29. Nasihat Mama

1.8K 138 26
                                        

Masa Sekarang

Kafka dengan hati-hati mengusap air mata Shenka. Cewek yang masih terisak-isak itu juga berusaha menghentikan tangisnya. Tidak ingin membuat kesedihannya semakin berlarut-larut.

"Pulang sekarang ya? Jangan kabur-kaburan lagi."

Shenka menunduk, tidak menjawab.

"Shen?" panggil Kafka dengan lembut.

"Kak Kafka nggak marah?" Cewek itu bersuara dengan nada takut-takut.

"Kalo kamu kabur lagi, aku beneran bakal marah."

Isakan Shenka malah kembali terdengar. Kafka kebingungan, dia melirik Amanda yang ternyata sudah melotot memberi peringatan. Kafka semakin bingung. Rasanya tidak ada yang salah dengan ucapannya barusan.

"Maksudnya kalo lo kabur tanpa sebab, brocon lo ini bakal marah," jelas Amanda yang geram akan kurang pekanya seorang Kafka. Shenka tidak kabur-kaburan itu ibarat candi Borobudur yang masuk ke dalam keajaiban dunia di belakang Atlas. Meski Shenka bersumpah Kafka cinta sejatinya, sifat yang sudah mendarah daging pada cewek itu tidak serta-merta menghilang.

"Udah sana pulang, selesain permasalahan kalian di rumah." Amanda pun berlalu masuk lalu menutup pintunya.

Kafka kembali menatap Shenka lalu menggenggam tangan cewek itu. "Kita pulang. Aku sama sekali nggak marah. Ya?"

Shenka perlahan mengangkat wajahnya. Menatap Kafka yang tersenyum lembut. Shenka terpejam untuk mengeluarkan semua air mata yang masih tergenang. Dia mengusap dengan punggung tangannya sebelum mengangguk.

oOo

Kafka tentu langsung mengabari Teresa jika sekarang Shenka sudah baik-baik saja bersamanya--setidaknya Shenka tidak dalam kondisi mengamuk dan ada dalam pengawasan Kafka. Itu lebih dari kabar yang bisa membuat dada menjadi lega. Semula orang tuanya berniat izin dari kantor, tapi sekarang mereka bisa melanjutkan pekerjaan dengan tenang.

"Jaga Shenka bener-bener ya, Kaf," pesan Teresa sebelum mengakhiri percakapan mereka di telepon.

Kafka membawa satu gelas air minum. Dia berjongkok di depan Shenka yang sebelumnya dia dudukkan pada sofa. Sejak pulang dari rumah Amanda, Shenka memang lebih banyak diam. Tidak banyak mengeluarkan suara pun bertingkah yang macam-macam.

"Minum dulu." Kafka menggenggamkan gelasnya pada tangan Shenka. Raut cewek itu tidak terlihat berminat, tapi karena Kafka yang terus meyakinkan dengan senyuman, Shenka akhirnya meneguk air itu.

Tangan Kafka terulur untuk merapikan rambut-rambut di wajah Shenka yang kebanyakan menempel karena air mata yang sudah mengering. "Kamu pasti capek. Mau aku pesenin makan?"

Shenka menggeleng.

"Tapi kamu belum makan dari pagi."

Shenka tetap menggeleng.

"Kalo buah gimana? Kamu mau?"

Shenka menghela napas. "Puk-puk kepala aku," pintanya.

Kafka pun pindah ke samping cewek itu lalu melakukan apa yang dia minta. "Mau sekalian dipeluk?" Kafka hanya asal bicara, tapi begitu melihat Shenka yang mengangguk, dia tentu tidak melewatkan kesempatan.

Kafka tersenyum lalu merengkuh tubuh Shenka ke dalam pelukannya. Membaringkan wajah Shenka ke dada sementara tangannya terus menepuk-nepuk pelan kepala cewek itu.

Hello, Sister! [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang