34. Double Date

1K 96 18
                                        

Mata Shenka mengamati ujung sepatunya yang ia ketuk-ketuk. Bibirnya bersenandung kecil dengan sorot mata yang cerah. Meski harus menunggu, tapi jika itu adalah Kafka, Shenka tetap bahagia.

Tepat begitu Shenka keluar dari kelas setelah bel pulang berbunyi, Kafka sudah menyambut di sana dengan napas sedikit terengah, mungkin dia berlari. Dia bilang harus ke ruangan guru sebentar, masih ada masalah soal tugas-tugas seperti waktu itu. Dengan kesadaran penuh, Shenka mengajukan diri untuk menunggu di parkiran. Dirinya sudah cukup punya 'nama' di depan para guru berkat beberapa kali kebolosannya, jadi ikut dengan Kafka adalah opsi yang buruk.

Shenka sedikit mengerjap saat angin yang bertiup membuat rambutnya mengenai mata. Dia pun merogoh saku untuk mengambil karet lalu membuat cepolan sembari matanya menjelajah sekeliling yang sudah sepi. Ada sedikit kesan horor, tapi bagi Shenka yang pernah punya pikiran seandainya bertemu dengan hantu, ia akan bergerak seperti zombie gila lalu mengejar hantu itu. Shenka percaya diri dia akan jauh lebih mengerikan dari makhluk halus itu.

"Kak Kafka!" Senyum Shenka langsung tercetak, tangannya melambai-lambai pada cowok itu yang masih ada di kejauhan.

Kafka balas melambai sembari setengah berlari. "Lama ya?"

Shenka menggeleng-geleng dengan senyum cerah. Tangan Kafka terangkat untuk menyentuh cepolan dia yang berantakan tapi terlihat lucu.

"Kak Kaf, aku punya ide, gimana kalo Kak Kafka ajarin aku naik motor?" Shenka naik ke atas motor lalu memegang kedua stangnya. Dia bahkan mencondongkan tubuh layaknya pembalap di sirkuit.

"Itu kamu udah naik."

Shenka menggembungkan pipinya. "Maksud aku cara bawanya. Liat ini, aku pantes 'kan gini?"

"Emangnya mau ke mana? Aku anterin."

"Bukan mau ke mana-mana, tapi kalo bisa 'kan enak. Gampang pergi kalo ada kebutuhan gitu."

"Oh, jadi mau pergi tanpa aku." Kafka melipat tangannya dan berpura-pura kesal.

"Bukan gitu." Shenka memajukan bibir bawahnya. "Maksudnya kalo Kak Kafka--"

"Aku anterin ke mana pun kamu pergi," sela Kafka dengan lembut.

"Iya, tapi--"

"Aku ngerti, cewek juga perlu mandiri biar nggak ketergantungan sama cowok, 'kan? Tapi By, setelah selama ini aku liat Mama apa-apa sendiri, aku jadi lebih setuju sama aturan kolot itu. Bukan maksudnya kamu jangan mandiri, tapi selama ada aku, kamu bisa bergantung sama aku. Toh aku juga nggak bakal ke mana-mana, sebisa mungkin aku bakal selalu ada buat kamu. Jadi ...."

Kafka mengangkat tubuh Shenka lalu memindahkannya pada jok belakang. "Duduk manis aja di sini ya?"

Shenka menyipitkan matanya, tindakan Kafka barusan cukup membuatnya kaget.

"Pernah denger nggak By, kalo belajar motor itu harus jatuh dulu baru bisa."

"Kata siapa?" tanya Shenka skeptis.

"Banyak yang bilang. Lagian Mama sama Papa nanti juga nggak bakal izinin kamu pergi sendiri. Sayang dong, udah jatuh dari motor tapi usahanya nggak kepake."

Shenka menghela napas. "Oke."

Kafka memasangkan helm pada Shenka juga dirinya. Setelah itu dirinya naik lalu menarik tangan Shenka untuk memeluk perutnya.

"Kak Kafka bakal anterin ke mana pun aku mau?" tanya Shenka yang meletakkan dagu pada bahu Kafka.

"Tentu."

"Kalo gitu double date sama Manda, mau?"

"Ayo."

Shenka tersenyum lebar sembari memeluk Kafka lebih erat.

Hello, Sister! [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang