27. Perubahan Shenka

2.1K 159 52
                                        

Meskipun sang ayah telah tiada dan membuat luka kehilangan yang sangat besar, hidup tetap berjalan. Shenka menyunggingkan senyuman, agar ibunya yang juga punya luka yang sama itu tidak semakin merasa berat.

Ibunya tentu masih sibuk bekerja. Shenka tidak akan pernah memprotes waktu kebersamaan mereka yang begitu terbatas. Dia tahu ibunya menyayangi dia, sangat. Dan Shenka pun begitu.

"Mama mau pergi sekarang?" tanya Shenka yang sekarang sudah berusia 7 tahun. Dia menatap ibunya yang sudah rapi.

Mereka tidak punya pembantu yang menetap 24 jam. Hanya datang siang hari untuk beres-beres dan masak, atau menemani Shenka sampai Anggi datang ketika dia lembur. Namun, untuk hari ini pembantu itu berhalangan hadir karena sakit.

Anggi berjongkok dan menatap putrinya. "Iya, Sayang. Om Andra masih kejebak macet, tapi bentar lagi sampe kok. Kamu nggak papa nungguin bentar?"

Shenka langsung mengangguk tanpa keberatan.

"Maaf ya, harusnya Mama yang anterin kamu ke rumah Nenek, tapi jadwal penerbangan Mama nggak bakal cukup."

Gadis itu tersenyum. "Sesen nggak papa. Sesen bakal nunggu Om Andra."

Anggi mendekat lalu mencium kening Shenka. "Mama sayang Sesen."

"Sesen juga."

Shenka pun mengantar Anggi sampai di ambang pintu. Anggi melarang mengantar sampai mobil karena cuaca sedang gerimis. Shenka melambaikan tangan hingga mobil itu tidak terlihat lagi.

Shenka menutup pintu, memutar kuncinya lalu duduk di ruang tengah bersama satu ransel yang sudah disiapkan. Mamanya pergi dinas ke Bali selama 1 minggu. Setelah selesai, dia bilang akan menjemput Shenka dari rumah nenek. Dia juga menjanjikan banyak oleh-oleh untuk Shenka nantinya.

Hujan semakin deras, suara petir mulai bersahutan. Shenka tidak takut akan bunyi-bunyi keras itu, jadi dia masih bisa bersantai dengan membuka buku gambarnya. Dengan kedua kaki yang selonjoran di atas karpet, Shenka mulai asyik memainkan pensil-pensil warnanya.

Satu gambar, dua gambar, Shenka mulai terlihat lelah. Dia menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 10.

"Sebenarnya sebentar itu sampe angka berapa?" Shenka menghela napas kecil. Dia sudah sangat mengantuk, tapi jika tertidur, dirinya takut tidak mendengar Andra datang nanti. Shenka 'kan harus membukakan kunci.

"Sebentar lagi," ucap Shenka sembari menepuk-nepuk kedua pipinya agar tetap terjaga.

Lima belas menit berlalu, ketukan di pintu yang Shenka nantikan pun terdengar. Shenka segera berlari, dia memutar kunci lalu membukakan pintu. Senyumnya sudah terukir untuk menyambut Andra. Namun, sebelum dia bertanya tentang kenapa Andra basah kuyup dengan beberapa noda merah di bajunya, tubuh Shenka sudah terlebih dulu dipeluk pria itu.

"Sen, Mama udah nggak ada."

oOo

Emosi Shenka terguncang hebat. Satu bulan pertama setelah kepergian ibunya bahkan dia tidak berkata sedikit pun. Dia sering mencari tempat sepi lalu menangis sendirian.

Andra, yang sekarang bertanggung jawab sebagai walinya pun amat khawatir. Berkali-kali dia mencoba membawa Shenka ke psikolog, tapi gadis itu hanya menggigit tangannya lalu kembali bersembunyi di tempat yang sepi.

Suatu hari, Andra pun mengubah rencana, dia yang mendatangkan psikolog itu pada Shenka. Kalimat pertama Shenka setelah sekian lama itu pun terdengar.

"Aku cuma pergi sebentar, Papa nggak ada. Aku diam nunggu, Mama juga nggak ada. Aku udah jadi anak baik, kenapa mereka malah pergi?"

Hello, Sister! [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang