Sl- 19. LDR

182 13 0
                                        

"Berikan aku seribu kereta, akan aku hampiri tempat dia berada. Berikan aku seribu kapal, aku aku sebrangi laut untuk menjemputnya."

Sa(l)ma

***
Perjuangan Salma telah berakhir dengan hasil yang sempurna, lebih dari perkiraannya. Hidupnya sudah tidak ada lagi perasaan menyesal, kini semuanya akan berjalan dengan rencana yang dia susun dengan sebaik mungkin. Keluar dari ajang ini, Salma sudah mengetahui apa yang harus dia lakukan.

Di kamar yang tersisa dua orang kini sibuk dengan urusannya masing-masing. Mengemas barang-barang untuk kembali pada tempat mereka tinggal, tidak ada lagi kamar karantina yang mereka huni beberapa bulan terakhir, tidak ada lagi teman-teman yang memiliki mimpi serupa. Semuanya telah selesai, memiliki jalan yang berbeda.

Malam ini, Salma akan berkunjung ke Malang sebelum pulang ke rumahnya yang di Probolinggo. Di Malang dia akan mengurus berkas-berkas kebutuhan skripsinya yang tidak mendapatkan perhatian oleh Salma karena kesibukannya dalam ajang kompetensi itu. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, sebenarnya menjadi hal yang dipertimbangkan olehnya sebelum mendaftar. Dia harus merelakan satu dari sekian pekerjaannya sebab dia menjadi bagian orang yang harus fokus pada satu tujuan. Dan usahanya tidak sia-sia, pilihan yang dia kedepankan menjadi hasil yang optimal, setidaknya Salma tidak harus merasakan kekecewaan, again.

"Kesana naik apa kamu?" Suara pria terdengar tiba-tiba disampingnya. Namun, Salma tidak perlu kaget sebab dia sudah hapal betul dengan tipikal suara kekasihnya.

"Naik pesawat. Kenapa? mau ikut?" ujar Salma. Atensinya masih tidak teralihkan dari baju-baju yang dia bereskan.

"Tidak mau, mungkin lain kali pas aku lamar kamu," ujar Rony yang membuat Salma mencubit pahanya, pertunangan masih menjadi langkah yang jauh bagi Salma. Sebenarnya buat Rony juga sama. "Aku mau nganterin ke bandara aja."

Salma menggangguk ragu. "Tapi
..." Terdapat keraguan dalam dirinya. "Tidak bahaya kah, Ron?"

"I think no. Apa yang menjadi bahaya?"

"Hatters kita, maybe?" ucap Salma.

"Kita ada salmocean kalau kamu lupa, berapa banyak pun ujaran berisik dari hatters, kita masih punya 3 fanbase, honey."

Sayang, baby, honey, menjadi panggilan sayang dari Rony, tetapi Salma tetap memanggil dirinya "Rony." Rony rasa tidak adil, tapi dia memaklumi, mungkin belum saatnya Salma jatuh lebih dalam pada dirinya.

Salma sadar, entah mengapa dirinya tidak yakin pada hubungan ini akan berjalan lancar. Salma tahu setiap hubungan pastinya ada halangan, tetapi Salma rasa hubungannya bersama Rony akan mendapatkan banyak sekali hambatan. Apa yang dirasakan Salma belum tentu terjadi jika keduanya saling berada dalam tujuan yang sama.

Rony selalu percaya akan adanya fanbase ketiga mereka, selalu menyambut dengan senang hati, Salma juga begitu. Tetapi lagi dan lagi, Salma takut mereka nantinya akan kecewa, merasa takut dia akan membuat hati ribuan Salmocean itu tersakiti.

“Kamu yakin kita bisa terus seperti ini?” tanya Salma, matanya tetap tertuju pada tas yang sedang dia rapikan. 

Rony hanya menghela napas panjang dan duduk mendekat, meraih tangan Salma yang sibuk. Dia menggenggamnya dengan lembut, memberikan rasa hangat yang selama ini menjadi penopang dalam setiap langkah mereka.

"Sayang, serius kamu nanya tentang ini lagi? Berapa kali aku harus mengatakan kalau kita bisa. Hubungan akan berhasil jika kita percaya satu sama lain, berada di sisi satu sama lain, dan komunikasi lancar. Apa yang kamu takuti, aku janji tidak akan pernah terjadi, apa yang pernah membuatmu gagal aku pastikan tidak akan pernah terjadi. Jika kamu berpikir hubungan kita akan merusak karir kita, aku rasa itu tidak akan terjadi, Sal." Salma menyimak perkataan Rony dengan kepala tertunduk, pernyataan terakhir langsung tepat sasaran. Entah karena pikiran mereka sudah menyatu, atau Salma yang terlalu sering berpikir seperti itu sehingga Rony merasa hafal.

"Hubungan kita dan karir itu memang sejalan, tapi tidak saling bergandengan. Keduanya memiliki jalan masing-masing tapi dengan arah yang sama. Aku harap dengan apa yang aku omongin hari ini cukup membuat kamu tenang tidak memikirkan hal buruk lagi."

Salma terdiam, seolah merenung. Dia mengerti apa yang dimaksud Rony.  Hubungan dan karir memang selalu berjalan masing-masing dengan tujuan yang sama, yaitu keberhasilan.  Namun, yang Salma khawatirkan adalah jalan yang mana yang akan melewati banyak rintangan?

Rony menyadari perubahan ekspresi Salma dan mengelus kepala Salma, merasakan ketegangan yang ada. “Jangan terlalu dipikirkan, Sayang. Apa yang penting, kita tetap berjalan bersama.”

Salma akhirnya mengangguk pelan, merasakan ketenangan yang sedikit demi sedikit kembali. “Iya, mungkin aku terlalu banyak berpikir. Aku takut, meski di dunia ini kita memiliki ribuan bahkan jutaan penggemar tetapi mereka semua akan bilang jika satu orang menebarkan kebencian. Aku takut, omongan-omongan itu kembali aku dengar."

“Apa pun yang datang, kita hadapi bersama,” jawab Rony, lalu menarik Salma ke pelukannya. Mereka diam sejenak, membiarkan keheningan itu menguatkan ikatan mereka.

Malam semakin larut, dan waktu untuk berpisah semakin dekat. Salma menyelesaikan barang-barangnya, memasukkan semua yang perlu dibawa ke dalam tas. Tak lama kemudian, Rony mengangkat koper Salma dan membawanya ke luar kamar. Mereka berjalan bersama menuju mobil, suasana menjadi lebih serius, meski hati mereka tetap hangat oleh cinta yang tak terucapkan.

Sebelum mereka melangkah keluar, Salma menoleh untuk melihat ruangannya sekali lagi. Rasanya berat untuk meninggalkan tempat yang sudah memberikan banyak kenangan, meski ajang kompetisi itu sudah berakhir. Salma tahu, setiap langkah ke depan pasti akan membawa tantangan baru. Tapi dia siap, karena dia tidak sendirian.

Mereka berdua tiba didepan mobil Rony yang sudah terparkir rapi, pria itu sempat pulang ke rumahnya pas pagi hari dan kembali lagi sekedar menjemput Salma menuju ke Bandara. "Ayo masuk. Hati-hati... kepalanya," ujar Rony.

Diperjalanan mereka lebih banyak diam, bukan seperti harapan Rony. Rony kira, perpisahan sementara mereka berdua akan berjalan dengan ceria dan menikmati perjalanan, tetapi suasana sunyi yang dia dapatkan. Lagi dan lagi, Rony berkata pada dirinya harus sabar menunggu. Rony harap perpisahan sementara ini bisa membuat Salma yakin tentang perasaan nya dan hubungan mereka.

Begitu mereka tiba di bandara, Rony membawakan koper Salma dan mengantarnya sampai ke pintu check-in. “Kamu hati-hati ya di sana. Jangan lupa untuk selalu kontak.”

Salma mengangguk, matanya sedikit berkaca. “Iya, Ron. Terima kasih sudah mengantar. Semoga kita bisa segera bertemu lagi.”

Rony tersenyum lembut, menyentuh pipi Salma dengan lembut. “Kita pasti akan bertemu lagi. Jaga dirimu baik-baik, Sayang.”

Salma berjalan masuk ke ruang keberangkatan, melihat Rony yang masih berdiri di luar, memberikan senyuman terakhir sebelum dia menghilang dari pandangannya. Perasaan campur aduk menyelimuti hatinya—rindu, takut, dan harapan untuk masa depan.

Dalam hatinya, Salma berjanji untuk terus berjuang, meski perjalanan ke depan tak selalu mulus. Salma juga bertekad untuk memikirkan dengan sempurna tentang perasaannya nanti selama di kampung halaman. Berbagi cerita dan meminta saran kepada orang tuanya.

***

TI BE CONTINUED

JUST FOR FICTION!




Sa(l)maTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang