22. Kedamaian Kecil

1.9K 152 49
                                        

Shenka mengambil ponselnya dari tangan Kafka. "Nanti gue telepon lagi ya, Man," ucapnya.

"Nggak usah! Lo bukan temen gue!"

Tut.

Shenka pun hanya mengangkat bahu lalu mengantongi benda pipih itu. Dia kembali menatap Kafka dengan senyum yang dia pancarkan.

"Eu, Kak Kafka udah terlanjur di sini, mabal yuk?" Shenka mengedip-ngedipkan matanya dengan lucu. Senyum yang dia buat juga bisa menarik empati orang untuk menuruti permintaannya. Entah sengaja atau tidak, air mata yang masih membasahi pipinya juga menambah kesan drama untuk dikasihani.

"Nggak, kamu udah terlalu banyak bolos." Kafka menggunakan ibu jarinya untuk menghapus basahan-basahan itu.

"Aku nggak suka sama pelajarannya."

"Semua pelajaran kamu benci."

Shenka memamerkan deretan giginya karena memang yang diucapkan Kafka itu benar adanya.

"Sekarang ke kelas."

Shenka mengerucutkan bibirnya.

"Setelah pulang sekolah kita jalan."

Seperti sulap, wajah Shenka kembali ceria lagi. "Oke!"

Cewek itu meraih tangan Kafka dan menggenggamnya. "Ayo, anterin aku ke kelas, kalo nggak diawasin takutnya aku bakal bolos lagi."

Shenka pun melangkah pergi dengan menarik tangan Kafka itu.

oOo

"Eh, hujan?" Shenka menengadahkan wajahnya ke atas langit. Telapak tangannya pun terlentang untuk menerima tetesan-tetesan yang jatuh.

Kafka menepati janjinya. Mereka baru saja keluar dari kedai es krim yang rencananya mereka akan lanjut pergi ke tempat panjat dinding waktu itu. Shenka bilang dia ingin belajar lagi.

"Kayaknya bakal gede," ucap Kafka setelah melihat awan yang begitu hitam. Meski baru gerimis tak lama lagi hujan deras akan terjadi. Mereka akan kehujanan di jalan jika memaksa pergi sekarang.

Kafka sedikit menarik tubuh Shenka agar ternaungi kanopi toko. Cewek itu tak merasa terganggu, dia tetap menadahkan tangannya dengan wajah mendongak, berbinar.

"Bukannya nggak suka hujan?" Kafka mengingat momen ketika Shenka datang ke kamarnya malam-malam itu.

"Aku benci hujan yang di malam hari, kalo siang aku suka."

"Bisa gitu?"

Shenka mengangguk-angguk dengan senyum yang kian lebar. Dia menatap ke arah Kafka. "Aku pengen hujan-hujanan, tapi itu nggak baik buat luka-luka Kak Kafka. Jadi, aku bakal nahan diri. Menurut Kak Kafka sebaiknya kita ke mana?"

Kafka melihat sekitar. "Mau roti?" tanya Kafka setelah melihat di sisi kiri kedai es krim itu ada toko roti.

"Ngisi perut lagi?" Shenka tertawa kecil. "Tapi ayo, aku bakal nurutin keinginan Kak Kafka."

Shenka menggenggam tangan Kafka lalu membawanya berlari menembus gerimis untuk sampai di toko yang Kafka masuk.

"Wah, kayaknya aku perlu olahraga. Payah banget lari segitu aja ngos-ngosan," ucap Shenka yang terengah-engah. Dia berjinjit lalu menepisi tetesan-tetesan air di atas rambut Kafka. Senyuman yang manis menjadi perpaduan yang berhasil membuat Kafka terdiam akan perlakuan sederhana itu.

Shenka yang manis, yang penuh pengertian.

Kafka pun mengangkat tangannya lalu ikut membersihkan air yang ada di rambut Shenka. Tetesannya tidak terlalu banyak, tapi meskipun sudah tidak ada, Kafka tetap mengusap-usapnya. Perasaan Kafka menghangat, ini seperti momen beberapa bulan ke belakang, di mana mereka masih menjadi sepasang kekasih yang selalu bahagia setiap harinya.

Hello, Sister! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang