37. Malu?

947 76 41
                                        

Shenka menarik tangannya ketika Kafka berhenti di belakang sekolah. Dia juga mundur satu langkah, membuat jarak dari cowok itu. Matanya menatap tajam dengan kedua tangan yang mengepal, sangat jelas jika ia menahan kekesalan.

"By--"

"APA?!" sela Shenka. Dagunya terangkat tinggi.

"KAK KAFKA MAU BILANG AKU JANGAN KAYAK GITU LAGI?! KAK KAFKA TUH YANG SALAH! BUKAN AKU!"

"By--" Kafka mencoba meraih tangan Shenka, tapi cewek itu menepis kasar.

"KAK KAFKA YANG SALAH!" Shenka menghentak-hentakkan kaki kanannya dengan kuat.

"Iya, aku salah, maaf karena aku malah ngobrol sama Kak Angel tadi. Bel udah bunyi, kita ke kelas ya?" bujuk Kafka. Meskipun belakang sekolah ini sepi, tapi di jam-jam segini biasanya ada guru yang patroli untuk menyisir murid yang terlambat.

"AKU BUKAN CEMBURU!" Mata Shenka memerah, bahkan mulai terlihat berkaca-kaca.

"AKU JUGA BISA DEWASA, AKU NGGAK BAKAL MARAH CUMA KARENA KAK KAFKA NGOBROL SAMA CEWEK LAIN! AKU JUGA BISA BEDAIN MANA YANG HARUS AKU CEMBURUIN!" Shenka menghentak-hentakkan kakinya lagi dengan lebih kuat. Kafka khawatir karena itu pasti akan membuat kaki Shenka sendiri yang sakit.

"KAK KAFKA BAHKAN NGGAK TAU SALAHNYA DI MANA!" Cairan yang semula hanya lapisan tipis berkilau itu mulai bergerumbul hingga menjadi tetesan yang melintasi pipinya yang memerah karena amarah.
Shenka menangkup wajah, beriring dengan suara isakannya yang terdengar.

Kafka benar-benar kebingungan. Ia ingin memeluk untuk menenangkan meski memang dirinya juga tidak tahu apa salahnya, tapi sekarang Shenka benar-benar tidak bisa disentuh, dia terus menepis uluran tangannya.
Kafka tidak apa-apa jika Shenka ingin mengamuk, tapi situasi sekarang tidak baik.

"Aku bodoh, aku bahkan nggak sadar nyakitin kamu, maafin aku. Akan aku perbaiki."

"APA YANG MAU DIPERBAIKI, SALAHNYA AJA NGGAK TAU!" Shenka menatap Kafka tajam dengan air mata yang tidak mau berhenti turun.

"Kamu bisa bilang. Aku bener-bener minta maaf, ya?" ucap Kafka dengan lembut. Shenka sedikit luluh, meski penandanya dengan api di mata dia yang semakin membara-bara.

"KAK KAFKA ITU NGGAK MASUK AKAL!" Kali ini isakan Shenka itu diselingi dengan erangan.

Kafka mengangguk-angguk meski tidak mengerti, dia takut hanya akan semakin memprovokasi jika menjawab.

"BUKAN GITU!"

Kafka memejamkan mata, dirinya salah langkah ternyata. "Aku nggak masuk akal gimana, By?"

"ORANG PACARAN ITU DARI YANG SEMULA ASING JADI DEKAT! BUKAN MALAH BERJARAK!"

Kepala belakang Kafka rasanya berat sekali. Apa Shenka merasa berjarak karena tadi Kafka melepaskan tangannya?
Angel itu benar-benar dekat dengan Teresa, Kafka khawatir jika cewek itu melapor pada mamanya.
Kafka memutuskan maju pun karena tahu jika Shenka kurang menyukai cewek itu.
Sebenarnya apa yang Shenka tangkap dari semua itu?

"KENAPA NGGAK BOLEH PEGANGAN? KENAPA NGGAK BOLEH CIUM!"

"Bukan nggak boleh, By," ucapnya dengan lemah. "Kamu tau kita harus hati-hati--"

"Backstreet?" Shenka menyela. Dia menunduk dengan tangan yang meremas-remas. "Aku tau, aku ngerti, aku juga terima lapang dada, aku tahan keinginan aku buat tunjukkin ke dunia kalo aku punya pacar yang luar biasa. Aku juga berusaha buat nggak egois." Shenka kembali mendongak menatap Kafka. Sorot kemarahannya bercampur dengan riak terluka.

Kafka salah lagi, ini bukan sekedar Shenka kesal karena tidak suka Angel. Kafka mencoba berpikir keras tentang apa saja yang terjadi belakangan itu

"TAPI KAK KAFKA ITU PENGEN BACKSTREET BIAR NGGAK KETAHUAN SAMA MAMA-PAPA, ATAU ...." Shenka menggigit bibirnya yang bergetar. Tatapannya perlahan berganti nanar dengan deru napas yang makin kasar.

Hello, Sister! [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang