14. The Secret

159 27 0
                                        

Keheningan kembali melingkupi mereka, dan meskipun tidak ada kata-kata lagi yang diucapkan, perasaan yang ada begitu berat dan penuh dengan ketidakpastian. Dongjun, dengan beban yang tak tampak, beranjak dari tempatnya, siap untuk melanjutkan perjalanan yang tak bisa dihindari.

Sang raja tersenyum tipis melihat keduanya berjalan keluar dari paviliun. Langkah mereka perlahan namun tegas, seolah telah menerima peran yang tak bisa mereka tolak. Di belakang mereka, pintu besar paviliun tertutup kembali dengan suara berat, menyisakan keheningan di dalam ruangan megah itu.

Dari balik tirai bayangan, sebuah siluet perlahan muncul. Sosok itu berdiri tenang, mengenakan jubah gelap dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Suaranya pelan namun tajam, menggema di antara dinding batu yang dingin.

"Apakah rencana kita akan berhasil?" gumam sosok itu, seolah bertanya kepada raja dan pada nasib yang kini telah dijalin.

Sang raja tidak segera menjawab. Ia menatap lurus ke depan, seakan melihat lebih dari sekadar dinding dan bayangan. Tatapannya berat, matanya menyimpan waktu dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Kemudian, dengan suara dalam yang nyaris seperti bisikan takdir, ia berkata:

"Berhasil... jika keduanya saling mencintai."

Siluet itu tak menjawab. Hening sejenak menyelimuti mereka, sampai sang raja menambahkan, dengan nada yang lebih pelan namun penuh luka:

"Jika tidak terjadi... maka aku harus siap kehilangan putraku."

Kata-kata itu mengendap di udara, menggantung di antara cahaya senja yang masuk dari jendela tinggi. Tak ada lagi yang diucapkan. Namun maknanya lebih berat dari ribuan kalimat. Ini bukan sekadar rencana politik atau pernikahan. Ini adalah pertaruhan antara cinta… dan kehilangan yang tidak bisa dicegah.

Di luar paviliun, angin senja berembus lembut, membawa kabut halus yang menyelimuti tanah istana. Dongjun dan Dingzhi berjalan dalam diam, masing-masing menyimpan pertanyaan yang tak mudah dijawab.

Dan di balik dinding batu yang kokoh, satu kebenaran perlahan tumbuh di dalam sunyi: tidak semua yang dikorbankan akan kembali... tapi harapan.. meski rapuh.. masih hidup.

Langkah mereka meninggalkan paviliun tampak tenang, namun di dalam diri Dingzhi, badai kecil mulai bergemuruh.

Ia tidak tahu bahwa di balik pintu besar itu, sang raja telah berbicara dengan nada getir, tentang takdir, cinta, dan kehilangan. Ia tidak tahu bahwa keputusan yang tampak seperti perjanjian politik itu sebenarnya lebih dalam, lebih tragis. Baginya, semua ini masih seperti permainan kekuasaan biasa: satu langkah untuk menyelamatkan kerajaan, dan satu pengorbanan yang harus ia lakukan sebagai putra mahkota.

Namun, yang ia tahu pasti perasaannya terhadap Dongjun mulai berubah.

Ia tidak tahu kapan itu bermula. Mungkin saat Dongjun menerima segalanya tanpa keluhan. Mungkin ketika tatapan laki-laki itu tidak pernah menuntut, hanya mencoba memahami. Atau mungkin, saat ia sendiri mulai bertanya-tanya: kenapa ia tidak membenci Dongjun, padahal seharusnya ia bisa?

Dingzhi mengepalkan tangannya.

Bodoh,"gumamnya dalam hati. “Ini hanya karena tekanan. Hanya karena kita dipaksa bersama.”

Tapi ia tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri. Ada perhatian kecil yang ia tunjukkan tanpa sadar. Seperti saat ia memperlambat langkah agar Dongjun bisa sejajar. Atau saat ia diam-diam memperhatikan apakah Dongjun cukup hangat di udara pagi yang dingin. Hal-hal sepele… yang biasanya tidak pernah ia pedulikan.

Dan itu menakutkannya.

Ia tidak ingin mencintai seseorang karena pernikahan yang dipaksakan. Cinta, jika memang ada, seharusnya tumbuh karena pilihan. Bukan karena skenario politik, bukan karena ramalan, dan bukan karena nasib yang telah digariskan orang lain.

