—
Saat keduanya menghilang, Dongjun terbangun dari mimpinya, tubuhnya terasa lebih ringan, meskipun hatinya masih dipenuhi oleh pertanyaan yang belum terjawab.
—
Dongjun terbangun perlahan, matanya masih berat dan diselimuti kebingungan. Suara burung yang berkicau sayup-sayup di luar jendela membuatnya sedikit terjaga dari lamunannya. Namun, pikirannya kembali terhenti pada mimpi yang begitu hidup itu. Xie Lian, Dewa Penulis Takdir—pria itu mengatakannya dengan penuh keyakinan, dan Dongjun merasa terhanyut dalam kata-katanya.
"Apa maksudnya?" gumam Dongjun pelan, matanya menatap langit-langit kamar yang tampak tenang. "Apakah mungkin... aku bisa mengandung? Tapi... aku seorang laki-laki." Bingung dan ragu, ia memejamkan matanya kembali, mencoba mengusir pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar di dalam kepala.
Suara pintu yang terbuka tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Dingzhi masuk ke dalam kamar dengan langkah santai, namun aura yang dibawanya terasa berbeda dari biasanya. Ada kehangatan dalam dirinya yang bisa dibilang tidak seperti biasanya, tidak ada rasa mencekam yang biasanya menyertai kehadirannya. Hari ini, ada sesuatu yang berbeda.
"Bangunlah, Dongjun," kata Dingzhi dengan nada lembut, matanya memandang Dongjun yang masih terbaring di atas tempat tidur. "Ayo, makanlah. Kita akan melakukan perjalanan yang cukup panjang."
Dongjun sedikit terkejut dengan kehadiran Dingzhi yang begitu tiba-tiba, tetapi ia tidak mengucapkan apa-apa. Perasaan tidak nyaman dan bingung masih menguasai dirinya. Ia hanya mengangguk pelan, mencoba bangkit dari tempat tidur.
Dingzhi berjalan mendekat, membawa nampan dengan beberapa hidangan di atasnya. Setelah meletakkan makanan di meja samping tempat tidur, Dingzhi menunduk sebentar, matanya sempat tertarik pada Dongjun yang masih diam.
"Ini pakaian ganti untukmu," Dingzhi berkata sambil meletakkan sebuah pakaian di atas meja. Pakaian itu adalah hanfu, namun desain dan warnanya jelas lebih feminin daripada yang biasa dipakai oleh Dongjun. "Pakai ini, kita harus segera berangkat setelah makan."
Dongjun terdiam sejenak, matanya memandang pakaian itu dengan perasaan bingung. Hanfu untuk wanita... Apa maksudnya ini? Sebuah rasa tidak nyaman kembali muncul dalam dirinya, namun ia tahu, perjalanan ini adalah sesuatu yang harus dijalani. Ia tidak bisa menolak, meskipun hatinya merasa asing.
"Terima kasih," akhirnya Dongjun bersuara pelan, meskipun kata-katanya terdengar berat dan tidak sepenuh hati. Pikirannya kembali melayang ke mimpi itu, dan bahkan pakaian yang sekarang ada di depannya terasa seperti bagian dari takdir yang harus ia jalani. Apa yang sebenarnya dimaksud dengan "takdir yang rumit" itu?
Dingzhi hanya mengangguk pelan, tanpa berkata lebih banyak, dan berbalik untuk meninggalkan kamar. Sebelum keluar, ia menoleh sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya memilih untuk tetap diam. Dongjun mendengar langkah kaki Dingzhi yang perlahan menghilang di luar kamar, meninggalkannya sendirian dengan pikirannya yang penuh pertanyaan.
Dongjun menatap pakaian itu lagi. Ada sesuatu yang terasa aneh, tapi ia tahu ia tidak bisa lari dari apa yang akan datang. Dengan langkah pelan, ia akhirnya memutuskan untuk mengenakan pakaian tersebut, meskipun hati kecilnya masih bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
—
Perjalanan menuju Yīn Léi memakan waktu sekitar tiga hingga empat jam, dan selama itu Dongjun hanya duduk diam di atas tandu, ditemani oleh beberapa pengawal yang menjaga dengan ketat. Tidak ada serangan atau halangan berarti yang terjadi, namun Dongjun merasa seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu di dalam dirinya. Ada perasaan tak menentu yang menggerogoti pikiran dan tubuhnya, seolah ada sesuatu yang akan datang, entah itu takdir atau kekuatan yang lebih besar dari dirinya.
Namun, ketika perjalanan semakin jauh, perasaan cemas yang mencekam semakin kuat. Jantungnya mulai berdetak cepat, seperti ditarik oleh sebuah kekuatan tak terlihat. Napasnya terasa sesak, dan tubuhnya mulai berkeringat dingin. Sebuah kilas balik samar tentang masa depan datang begitu saja, seakan meluncur dengan cepat dalam pikirannya. Gambar-gambar kabur dan bingung berputar di dalam kepalanya, menciptakan rasa sakit yang luar biasa.
Dongjun berusaha menahannya. Ia menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan teriakan yang pasti akan membuat semuanya lebih buruk. Namun rasa sakit itu begitu tajam, menyiksa setiap serat tubuhnya. Dadanya sesak, dan ia merasa seperti akan kehilangan kesadaran.
Di saat yang sama, Dingzhi yang menunggangi kuda di depan tandu Dongjun merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia mengintip sejenak ke dalam tandu, dan melihat raut wajah Dongjun yang pucat, dipenuhi dengan ketakutan dan kebingungan yang nyata. Hati Dingzhi bergetar, dan tanpa berpikir panjang, ia segera memberi perintah kepada pengawalnya untuk berhenti.
"Kita berhenti di sini," perintah Dingzhi tegas, membuat pengawal segera mengeksekusi perintahnya. Dengan gesit, Dingzhi melompat turun dari kudanya dan mendekati tandu. Wajahnya penuh kecemasan saat ia menghampiri Dongjun yang masih terbaring lemah, berjuang melawan rasa sakit yang terus menghantuinya.
"Dongjun, apa yang terjadi?" tanya Dingzhi dengan suara lembut namun penuh urgensi. Ia mencoba mengatasi kekhawatirannya, tetapi Dongjun hanya duduk diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Raut wajahnya terdistorsi oleh kebingungannya sendiri, dan tubuhnya bergetar hebat.
Melihat ini, Dingzhi tak bisa lagi menahan diri. Dengan gerakan cepat, ia melangkah masuk ke dalam tandu, duduk di hadapan Dongjun yang masih terdiam, hampir tak bergerak. Wajah Dingzhi mendekat, matanya memeriksa setiap detail wajah Dongjun, mencari tanda-tanda yang bisa memberinya jawaban. Namun yang ia temui hanya kebingungan yang dalam dan rasa sakit yang semakin menyesakkan.
Tanpa banyak bicara, Dingzhi mengulurkan tangannya dan dengan lembut mencengkeram pipi Dongjun, memaksa wajahnya untuk menatap langsung ke wajahnya. Sentuhan itu terasa hangat di kulit Dongjun yang dingin dan berkeringat. "Dongjun," suara Dingzhi terdengar lebih lembut kini, "kamu harus memberitahuku apa yang sedang terjadi. Apa yang sedang kau rasakan?"
Dongjun hanya bisa menatap Dingzhi dengan mata yang tampak kosong, seolah-olah dia sedang mencoba memahami dunia yang terbalik di sekitarnya. Tubuhnya mulai merasa berat, dan pandangannya semakin kabur. Ia merasa seperti terjebak dalam sebuah lingkaran tak berujung, dan meskipun ia ingin mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, ia tidak bisa. Rasanya seperti ada sesuatu yang lebih besar yang mengendalikan dirinya, sesuatu yang ia tidak bisa menghindar.
Dingzhi tetap diam, menunggu, tangan yang mencengkeram pipi Dongjun tak melepaskannya. Dengan perhatian penuh, ia menunggu jawaban yang mungkin tidak akan datang dengan mudah.
—
To Be Continue
—
KAMU SEDANG MEMBACA
Betrayed | Yebai
Historical FictionTiān Jiàn Guó (天剑国) - Kerajaan Pedang Langit. Selama ratusan tahun Tiān Jiàn dikenal sebagai Kerajaan dengan seribu ilmu pedang, tidak ada yang bisa mengalahkan teknik pedang mereka. Sampai suatu waktu Tiān Jiàn melahirkan seorang putra yang akan me...
