07. A child

610 74 8
                                    

Malam itu, meskipun fisiknya bebas, Dongjun tahu bahwa ia belum sepenuhnya lepas dari cengkeraman Dingzhi—baik secara harfiah maupun metaforis.

Dingzhi menarik kembali pinggang Dongjun dengan satu gerakan mulus. Kali ini mereka berhadapan, jarak di antara mereka nyaris tak ada lagi. Dongjun bisa merasakan napas hangat Dingzhi menyapu kulitnya, dan jantungnya berdegup semakin kencang dalam ketegangan.

Sebelum Dongjun sempat berpikir untuk mundur atau berkata apa pun, Dingzhi mendekatkan bibirnya ke telinga Dongjun, berbisik dengan suara rendah yang menghantui.

“Kau akan melahirkan anak-anakku, Dongjun. Dan kelak, kau akan mengkhianati Tiān Jiàn sendiri.”

Dongjun membulatkan matanya seketika, hatinya seolah berhenti berdetak. Kata-kata Dingzhi yang begitu dingin dan pasti bergema dalam pikirannya. Kata-kata itu… persis seperti yang dikatakan oleh wanita tua di pesta malam itu. Bagaimana bisa Dingzhi tahu tentang hal itu? Tubuh Dongjun menegang, dan ia segera mencoba mendorong Dingzhi menjauh, panik mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Lepaskan aku!” Dongjun memohon, suaranya penuh ketakutan. Namun, meski ia berusaha melepaskan diri, Dingzhi justru semakin mempererat pelukannya. Tubuh Dongjun terperangkap dalam rengkuhan yang tampaknya lembut tetapi tidak membiarkannya bergerak sedikit pun.

Dingzhi menunduk, menyusuri helai rambut Dongjun dengan jari-jarinya yang panjang dan dingin, seolah-olah menenangkan seekor binatang yang ketakutan. “Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja,” bisiknya pelan, suaranya penuh dengan keyakinan yang membuat Dongjun semakin bingung. “Baik rencanaku… maupun dirimu. Semuanya akan berjalan seperti seharusnya.”

Dongjun terdiam, tubuhnya tak lagi berusaha melawan. Ia merasa begitu kecil di hadapan Dingzhi, dan keputusasaan mulai merayapi dirinya. Meskipun ia tidak ingin mempercayainya, ada sesuatu dalam kata-kata Dingzhi yang membuatnya merasa bahwa apa yang pria itu katakan akan menjadi kenyataan, entah bagaimana.

Air mata mulai menggenang di mata Dongjun. Ia menggigit bibirnya, menahan isak yang ingin pecah. Di tengah ketakutan dan kebingungan ini, ia merasa begitu terpojok. Ia bahkan tak tahu lagi apakah ia masih memegang kendali atas takdirnya sendiri. Kenapa semua ini terjadi padanya? Apa yang sesungguhnya Dingzhi inginkan darinya?

Namun air mata itu tak bisa lagi ia tahan. Satu tetes mengalir di pipinya, diikuti oleh tetesan berikutnya. Dongjun menangis dalam keheningan, suaranya terkunci di tenggorokan. Tapi meski air mata jatuh, Dingzhi tetap memeluknya erat, seolah menenangkan sekaligus mengklaimnya sebagai miliknya.

“Aku tidak akan pernah mengkhianati keluargaku,” bisik Dongjun akhirnya, meskipun suaranya penuh keraguan.

Dingzhi tersenyum lembut, nyaris penuh kasih sayang, seolah tidak terganggu oleh kata-kata Dongjun. Ia menunduk sedikit, menyeka air mata di pipi Dongjun dengan ibu jarinya, lalu menatapnya dalam-dalam. “Kita lihat saja nanti, Dongjun. Takdir punya cara untuk mengejutkan kita semua.”

Dongjun hanya bisa terdiam, terperangkap dalam pelukan Dingzhi yang menenangkannya sekaligus menakutkannya. Air matanya terus mengalir, sementara pikirannya berkecamuk, mencoba memahami bagaimana ia terjebak dalam permainan yang begitu kelam ini.

Dan di lubuk hatinya, Dongjun tahu bahwa malam ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya.

Dongjun mulai lelah menangis, dan air mata yang terus mengalir sejak tadi perlahan mengering. Tubuhnya terasa lemah, matanya berat, dan rasa kantuk mulai mengambil alih. Tanpa sadar, ia menguap pelan, tubuhnya merespons kelelahan yang menumpuk.

Ye Dingzhi yang memeluknya tentu saja memperhatikan perubahan itu dengan senyum kecil yang hampir tidak terlihat. Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuh Dongjun, menggendongnya seolah sosok di hadapannya adalah sesuatu yang rapuh. Tanpa banyak suara, Dingzhi menaruh Dongjun perlahan di atas tempat tidur yang besar, tempat di mana Lei Mengsha, raja sebelumnya, pernah beristirahat.

Dongjun terkejut saat merasakan tubuhnya diangkat, tetapi dalam keadaan setengah sadar, ia tidak memberikan perlawanan. Ia hanya menatap Dingzhi sejenak sebelum perlahan-lahan memejamkan matanya. Dengan punggung yang kini menghadap Dingzhi, Dongjun berpaling ke arah tembok, mencoba menemukan sedikit kedamaian dalam kegelapan.

Dingzhi memandangi sosok Dongjun yang terbaring, napasnya sudah mulai teratur, tanda bahwa ia mulai tertidur. Wajah Dingzhi tetap menyiratkan kelembutan sejenak. Ia melangkah pelan, memastikan suara langkahnya tidak membangunkan Dongjun. Saat ia sampai di pintu, ia menarik gagang pintu dengan hati-hati dan menutupnya dengan suara lembut yang nyaris tak terdengar.

Begitu pintu itu tertutup sepenuhnya, senyum di wajah Dingzhi perlahan-lahan memudar. Ekspresi kelembutan itu berganti menjadi datar dan dingin. Mata yang sebelumnya tampak penuh kasih sekarang hanya menyiratkan kehampaan dan fokus tajam pada tujuan yang jauh lebih besar. Semua tindakan lembut yang baru saja ia tunjukkan hanyalah bagian dari rencana yang lebih gelap.

Dingzhi berjalan menyusuri koridor istana yang sunyi, langkah-langkahnya penuh ketenangan, tetapi dalam pikirannya, rencana yang jauh lebih besar sedang terbentuk. Dongjun hanyalah bagian dari permainan yang lebih besar, bagian dari takdir yang Dingzhi sendiri tentukan. Apa yang ia inginkan dari Dongjun bukanlah cinta atau kehangatan, melainkan sesuatu yang jauh lebih penting: keturunan.

Ia tahu, jika Dongjun melahirkan anak-anaknya, maka garis darah mereka akan menjadi kunci untuk menghancurkan Tiān Jiàn, kerajaan yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Karena putra yang akan lahir dari Dongjun bukan hanya keturunannya, tetapi juga takdir yang terkait erat dengan Dingzhi.

“Segala sesuatu berjalan sesuai rencana,” gumamnya pelan. Di balik senyum tipis yang sempat terlihat tadi, Dingzhi hanya memiliki satu tujuan—menguasai segalanya, baik Hóng Yún, Tiān Jiàn, maupun kerajaan lainnya yang pernah menghancurkan Yīn Léi.

Kembali berjalan dalam kesunyian malam, Dingzhi merenungkan langkah berikutnya. Setiap tindakan harus direncanakan dengan sempurna, karena putranya kelak bukan hanya akan menjadi pewaris, tetapi juga alat untuk mengklaim apa yang seharusnya milik Yīn Léi. Dan Dongjun, meskipun tidak menyadari sepenuhnya, sedang dipersiapkan untuk memainkan peran penting dalam kehancuran kerajaannya sendiri.

Dengan pikiran yang tajam dan hati yang dingin, Dingzhi meninggalkan istana untuk sementara, tahu bahwa dalam waktu yang tak terlalu lama lagi, semuanya akan berubah.

To be continue

Betrayed | YebaiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang