"MANDA GUE PENGEN NYULIK DIA!"
Shenka membekap mulutnya setelah memekik kencang. Hanya nol koma sekian detik begitu Amanda menerima panggilan videonya.
"Lo balikan sama brocon lo itu lagi?"
Shenka tersenyum lebar sembari mengangguk-angguk. Amanda terlihat menghela napas lelah.
"Padahal dia udah tau asli lo, bisa-bisanya," ucapnya sembari menggeleng-geleng tak habis pikir.
"Iya, 'kan? Keren banget 'kan Kafka itu," balas Shenka dengan raut bersemangat yang begitu kontras. Malam ini sepertinya hormon dopamine dia sedang berada di puncak-puncaknya.
"Makanya gue pengen culik dia biar nggak ada yang ganggu kita lagi." Shenka memeluk gulingnya lalu menggoyang-goyangkan dengan gemas.
"Demi apa pun Shenka, sadar dong. Dia kakak lo. Lo inget si Theo? Dia ada nanyain lo."
Shenka mengacungkan telunjuknya dengan tegas.
"Nggak sedarah," tekannya. "Ya meskipun sedarah pun gue bakal tetep berusaha kalo Kafka orangnya." Shenka membuat cengiran yang membuat Amanda di seberang sana bergidik ngeri.
"Kalo incest anak lo lahirnya aloe-aloe, mau lo?"
"Aloe?"
"Anak spesial," jelas Amanda. "Makanya yang sedarah itu dilarang, gennya sama, variasi DNA kurang."
"Ya nggak usah punya anak lah." Shenka berdecak. "Lagian ini nggak sedarah ya, jangan bahas yang nggak penting Manda. Gue sama Kafka itu pasangan yang cocok"
"Lo yang mulai ege." Amanda memutar bola matanya.
Shenka kembali tersenyum, raut berseri khas orang kasmaran itu menyerebak. "Tapi gue beneran sayang loh sama Kafka."
"Bilang sama dia, bukan lapor ke gue," jawab Amanda dengan lelah. Selain mengantuk, dari semua permasalahan Shenka, dia sudah terlalu mual dengan kisah percintaannya.
Shenka menggeleng dengan wajah sedikit menunduk. "Malu."
Mulut Amanda menaganga. "Lo? Malu?"
Shenka berdecak. "Manda 'kan tau love language gue itu words of affimation--"
"Love language lo itu nempelin pasangan pake lem korea."
Shenka mencebikkan bibirnya. Dia pun memilih mengabaikan ucapan nyelekit Amanda dan tetap berlanjut pada penjelasannya. "Hari ini gue udah banyak keluarin kata-kata cinta, kata lo dulu 'kan, nggak semua orang suka gitu. Jadi daripada bikin Kafka muak, ya udah gue bilangnya sama lo aja."
"Lah lo mikirin Kafka? Biasanya ditrabas."
"Manda!"
Amanda mengusap wajahnya kasar. "Terus kalo gue yang muak denger kata-kata cinta lo itu gimana?"
"Aku sayang Kak Kafka, aku cinta Kak Kafka, Kak Kafka dunia aku," beber Shenka dengan sengaja.
"Kalo gue deket udah gue tabok dah."
Shenka tertawa senang. "Ya udah sini, nggak papa ditabok, tapi dengerin semua kata-kata gue ya. Oh iya, gue juga bikin puisi loh."
Shenka hendak bergerak untuk mengambil buku catatannya di laci, tapi Amanda cepat-cepat melambai, membuat penolakan.
"Kenapa sih? Bagus kok, nggak alay."
Amanda tetap menggeleng. Dia pun memasang wajah serius yang mau tak mau Shenka pun bersidekap manis untuk memperhatikan. Meskipun seenaknya dan keras kepala, bukan artinya Shenka tidak bisa ikut aturan sama sekali. Misalnya serius di situasi yang memang harus serius ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Sister! [TAMAT]
Ficção AdolescenteKetika cewek yang lagi disayang-sayangnya adalah anak dari suami nyokap lo. Mau benci, tapi masih cinta. Mau cinta, dia adek lo. *** Orang bilang kebucinan Kafka pada Shenka itu sudah pada tahap akut. Kafka tak masalah dicap lebay. Baginya Shenka a...
![Hello, Sister! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/357898801-64-k944261.jpg)