33. Backstreet (2)

1.3K 97 16
                                        

"Maaf ...."

Shenka mengusap-usap pipi Kafka. Sekarang mereka tengah berada di atap sekolah untuk mengisi waktu istirahat. Meski Kafka sudah mengatakan tidak apa-apa, Shenka tetap saja berulang kali mengatakan hal itu.

"Tadi aku beneran kenceng naboknya. Sekarang emang udah nggak ada, tapi tadi merah."

Kafka tertawa kecil. "Kamu lupa ya di belakang-belakang aku udah sering banget babak belur, jadi yang kamu lakuin itu bukan apa-apa. Seriusan deh."

"Itu beda lagi." Shenka menghela napas. Wajahnya menengadah.

"Waktu TK aku pernah dijegal temen sampe lutut aku berdarah, aku nggak nangis loh, sama sekali."

Sebelum Kafka mendengar dari Andra tentang masa lalu Shenka, Kafka akan menilai jika kalimat Shenka barusan hanya dibuat-buat saja. Faktanya pacarnya ini memang pernah hidup dengan cara yang begitu mandiri.

"Tapi pernah aku bikin kesalahan di rumah terus Mama manggil aku 'Shenka', aku nangis mungkin hampir setengah jam. Padahal Mama nggak bikin aku berdarah loh."

Ada sedikit senyum yang Kafka bingung untuk menjelaskannya. Seperti bahagia yang tercampur sedih. Terlebih tatapan Shenka yang seolah tengah mengelana jauh ke belakang.
Mungkin Shenka tengah merindukan mendiang ibunya.

Shenka menoleh lagi pada Kafka. "Jadi kalo sama orang yang kita sayang itu, sekecil apa pun jadi lebih sakit."

Yang dijelaskan oleh Shenka memang benar, tapi tidak tepat untuk dijadikan acuan situasi sekarang. Lagi pula yang salah tadi memang Kafka, sudah tahu masih di rumah, malah bertingkah macam-macam. "Nggak, By."

"Aku nyakitin Kak Kafka."

Kafka menggeleng dengan senyuman kecil. Sayangnya bukan membuat Shenka menjadi yakin, sudut-sudut bibir cewek itu malah turun ke bawah

"Atau Kak Kafka nggak sayang aku kah?"

Kafka mengerjap. "Sayang kok," jawabnya dengan panik. Dia menepuk keningnya."Maksudnya yang kamu jelasin itu emang benar, tapi di situasi ini mungkin aku tipe yang nggak ambil masalah soal hal yang sepele, aku lebih pengen kita baik-baik aja."

Kening Shenka berkerut-kerut. Kafka segera menggenggam tangan Shenka lalu mengusap-usapnya.

"Oh iya alasan kamu sakit dipanggil Shenka, karena mama kamu punya nama kecil buat kamu ya?" Mengalihkan pembicaraan sekarang adalah solusi sebelum Shenka bertanya dan membuat masalahnya malah jadi bercabang. Meski Shenka pernah sesabar itu dulu, jangan lupakan sisi dia yang menghancurkan semua akuarium karena ingin menonton konser itu.

"Sesen," jawab Shenka.

"Lucu ya panggilannya."

"Tapi aku nggak mau denger itu selain dari Mama dan Papa aku, jadi Kak Kafka jangan panggil aku gitu."

Kafka merapatkan bibirnya. Tangan Kafka pun terulur lalu mengusap-usap puncak kepala Shenka dengan lembut. "Iya. Meski sebenarnya ada iri, tapi nggak papa. Aku juga 'kan punya panggilan sayang sendiri buat pacar aku ini."

Shenka tertawa kecil. "Iya, aku bakal pastiin nggak ada orang lain yang panggil itu selain Kak Kafka."

"Makasih." Kafka mencubit pipi Shenka tidak terlalu keras. "Tapi ini bukan di rumah loh, kenapa masih panggil Kak?" Alis Kafka sedikit terangkat, bertanya-tanya.

"Nggak mau terima kenyataan ya kalo lebih tua dari aku? Padahal aku udah kecintaan banget sama yang lebih tua ini." Shenka berpura-pura cemberut yang membuat Kafka tertawa.

"Aku suka kok sama panggilan itu."

Shenka menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Kafka. Telapak tangannya bertumpu pada lantai, membuat dorongan agar tubuhnya lebih terangkat dan dirinya bisa mengecup pipi Kafka.

Hello, Sister! [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang