20. Kesabaran yang Habis

2K 163 36
                                        

Shenka melepaskan helmnya lalu menyerahkan pada Kafka dengan sedikit ragu. Bukan tanpa alasan nyalinya menciut, Kafka sama sekali tidak bicara padanya, bahkan sepanjang perjalanan dia mengemudi dengan kecepatan tinggi. Wajah penuh luka dengan ekspresi yang datar, tentu itu cukup menakutkan. Seaneh apa pun tingkah yang sudah Shenka lakukan selama ini, dia tetap punya perasaan yang dimiliki manusia dengan lengkap.

Kafka menyimpan helmnya di atas motor dengan asal lalu lanjut berjalan menuju rumah. Shenka sempat menahan napas saat cowok itu lewat di hadapannya sebelum akhirnya mengekor di belakang. Wajahnya sedikit menunduk sebagai bentuk rasa sesal.

Kalian pernah dengar suara kunci yang diputar bisa membuat jantung menjadi tegang? Shenka sedikit merasakan hal itu. Mungkin karena orang yang membuka kunci sedang dalam keadaan marah.

Rumah yang sepi semakin terasa dingin karena aura yang Kafka pancarkan. Dari geriknya, cowok itu terlihat ingin langsung menuju kamar. Shenka segera mempercepat langkah lalu menahan tangan dia.

"Duduk dulu," pinta Shenka dengan suara yang tidak terlalu keras.

Untungnya Kafka mau menurut. Tujuan kemarahannya memang bukan Shenka, meski Shenka juga sadar diri untuk ikut bertanggung jawab. Setidaknya atas luka-luka yang Kafka terima. Cepat-cepat Shenka mengambil kotak P3K yang ada di rak tak jauh dari sana.

Shenka pun mengambil duduk di sisi kiri Kafka dengan posisi menyamping, menghadap cowok itu. Meski Shenka susah diandalkan dan cenderung bodoh, pertolongan pertama adalah hal yang paling Andra tekankan untuk Shenka pelajari sedari kecil, bahkan sampai menggunakan nakes langsung. Mungkin karena sering ditinggalkan sendiri, Andra berpikir Shenka setidaknya bisa menangani hal seperti terjatuh dari sepeda tanpa menunggu bantuan orang lain.

Shenka  menuangkan cairan antiseptik pada kapas. Matanya mengarah pada wajah Kafka yang menatap lurus ke depan--enggan menghadapnya. Shenka memilih mana luka yang perlu dibersihkan lebih dulu sebelum mengulurkan tangannya.

Sisa beberapa centi kapasnya menyentuh luka Kafka, tapi cowok itu menepis tangannya. Tidak terlalu kasar, tapi cukup membuat Shenka sedikit kaget. Menilik dari bagaimana sifatnya, Shenka melupakan hal itu tanpa rasa tersinggung. Dia kembali mengulurkan tangannya untuk menjangkau luka itu dan ternyata ditepis lagi.

"Nanti lama sembuhnya kalo cuma didiemin."

Kafka tak membalas. Dia hanya menangkap tangan Shenka yang masih terangkat di udara. Kafka menggenggamnya lalu membawa turun.

"Ini semua rencana kamu?" Setelah sekian lama, akhirnya Kafka bersuara. Nadanya dingin, pertanda kemarahan belum usai sepenuhnya.

Shenka hendak menarik tangannya, tapi Kafka menggenggam lebih erat tanpa membuat rasa tersakiti. Lagi-lagi Kafka masih memperhatikan hal-hal kecil itu untuk Shenka.

"Jawab, Shen."

Shenka menghela napas. "Iya."

Kafka menoleh dan menatap cewek itu. Sorot matanya terlihat rumit. Kebingungan serta rasa tidak menyangka yang lebih mendominasi.

"Kenapa?" tanyanya menuntut penjelasan.

Shenka menunduk untuk mengambil kapas baru. Tangan kanan yang ditahan bukan alasan Shenka malas menggunakan tangan kirinya. Dia bahkan menggunakan gigi untuk membuka tutup antiseptiknya.

"Bukannya Kak Kafka tau aku benci Elisa?"

Wajah itu kembali mendongak. Mata mereka saling bertemu dan Kafka sama sekali tidak menemukan rasa bersalah sedikit pun di sana. Kafka tahu Shenka memang seperti itu, tapi dia tetap saja merasa tidak habis pikir jika dihadapkan dengan ke-luar biasaan cewek itu.

Hello, Sister! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang