Setelah mengeringkan tangan, Shenka cukup lama mengambil waktu di depan cermin. Memakai ulang pelembab bibir, menghilangkan bulu mata yang jatuh di pipi, hingga merapikan rambut. Saat semuanya terlihat cantik, barulah dia undur dari cermin itu dengan wajah yang penuh percaya diri. Hari ini harus masuk ke dalam list kencan terbaik dalam hidupnya.
"Eh nanti apa ganti aja ya filmnya? Kasian juga Manda kalo nonton romance. Horor juga oke, aku bisa peluk-peluk Kak Kafka nanti," gumam Shenka yang diikuti cekikikan kecilnya. Tangannya terulur untuk membuka pintu.
Orang dulu berkata untuk jangan dulu senang atas sesuatu yang belum terjadi. Entah kutukan apa yang coba langit kirimkan padanya, karena seolah ingin menodai suasana indah hatinya saat ini, Tuhan malah mengirimkan Vania ke hadapannya.
Benar, pacar Azril jalur menyelingkuhi Shenka itu. Segala hal yang berhubungan dengan cewek itu, bukan sesuatu yang akan membuat suasana hati Shenka menjadi baik. Termasuk hari ini.
"Lo!" pekik Vania dengan telunjuk yang mengacung, mendahului Shenka yang hendak memprotes atas jalannya yang terhalangi.
Vania mendengkus besar dengan wajah yang kesal. Mirip banteng marah dengan asap yang mengepul. "Bener-bener ya lo itu!" ucapnya lagi dengan nada yang penuh meremehkan.
Dibanding semua cewek yang pernah berurusan dengan Shenka, Vania yang paling Shenka benci. Meskipun Shenka tidak akan mendeklarasikan perdamaian juga, tapi seharusnya cewek itu sekali saja minta maaf pada Shenka bukan? Namun, sifat kurang ajar dia bahkan membuat seorang Shenka geleng-geleng kepala.
"Minggir." Ini hari bahagia, meski sedikit bernoda, Shenka lebih memilih menahan diri agar tidak menghancurkannya. Jadi, dia pun berucap dengan nada senetral mungkin. Untuk kali ini saja, tidak apa-apa, akan Shenka maafkan kelancangan cewek itu.
"Lo bisa berhenti nggak sih!"
Tubuh Shenka hampir melewatinya, tapi lengannya tiba-tiba ditarik lalu dihempas hingga punggung Shenka mengenai kusen pintu. Shenka sedikit mengaduh sakit. Hal itu juga ditunjukkan dengan tatapan sinis yang ia layangkan pada Vania.
"Berhenti stalk Azril! Lo seenggak punya harga diri itu sampe terus-terusan ganggu orang yang udah jelas nggak mau sama lo!" Telunjuk Vania mendorong-dorong bahu Shenka.
"Siapa yang ganggu lo?" Meski Shenka masih bisa menahan diri dengan tidak menaikan nada suaranya, tapi gigi yang merapat cukup membuktikan jika kesabaran di dalam dirinya sudah masuk ke fase darurat.
"Lo datang ke sini karena tau gue sama Azril janjian di sini. Sumpah ya, nggak ada orang yang segila lo!"
Shenka menepis tangan Vania dari bahunya.
"Nggak usah kegeeran, pacar jamet lo nggak sekeren itu buat buang waktu gue. Kalo gue tau lo bakal ke sini, gue juga nggak bakalan datengin tempat ini."
Vania tertawa sinis. "Udah ketangkep basah aja masih aja ngeles. Cewek nggak punya malu! Bisa-bisanya chat kangen ke cowok orang!"
Shenka tertawa satu kali. "Kalo gue nggak punya malu, terus lo apa? Jalan sama pacar orang, mesra-mesraan sama pacar orang. Terus karena saking nggak percaya dirinya karena pernah jadi pilihan kedua, sampe sekarang pun masih aja rusuhin orang. Coba, apa namanya?"
"Gue bukan nggak percaya diri! Tapi nyatanya lo emang gatelin Azril mulu!" Vania terlihat semakin berapi-api, sangat kesal.
Shenka menghela napas panjang, mencoba merilekskan dirinya. Memprovokasi otak juga hatinya untuk tenang dan menjadi cewek kalem yang bersikap dewasa. Meskipun Shenka tidak rajin menabung, ingat, Kafka itu suka sama peri yang baik hati.
"Dengerin gue baik-baik, Vania. Gue ke sini, buat nge-date sama cowok gue yang sama sekali nggak ada sangkut pautnya sama lo," papar Shenka dengan perlahan, tapi penuh akan penekan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Sister! [TAMAT]
Teen FictionKetika cewek yang lagi disayang-sayangnya adalah anak dari suami nyokap lo. Mau benci, tapi masih cinta. Mau cinta, dia adek lo. *** Orang bilang kebucinan Kafka pada Shenka itu sudah pada tahap akut. Kafka tak masalah dicap lebay. Baginya Shenka a...
![Hello, Sister! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/357898801-64-k944261.jpg)