"Kalo brifing dulu, nanti wajah kaget Kak Kafkanya nggak dapet. Itu penting tau buat bikin Mama berspekulasi kalo Kak Kafka juga baru tau aku pacaran, jadi Mama nggak bakal mikir Kak Kafka yang pacarnya aku itu."
Penjelasan Shenka saat Kafka bertanya setelah makan malam selesai. Meski nyaris membuat dia jantungan, harus Kafka akui jika ide cewek itu berhasil. Teresa bersikap biasa lagi padanya, kontras dengan kemarin yang penuh dengan kecurigaan.
"Shenka berangkat dulu, dah Mama." Shenka melambai-lambaikan tangan sebelum akhirnya memeluk pinggang Kafka saat cowok itu mulai melajukan motornya.
Kecepatan yang Kafka gunakan tidak terlalu kencang. Sengaja, agar dia bisa puas melihat Shenka yang memejamkan mata guna menikmati angin yang menerpa wajahnya. Dengan spion sebagai perantara, Kafka menyunggingkan senyuman.
"Cantik banget, By."
Senyum Shenka semakin cerah. Lekukan di pipinya membuat dia berkali-kali lipat lebih manis. "Kak Kafka juga ganteng banget," pujinya dengan suara yang lembut. Seperti beberapa bulan yang lalu.
Tangan kiri Kafka mengambil alih tangan Shenka dari perutnya, dia sedikit meremas pelan jemari-jemari itu lalu menggenggamnya. "Dingin ya?" Pagi ini cuaca memang agak mendung. Ditambah suhu rata-rata belakangan yang memang lebih rendah.
"Iya, jadi jangan dilepasin."
Kafka tertawa, begitu sih artinya dia yang menang banyak. Seisi dunia juga tahu bagaimana Kafka yang teramat menginginkan Shenka. Cewek itu tahu cara mengisi kehausan dari Kafka yang tengah 'kecintaan' itu. Jika Satya melihat, mungkin dia sudah memaki sambil menertawakan dengan puas.
Ah, Kafka lupa jika hubungan mereka belum membaik. Masalah terakhir itu memang lebih kompleks dibanding pertengkaran-pertengkaran mereka sebelumnya. Kafka belum punya solusi untuk itu, jadi untuk sementara biarkan Kafka menikmati momen-momen manis ini saja.
"Aku sayang Kak Kafka."
Kafka memalingkan muka ke sisi kiri sembari menahan senyumnya. "Aku juga."
Perputaran jarum penunjuk detik tidak terasa. Mereka tiba di parkiran sekolah tanpa 'merasakan' hambatan apa pun. Dengan telaten Kafka melepaskan helm serta merapikan rambut Shenka. Dia juga menautkan jemari mereka sebelum mengantar cewek itu ke kelasnya. Perjalanan indah yang mendapat dukungan dari suasana yang masih lenggang.
"Mau nitipin Shenka lagi?" tanya Katrin begitu mereka bertemu di depan pintu kelas.
"Nggak deh, gue angkat tangan. Dia gampang banget ngilang dari kelas." Katrin mengangkat kedua tangannya. Semakin lama duduk di samping Shenka, semakin dia mengenal tabiat cewek itu.
"Nggak, kali ini nggak bakal bolos lagi, 'kan?" tanya Kafka sembari menoleh pada Shenka. Cewek itu pun mengangguk-angguk penuh semangat.
Katrin menyipitkan mata penuh curiga. Shenka memang terlihat normal, tapi berani bolos meski masih berstatus anak baru membuat Katrin mengendus hal yang tidak biasa dari seorang Shenka.
"Pokoknya nitip dia, ya."
Kafka pun melambaikan tangan pada Shenka sebelum akhirnya pergi menuju kelasnya sendiri. Tangannya memutar-mutar kunci juga bibirnya yang terus bersiul sebagai tanda jika suasana hatinya benar-benar dalam keadaan yang sangat baik.
"Sorry," ucap Kafka saat hampir bertabrakan dengan seseorang. Begitu tahu siapa, raut Kafka sedikit bereaksi tidak enak.
Ada Elisa yang bahkan menolak melihat ke arah wajahnya. Cewek itu berekspresi datar dan melengos pergi. Kafka hanya melihat punggungnya dengan keinginan minta maaf dalam hati. Bagaimana pun kejadian waktu itu pasti terlalu memalukan pihak Elisa. Kafka bersalah padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Sister! [TAMAT]
Teen FictionKetika cewek yang lagi disayang-sayangnya adalah anak dari suami nyokap lo. Mau benci, tapi masih cinta. Mau cinta, dia adek lo. *** Orang bilang kebucinan Kafka pada Shenka itu sudah pada tahap akut. Kafka tak masalah dicap lebay. Baginya Shenka a...
![Hello, Sister! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/357898801-64-k944261.jpg)