sebelum melangkahkan kakinya yang berat ke kelasnya juga.
Baru sekitar 5 langkah, Kafka merasa baju belakangnya ditarik pelan.
"Kenapa?" tanyanya setelah berbalik
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Sister! [TAMAT]
Teen FictionKetika cewek yang lagi disayang-sayangnya adalah anak dari suami nyokap lo. Mau benci, tapi masih cinta. Mau cinta, dia adek lo. *** Orang bilang kebucinan Kafka pada Shenka itu sudah pada tahap akut. Kafka tak masalah dicap lebay. Baginya Shenka a...
![Hello, Sister! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/357898801-64-k944261.jpg)