Kafka tinggal di rumah lama untuk beberapa minggu, sampai akhirnya dia bisa pindah ke kosan yang dia incar. Jaraknya sekitar 500 meter. Untuk pagi, sembari menjemput Shenka, Kafka sarapan lengkap dengan keluarga mereka. Siangnya, saat mengantar Shenka pulang, Bibi akan membekalkan lauk untuk makan siang juga malam. Kafka dilarang mampir ke rumah kalau bukan akhir pekan atau saat Teresa dan Andra ada di rumah.
Teresa memasang banyak pagar untuk hubungan Kafka dengan Shenka. Meskipun banyak gerak yang terbatasi, tapi Kafka berterima kasih karena fungsi lain dari pagar itu untuk menjaga. Keamanan untuk Shenka terjamin.
Ada kalimat yang selalu Kafka ingat dari Teresa. Tanggung jawab itu bukan selamanya soal kebaikan diri, bisa jadi itu puncak keegoisan untuk membuat orang yang tak ingin terikat dalam kesengsaraan.
Meskipun Kafka tidak ragu soal perasaannya, ia tidak akan memaksakan perasannya sedikit pun. Biar Shenka mendapat keyakinan sendiri, jika Kafka orang yang tepat untuk dirinya.
Mengenai gadis itu, dia tetap ajaib seperti biasa. Masih sulit ditebak, meski sekarang lebih bisa dibujuk ketika akan meledak di muka umum, bisa sedikit ditahan.
Di awal masuk kelas 12, dia pun setuju untuk berobat ke psikolog, keinginan yang Andra usahakan dari dia kecil akhirnya terealisasi. Meski tentunya dengan syarat, harus diantar Kafka dan pulangnya mereka harus diizinkan jalan-jalan dulu.
"Ini salah Papa karena nggak ngasih aku waktu buat nge-date, jadinya harus bayar dokter mahal, 'kan. Rasain, uangnya habis!" Mata mendeliknya begitu khas saat dia berkata seperti itu.
Waktu berlalu, mereka pun membuktikan jika masa SMA itu masa termanis untuk percintaan. Kenangan manis yang kemudian berlanjut ke masa perkuliahan. Meski ada sedikit stress di persiapan karena mereka sama-sama bukan orang yang menonjol di akademik.
Orang tua mereka pun tahu jelas soal itu, jadi saat selesai ujian semester begini, mereka akan memberikan hadiah seperti staycation--tentu dengan personil keluarga yang lengkap.
"Kak Kafka nggak mau topless? Agak ribet nggak sih kalo pake kaos gitu?"
Setelah sarapan, mereka memutuskan untuk berenang di kolam hotel. Hanya Kafka dan Andra sebenarnya, Shenka tidak mau dingin-dinginan jadi dia akan menemani Teresa menjaga Kanezka--adik laki-laki mereka yang baru bisa berjalan.
"Ribet apa mau liat?" goda Kafka pada Shenka yang terang-terangan melihat ke arah perut Kafka yang masih terbalut kaos berwarna hitam.
"Enggak kok," ucap Shenka dengan mata yang enggan beranjak. Kening dia sedikit berkerut-kerut, seolah menebak-nebak seperti apa yang ada di balik kain itu.
"Yah, padahal--"
"Boleh?" Shenka langsung menatap Kafka penuh binar.
Kafka pun sontak tertawa. Tangannya memegangi kepala Shenka. "Nyebut By, biar setan mesumnya keluar."
Shenka mendesis sembari menepis tangan Kafka itu. "Bukan mesum tau, aku cuma mau liat yang rajin nge-gym itu ada hasilnya apa nggak. Aku cuma menimang uangnya itu hilang sia-sia apa nggak."
Kafka sedikit menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan Shenka. "Yakin?"
Shenka menggembungkan pipinya. "Kalo nggak mau ngasih liat, nggak usah!"
Kafka mengacak rambut Shenka gemas. "Nanti aku kasih liat."
Shenka melipat tangannya, matanya menatap Kafka sekilas sebelum membuang pandangannya asal, seolah tidak peduli. "Kapan?"
"Setelah kita nikah."
Mata Shenka seketika menatap Kafka dengan sinis. Kafka tertawa untuk ke sekian kalinya. Dia menusuk-nusuk pipi Shenka yang kini memasang raut cemberut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Sister! [TAMAT]
Teen FictionKetika cewek yang lagi disayang-sayangnya adalah anak dari suami nyokap lo. Mau benci, tapi masih cinta. Mau cinta, dia adek lo. *** Orang bilang kebucinan Kafka pada Shenka itu sudah pada tahap akut. Kafka tak masalah dicap lebay. Baginya Shenka a...
![Hello, Sister! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/357898801-64-k944261.jpg)