“Andai aku tidak putra mahkota,” pikirnya pedih. “Andai semua ini bukan bagian dari peran yang harus kujalani…”

Langkahnya terhenti sejenak.

Ia menatap punggung Dongjun yang berjalan di depannya. Lelaki itu tak banyak bicara, tapi diamnya bukan kosong. Diamnya penuh rasa, penuh luka yang tidak pernah ia tunjukkan.

Dan Dingzhi mulai bertanya-tanya:

“Bagaimana jika aku mulai peduli… tapi dia tidak pernah menginginkan hidup ini? Bagaimana jika aku memberi hatiku… lalu ia pergi begitu saja ketika semua ini berakhir?”

Ia menarik napas panjang, mengusir pikiran itu, lalu kembali melangkah.

Bagi Dingzhi, ini masih permainan kekuasaan. Tapi di dalam hatinya yang selama ini ia kunci rapat retakan kecil mulai terbentuk. Dan retakan itu, perlahan, memperlihatkan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia izinkan tumbuh: rasa takut kehilangan.

Tanpa ia tahu, tak jauh dari balik dinding paviliun, ayahnya masih menatap langit yang mulai gelap, dengan bayangan kehilangan yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Langkah Dongjun terus bergerak maju tanpa ia sadari. Kepalanya tertunduk, pikirannya jauh melayang ke tempat-tempat yang bahkan tak bisa ia definisikan. Suara langkah kaki, angin, bahkan suara Dingzhi yang tadi berjalan di sampingnya... semua menghilang ke latar belakang.

Akhir-akhir ini hidupnya dipenuhi kejutan dan bukan kejutan yang menyenangkan.

Pernikahan, ramalan, dan kini… anak?

Ia masih belum bisa membayangkan dirinya sebagai seorang ayah. Bahkan untuk menjadi pasangan Dingzhi pun rasanya sudah cukup menakutkan. Bagaimana mungkin seseorang sepertinya, yang hidupnya dipenuhi pengorbanan dan pasrah, bisa membesarkan seorang anak-anak yang konon akan menjadi harapan dua kerajaan?

“Aku bahkan belum tahu siapa diriku sendiri,” pikirnya getir.

Dalam lamunan itu, ia tidak memperhatikan arah langkahnya. Dan sebelum ia sempat menyadari, tubuhnya membentur seseorang di depannya.

Brugh.

Dongjun terhuyung sedikit ke belakang, dan langsung mengangkat wajahnya.

“Maaf… aku tidak—”

Kata-katanya terhenti begitu saja.

Di hadapannya berdiri seorang pria tinggi, jauh lebih tinggi dari dirinya, dengan bahu lebar dan postur tegap. Wajahnya tampan dan terkesan tenang, dengan sorot mata tajam yang tidak mudah dibaca. Rambutnya terikat rapi, dan jubah gelap dengan aksen emas berayun ringan di tubuhnya.

Lelaki itu hanya tersenyum tipis, mengangguk ringan seolah tidak keberatan.

“Tidak apa-apa,” ucapnya, suaranya tenang namun dalam, lalu melangkah pergi tanpa berkata lebih banyak.

Dongjun hanya bisa menatap punggung pria itu beberapa saat sebelum akhirnya menoleh ke belakang dan mendapati Dingzhi berdiri tak jauh darinya, matanya mengerut tajam.

Dingzhi menatap sosok yang baru saja berlalu, kemudian matanya kembali ke Dongjun.

Dengan gumaman pelan, nyaris tak terdengar, ia berbisik pada dirinya sendiri:

“Jing Yuan...? Sedang apa dia di sini...”

Suaranya nyaris tenggelam oleh angin, tapi tatapan matanya jelas tak bisa disembunyikan. Sebuah kilatan campur aduk terkejut, curiga… dan sedikit khawatir.

Dongjun menatapnya heran, tapi Dingzhi segera melangkah maju, menyusulnya dengan langkah cepat. Ia kembali menjadi sosok tenang yang selalu Dongjun kenal, namun sekarang ada sesuatu yang berbeda di matanya. Sesuatu yang disembunyikan dan Dongjun tidak tahu bahwa langkah mereka baru saja menyentuh permukaan dari misteri yang jauh lebih dalam.

To be continue

Betrayed | YebaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang