41. Kabur

1K 87 14
                                        

Bahu Shenka naik turun, dengan tatapan tajam yang dia berikan secara bergilir pada tiga orang di depannya. "Apa yang kalian sembunyiin? Kalian udah nggak anggap aku lagi?" Setetes air mata meluncur di pipi Shenka, dia pun cepat mengusapnya dengan punggung tangan.

"Tadi Kak Kafka nanya apa ada yang dia lupain, terus Mama juga nanya sama aku apa ada yang Mama lupain, sekarang ...." Shenka menahan bibirnya yang bergetar.

"Papa juga pertanyaannya sama. Apa artinya coba kalo bukan ada konspirasi." Shenka terisak-isak.

"Cuma aku yang beda sendiri," ucapnya dengan penuh lirih.

"Sama Ezka, Shen," ucap Andra santai sembari membawa main putranya yang kini asyik tertawa tanpa peduli situasi yang terjadi. Atau, dia juga mungkin sudah terbiasa hingga menganggap ini hanyalah hal yang normal terjadi saja.

"Iya, sama Ezka," ralat Shenka sembari kembali menepis-nepis air matanya.

"Nggak ada konspirasi, Sayang. Kamu juga bisa ikut nanya, apa ada yang kamu lupain," ucap Teresa lembut seperti biasa.

"Nggak ada yang aku lupain!" Tangan Shenka meremas-remas baju yang ia kenakan. "Aku cuma disisihin."

Kafka menarik napas dalam, dia bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Shenka. Tangannya memegang kedua bahu cewek itu. "Liat aku coba," ucapnya dengan lembut.

Shenka masih memancarkan raut marahnya, meskipun begitu dia berusaha keras menurut.

"Tarik napas."

Shenka menggeleng.

"By ...."

Shenka mengalah, dia pun menarik napas dalam kemudian menghembusnya secara perlahan. Kafka menginstruksikan beberapa kali sampai cewek itu terlihat lebih tenang.

"Aku, Mama, sama Papa nanya begitu karena kita takut kamu ngerasa kita udah nggak peduli, kita takut kamu ..." Ngamuk. "--ngerasa kesinggung."

"Kenapa aku harus kesinggung? Kalian nanya apa yang kalian lupain, nggak ada hubungannya sama aku "

Kafka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas. "Karena kita nggak ngasih kamu ucapan."

Shenka memiringkan wajahnya sebagai tanda jika dirinya semakin tidak mengerti.

"Niat awalnya kita itu buat kejutin kamu nanti malem. Tapi di sisi lain ternyata kita takut kalo kamu ngerasa nggak dipeduliin. Jadi pertanyaan itu buat cek reaksi kamu, apa kamu marah karena kita sama sekali belum ngucapin selamat ulang tahun sama kamu."

Shenka terdiam, matanya mengerjap-ngerjap. "Ulang tahun?" Kening Shenka berkerut-kerut. "Eh iya! Hari ini aku ulang tahun ya!" ucapnya dengan mata melebar dan mulut menganga. Bersamaan dengan itu, aura marah tadi langsung menghilang tanpa malu sedikit pun

"'Kan Mama udah bilang, kamu juga bisa nanya apa ada yang kamu lupain," ucap Teresa seraya menggeleng-geleng.

Begitulah staycation berjudul hadiah setelah UAS yang sebenarnya untuk merayakan ulang tahun Shenka itu berjalan dengan setengah sukses, setengah absurd.

Kehidupan mereka pun kembali berjalan seperti biasanya. Andra sang kepala keluarga yang rajin bekerja, Teresa yang sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga yang telaten merawat bayi satu tahunnya, Shenka yang sudah tidak perlu dijelaskan lagi, dan Kafka yang masih menjadi anak kos dengan pasokan makan dari rumah utama.

Meskipun Teresa sudah menetap di rumah--tidak bekerja, Kafka tetap tidak mendapat izin untuk tinggal bersama. Sekarang sudah memasuki tahun ke empatnya, bisa dibilang Kafka cukup menikmati terlebih tetangga kosnya hampir sebaya semua, banyak hal seru yang terjadi, jadi Kafka bisa membantah ledekan Satya yang menyebutnya sebagai anak yang terbuang.

Hello, Sister! [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang