39. Pembicaraan Keluarga

945 94 17
                                        

"Pacaran?" Raut wajah Teresa berubah 180 derajat. Nada suara yang biasanya lembut itu pun menghilang. Sorot matanya sulit dijelaskan, yang jelas Shenka belum pernah melihatnya hingga mulai beringsut gugup.

"Iya," jawab Kafka dengan wajah menunduk, mengakui penuh akan kesalahan.

Teresa menengadah, terdiam beberapa saat dengan bibir merapat seolah tengah menahan sesuatu. "Mama nggak pernah larang kamu pacaran, sama siapa pun termasuk kalau itu Shenka, tapi kenapa kamu ...."

Teresa menggantung ucapannya, tangannya memegang kepala yang terasa berat. Belum lama sejak Teresa menginterogasi Kafka soal ketertarikan pada Shenka, sekarang terbeber fakta jika anak yang dirinya percaya itu membohonginya.

"Kamu tinggal dengan orang yang kamu suka, kenapa kamu bikin Mama biarin hal itu terjadi, Kaf?"

Ada sebuah perjanjian yang selalu Teresa tanamkan pada Kafka dari dulu. Teresa tidak akan mengekang Kafka jika ingin melakukan hidup bebas dengan tindakan nakalnya. Berkelahi, merokok, menentang guru, bahkan jika hal ekstrim seperti minuman keras pun, Teresa tidak akan marah, karena itu semua akan merugikan Kafka sendiri, Kafka yang akan menanggung setiap konsekuensinya.

Namun, di balik kebebasan itu, Teresa selalu menekankan, "Jangan pernah merusak perempuan." Itulah kenapa waktu itu Teresa langsung bicara saat menemukan gelagat yang mencurigakan. Dia tidak ingin membuat celah yang bisa menjadi bencana di masa depan.

Teresa mengusap wajahnya kasar. "Dari kapan?"

Kafka menarik napas, memupuk keberaniannya untuk melihat Teresa yang jelas memaparkan kekecewaan itu. "Kafka pacaran sama Shenka dari sebelum Mama nikah."

"Kamu boongin Mama, selama itu?" Bibir Teresa terbuka. Isi pikirannya langsung berkelana jauh dengan segala kemungkinan-kemungkinan negatif yang menghampiri.

"Nggak gitu maksudnya, Ma," sela Shenka. Kalimat tidak lengkap Kafka akan membuat salah paham. Shenka tidak boleh membiarkan itu terjadi

"Kita putus kok, waktu pertama pertemuan keluarga itu, siangnya Shenka yang mutusin Kak Kafka. Shenka juga sengaja sembunyiin fakta kalo Shenka bukan anak Papa. Kak Kafka bukan nggak mau bilang sama Mama, tapi Shenka yang bikin situasi di sisi Kak Kafka sulit." Shenka meremas-remas bajunya.

"Shenka yang licik, jadi yang berhak dimarahin itu Shenka, bukan Kak Kafka. Shenka juga tau kok perjanjian Mama sama Papa soal salah satu dari kita yang harus keluar dari rumah seandainya ada yang tertarik sebagai lawan jenis. Shenka nggak mau dipisahin, makanya Shenka sembunyiin kalo pacaran sama Kak Kafka lagi. Jadi ini salah Shenka." Shenka menatap Teresa penuh permohonan. "Mama jangan marahin Kak Kafka ya?"

"Nggak, backstreet itu ide Kafka."

Shenka melirik Kafka dengan kening berkerut. Padahal dia sedang berusaha melindunginya, tapi kenapa Kafka justru menerjunkan dirinya sendiri?

"Nggak." Shenka menggeleng cepat. "Itu kemauan Shenka karena nggak mau dibuang ke rumah Nenek. Terus kejadian di sekolah juga salah Shenka yang nggak bisa ngontrol ego, Shenka pengen temen-temen tau Shenka itu pacar Kak Kafka, jadi Shenka bikin seolah ciuman, tapi itu beneran bukan ciuman. Shenka sumpah."

Teresa menatap Shenka, tatapannya sedikit melunak, dia juga menyunggingkan senyum lembutnya. "Sayang, kamu ke kamar duluan, ya?"

Raut wajah Shenka terlihat tidak terima, tapi dia tidak punya keberanian untuk membantah pada Teresa secara langsung. Shenka pun menatap pada Kafka, tapi cowok itu malah mengangguk. Shenka menggeleng dengan cepat, jika memang harus dimarahi, itu bukan Kafka sendiri.

"Shen, Papa juga perlu bicara sama kamu." Andra angkat suara di tengah Shenka yang sedang berpikir keras itu.

"Pa ...." Shenka terdengar memohon. Dia menggeleng-geleng. Shenka ingin bersama Kafka.

Hello, Sister! [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang