36. Masalah Lagi

928 83 10
                                        

"Shen, bangun, yuk?"

Teresa menghela napas. Sudah berkali-kali dicoba, tapi anak gadisnya itu tetap enggan untuk terbangun. Banyak bualan yang dia gumamkan seperti nanti atau lima menit lagi, tapi nyatanya dia tetap memejamkan matanya.

"Kamu beneran bakal kesiangan loh kalo nggak bangun sekarang."

"Nggak ... papa ...."

Teresa merapatkan bibirnya, tidak punya ide yang lain lagi. Biasanya Shenka lebih penurut padanya, entah apa yang terjadi pada pagi ini. Karena terus dipikirkan pun tetap tidak akan menjadi solusi, Teresa pun  keluar dari kamar, ada hal lain yang harus dirinya kerjakan. Mata Teres tidak sengaja melihat Kafka hendak menuju ruang makan.

"Kaf, banguninn Shenka, boleh? Sarapannya belum Mama siapin kok."

"Tumben."

Teresa menggeleng kecil. "Kalo masih susah, pastiin aja dia mau sekolah apa nggak. Kalo nggak ya ... udah."

Kafka mengangguk. Setelah memastikan Teresa fokus di dapur, dia pun masuk ke kamar Shenka. Seulas senyum terukir di bibir Kafka, melihat kekasihnya yang meringkuk lucu di balik selimut.
Kafka berjongkok, matanya mengamati wajah polos yang masih terlelap.

Ada sedikit ide usil, Kafka mengulurkan telunjuknya lalu menyentuh ujung hidung Shenka. Cewek itu sedikit terusik, merasa geli. Meskipun begitu dia tetap memejamkan matanya. Kafka menyentuh lagi. Terlihat kening Shenka yang berkerut dengan bibir mengerucut kesal. Kafka tertawa kecil, Shenka memang lucu.

"Bangun, By." Kafka beralih pada pipi dan menepuk-nepuk kecil. Melaksanakan niat utamanya datang kemari.

"Nanti ...." Shenka bergumam tidak terlalu jelas.

"Kamu belum apa-apa loh, bisa telat. Nggak mau sekolah emangnya?"

"Mau ...."

"Ya udah, ayo bangun."

Shenka terdiam beberapa saat. "Nanti ...," ucapnya lagi.

"Aku cium loh, By."

Mata Shenka seketika terbuka, di detik selanjutnya tangan dia pun menangkup matanya yang sakit berkat tindakan yang tanpa aba-aba. Cahaya yang masuk terasa begitu menusuk sampai menimbulkan rasa pening.

"Maksud aku cium kening, By," ucap Kafka dengan rasa bersalah. Kafka harus lebih bisa menyaring kata-kata yang aman untuk Shenka.

"Kak Kafka ...." Cewek itu menggerutu kecil. Dia pun kembali berusaha membuka kelopak matanya perlahan dengan beberapa kali mengerjap sebelum akhirnya benar-benar bisa melihat dengan normal.

Kafka mendekat lalu menghadiahkan kecupan di kening Shenka. "Morning, By."

Shenka mengangguk kecil meski bibirnya yang agak mengerucut itu tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Shenka mengangkat tangannya, Kafka yang mengerti pun langsung membantu Shenka untuk bangun dan terduduk.

Kafka hendak pergi ke dapur untuk membantu Teresa, Shenka yang sudah begini tidak mungkin tidur lagi. Namun, cewek itu malah memeluk. Tubuhnya yang masih lemas menumpukan bobot sepenuhnya pada Kafka.

"Aku tuh mimpi ketemu sama Mama, tapi kepotong karena Mama Teresa bangunin. Aku nyoba tidur lagi biar bisa dilanjutin, tapi mimpinya nggak nyambung-nyambung," papar Shenka dengan suara bangun tidurnya. Ada sedikit nada sedih yang bisa Kafka tangkap.

Kafka mengusap-usap punggung Shenka. "Kalo diniatin suka susah, tapi siapa tau nanti malem mimpi lagi, 'kan? Gimana kalo sekarang kamu ke kamar mandi dulu?"

"Gini dulu aja, bentar."

Kafka tersenyum. "Iya ...."

"Kaf, Shenkanya udah bangun?" Suara Teresa tiba-tiba terdengar, Kafka pun melepaskan pelukannya dari Shenka dengan tergesa

Hello, Sister! [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang