12. Rasa Kesal

3.3K 244 67
                                        

"Hah, capek banget." Shenka membungkuk seraya berpegangan pada lengan Kafka, dia terlihat berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah.

"Kenapa harus tiba-tiba ngelakuin itu?" Kafka mau tak mau juga ikut lari. Lari dari cowok yang tengah mengamuk-ngamuk kesal. Hal yang cukup melukai harga diri Kafka sebenarnya. Lebih baik adu jotos, tapi Shenka membuat situasinya serancu ini.

"Greget sama rambutnya yang udah kayak kanopi," jelas Shenka dengan alasan absurd yang sama. Dia yang sudah lebih tenang pun berdiri tegak dan menatap Kafka.

"Padahal dulu dia cakep pake style biasa, tapi karena ceweknya fans Korea, maksain banget jadi Oppa gitu, jatuhnya jamet banget 'kan?" Shenka meringis-ringis ngeri.

"Jadi bener masih suka stalk dia?" Nada suara Kafka terdengar tidak suka. Dia membela Shenka tadi karena tidak suka Shenka dipojokkan begitu, bukan Kafka benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi antara mereka. Cukup masuk akal juga jika Shenka memang sama seperti yang cowok itu tuduhkan.

Shenka menggeleng. "Dia 'kan selingkuh, aku nyadar dari perubahan dia itu."

"Jadi nggak pernah interaksi sedikit pun sama dia lagi?"

Shenka mengangguk-angguk. "Aku nggak sebodoh itu, apalagi aku yang disakitin, udah aku potong habis segala urusan tentang dia dalam hidup aku. Kak Kafka, manusia itu nggak boleh semasokis itu."

Kafka menghela napas. "Berarti emang dia yang aslinya bermasalah. Kok bisa punya mantan kayak gitu?"

Shenka memiringkan wajahnya, tangannya menunjuk pada wajahnya sendiri. "Kak Kafka sendiri, kok bisa punya mantan kayak gini?" Kelopak mata Shenka mengedip-ngedip.

Kafka seketika terdiam. Benar juga, Shenka jauh lebih abnormal.

Shenka pun terbahak dengan tangan yang menepuk-nepuk. "Aku tau Kak Kafka juga kesel sama aku. Setiap hari dalam pikiran Kakak itu ada nyesel, nyesel, nyesel. Tapi aku nggak mau minta maaf buat itu loh."

Shenka kemudian terdiam seolah baru menyadari sesuatu, ia pun mengendus tangan yang tadi dirinya gunakan untuk menjambak cowok itu. "Eh minyak rambutnya wangi."

Kafka segera meraih tangan Shenka lalu menggosok-gosok telapak tangan cewek itu pada kaosnya. Seolah menghilangkan sesuatu yang najis.

"Jadi, punya berapa mantan?"

"Tiga belas," jawab Shenka tanpa kesusahan.

"Sebanyak itu?" Kafka menatap tidak percaya.

"Apa yang Kak Kafka harapin dari anak cewek yang kekurangan kasih sayang orang tua kayak gini? Bahkan udah jadi gibahan umum kalo cewek yang kurang kasih sayang keluarga itu gampang jadi bucin bodohnya," ucap Shenka dengan nada yang mencibir. Shenka cukup sadar diri dan dia tak segan untuk mencela diri sendiri.

"Tapi nggak lama paling seminggu dua minggu putus, bahkan ada yang cuma tiga hari. Azril yang lama sih dan aku juga yang nembak dia."

Pergerakan Kafka yang menggosok-gosok tangan Shenka itu berhenti.

"Kak Kafka mau tau gimana dulu aku nem--"

"Kenapa harus nembak cowok duluan?"

Shenka yang semula memasang sorot antusias itu mengerjap-ngrrjap. "Cewek juga punya hak tau. Terus kayak yang aku bilang dulu tuh Azril keren banget, nggak jamet kayak sekarang."

Keren mana sama gue?

Kafka ingin menyuarakan itu, tapi tentunya tidak bisa dia lakukan. Ajaibnya, Shenka seolah bisa menebak isi kepala Kafka, cewek itu tiba-tiba memeluk lengan Kafka dengan cengiran khasnya.

Hello, Sister! [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang