14. Us

308 37 3
                                        

Dingzhi memandangnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan, seolah-olah ingin memastikan bahwa apa yang ia putuskan benar-benar diterima oleh Dongjun. Keheningan kembali melingkupi mereka, hanya suara angin yang terdengar, seolah waktu berjalan perlahan di antara keputusan-keputusan yang harus mereka hadapi bersama.

Keduanya berjalan beriringan, langkah mereka teratur di sepanjang jalan menuju paviliun sang raja. Suasana di sekitar mereka tampak tenang, namun di dalam hati Dongjun, perasaan cemas dan bingung semakin menggelora. Ia hanya terdiam, matanya terfokus pada jalan yang terbentang di depan, seolah-olah ia ingin menghindari kenyataan yang semakin mendekat.

Dingzhi, di sisi lain, merasakan perasaan yang sangat berbeda. Rencana pernikahan ini, yang seharusnya menjadi suatu peristiwa yang mengubah hidup, tidak membuatnya merasa bahagia. Sebenarnya, ia tidak pernah tertarik pada Dongjun, apalagi menjalin hubungan yang lebih dekat dengannya. Ia selalu merasa terjebak dalam permainan kekuasaan dan kewajiban, dan pernikahan ini adalah bagian dari strategi yang lebih besar, yang tidak pernah ia pilih untuk dirinya sendiri.

Selama perjalanan mereka, hanya suara langkah kaki yang terdengar, tanpa ada percakapan yang berarti antara mereka. Dingzhi merasa tertekan, namun ia berusaha menutupi ketidaknyamanannya dengan tetap menjaga sikap yang tenang. Di sisi lain, Dongjun tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Ia sudah terlalu terbiasa dengan pasrah dan menerima segala sesuatu yang datang dalam hidupnya. Namun, hatinya tetap bergejolak, dan semakin mendekati paviliun sang raja, perasaan itu semakin kuat menguasainya.

Begitu sampai di paviliun, keduanya berhenti di depan pintu besar yang megah. Sebelum memasuki ruangan, Dingzhi menoleh ke arah Dongjun dengan ekspresi serius. "Kita akan segera menemui sang raja. Ingat, semuanya akan berlangsung sesuai dengan rencana," ucapnya dengan suara rendah, namun penuh tekanan. Ia tidak ingin ada yang salah dalam proses ini.

Dongjun hanya mengangguk perlahan, meskipun di dalam hatinya ada keraguan yang tak terungkapkan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tapi yang jelas, pernikahan ini bukanlah sesuatu yang ia inginkan. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Dunia mereka terlalu besar, dan keinginannya terlalu kecil untuk bisa mengubah jalan hidup yang sudah ditentukan.

Dingzhi memimpin jalan, membuka pintu paviliun dengan langkah yang mantap. Begitu mereka memasuki ruangan, suasana menjadi semakin formal dan penuh tekanan. Para pengawal dan dayang menghadap mereka dengan sikap yang penuh hormat, sementara sang raja, yang sudah menunggu di ruang utama, menatap mereka dengan ekspresi yang tak bisa dibaca.

"Yang Mulia, Tuan Dongjun," ucap sang raja, suaranya berat dan penuh kewibawaan. "Aku sudah menunggu kalian."

Dongjun menundukkan kepala dengan hormat, sementara Dingzhi hanya memberi salam singkat, menunjukkan sikap yang lebih tegas. Mereka semua tahu bahwa hari ini adalah hari yang penting, dan apa yang terjadi selanjutnya akan menjadi bagian dari nasib yang tak bisa mereka hindari.

Sang raja, yang duduk di kursi megah di ujung ruang utama paviliun, memandang keduanya dengan tatapan yang tajam. Suasana semakin tegang ketika ia mulai membuka pembicaraan, menyampaikan kisah lama yang terpendam antara dua kerajaan yang seharusnya saling berdamai.

"Dongjun," suara sang raja bergema, "Pernikahan ini bukan hanya tentang dua individu. Ini adalah langkah yang lebih besar, suatu penyatuan antara kerajaan kita dan kerajaanmu. Namun, jangan kau lupakan sejarah yang mengikat kedua kerajaan kita."

Betrayed | YebaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang