42. After Rain (tamat)

2.1K 129 45
                                        

Hujan sudah reda dari tadi, bahkan pertandingan sepak bola pun sudah lama berakhir. Kafka berdalih tidak ingin membangunkan Shenka, meskipun alasan sebenarnya karena dia senang bisa berlama-lama. Kapan lagi Kafka punya waktu lama dengan dia, meskipun Shenka hanya diam dan sesekali mengeluarkan dengkuran halus.

Sayangnya momen itu harus segera diakhiri saat Teresa memberi kabar jika mereka sudah sampai di rumah, yang maksud sebenarnya adalah perintah agar anak gadisnya segera dikembalikan. Dengan berat hati, Kafka pun membangunkan Shenka.

"Sekarang udah jam 10, ayo pulang."

Shenka yang masih mengumpulkan kesadarannya itu mengangguk-angguk dengan mata yang masih setengah terbuka.

"Mau cuci muka dulu?"

Shenka mendongak. "Aku ada ileran?" tanyanya dengan mata yang masih berusaha mengerjap-ngerjap. Raut polosnya terlihat lucu.

"Nggak ada kok."

"Kalo gitu nggak usah." Shenka pun bangkit berdiri, sikapnya yang terburu membuat keseimbangan tubuhnya kacau dan nyaris terjerembab jika Kafka tidak segera menangkapnya.

"Hati-hati."

"Kaki aku kayaknya kesemutan." Shenka tidur dengan posisi meringkuk, sarafnya pasti terjepit.

Kafka tidak bisa menunggu lama. Selain sudah ditunggu Teresa, jam malam untuk tamu pun sudah hampir habis. Jadi tentu dia memberikan penawaran. "Aku gendong aja kalo gitu?"

Mata yang semula masih sayu itu seketika membola. Tawaran luar biasa yang tentu akan Shenka terima dengan dada berbunga. "Kenapa aku nggak pernah kepikiran ide ini dari dulu?" gumamnya sekaligus menjelaskan kelicikannya yang transparan. Shenka merentangkan kedua tangannya. Tanda-tanda orang bangun tidur itu hilang tak berbekas.

Jadi dia ingin digendong ya.

Hubungan mereka tidak pernah ditentang, tapi banyak aturan yang orang tua mereka berikan seperti tidak untuk pacaran yang berlebihan. Mereka menurut, bahkan melepas pegangan tangan saat di depan orang tua. Tenang saja Shenka juga sudah mengerti hingga tidak pernah timbul permasalahan soal itu. Hal yang membuat Kafka yakin jika cewek itu sudah tumbuh dewasa meski tidak selalu ditunjukkan.

"Kayaknya kaki kamu udah baik-baik aja," ucap Kafka melihat kaki Shenka yang kini bisa menopang tubuhnya dengan tegak.

Tanpa aba-aba Shenka langsung menjatuhkan dirinya, untung Kafka bisa langsung menahan karena sangat sesuai dengan prediksinya. "Iya-iya, sini gendong."

Shenka dengan senang hati naik saat Kafka memberi aba-aba. Ia melingkarkan tangan dengan erat lalu menumpukan dagunya pada bahu kiri Kafka. Aroma dari parfum yang cowok itu kenakan membuat senyum Shenka semakin lebar. Sementara itu Kafka hanya bisa geleng-geleng kecil.

Jarak rumah dan kosan Kafka tidak terlalu jauh, tapi untuk zaman sekarang terlebih di Indonesia, sudah jarang sekali orang yang mau berjalan kaki. Namun, untuk Kafka, ini bisa menjadi momen untuk bisa memperpanjang kebersamaan mereka.

"Waaa ... seger banget." Shenka menengadahkan wajah dengan tangan merentang. Udara terasa bersih karena tidak ada debu yang berterbangan, tidak ada angin, tapi jejak-jejak basah itu menyebarkan sensasi sejuk dengan caranya sendiri.

"By, jangan gitu, jatuh."

Cewek itu malah cekikikan, dia kembali memeluk leher Kafka dengan patuh. "Udaranya seger, 'kan?"

Kafka mengangguk. "Kamu kedinginan?"

"Nggak, aku bilang seger. Ini tuh enak banget." Shenka sedikit bergerak-gerak maju, hingga dia bisa menempelkan pipinya pada pipi Kafka.

Hello, Sister! [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang