09. Destiny

587 72 8
                                        

Dingzhi mengehela nafas mengingat hal itu kembali, kalau dipikir-pikir cukup konyol. Apalagi ia tidak bernafsu dengan seorang pria. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang


Dongjun tertidur lelap di atas tempat tidur yang empuk, matanya yang sembab karena tangisan perlahan-lahan tertutup rapat. Nafasnya yang teratur menandakan bahwa ia mulai tenggelam dalam mimpi, jauh dari kenyataan yang begitu rumit dan membingungkan.

Di dalam mimpi itu, Dongjun berada di tempat yang asing namun indah. Sebuah taman luas penuh bunga melati yang harum semerbak, dan hujan rintik-rintik membasahi daun-daun hijau di sekitarnya. Udara terasa segar, namun hangat, menenangkan hati yang resah. Dongjun menoleh ke sekeliling, matanya mencoba mencari tahu di mana ia berada.

Tiba-tiba, di antara bunga-bunga melati yang bermekaran, muncul seorang pria dengan perawakan mungil dan wajah manis. Pria itu tersenyum lembut, wajahnya bercahaya dan tampak begitu ramah, membuat Dongjun seketika merasa tenang. Wanginya begitu menenangkan, seperti melati yang baru saja mekar saat hujan. Dongjun tertegun, terpana oleh pesona pria yang kini berdiri di hadapannya.

Pria itu mendekati Dongjun, lalu tanpa kata-kata, ia mengelus lembut kepala Dongjun, seolah-olah mencoba menenangkan hatinya yang gundah. Gerakannya lembut dan penuh kasih, seakan-akan pria itu sudah mengenal Dongjun sejak lama.

“Aku minta maaf,” suara pria itu terdengar lembut, nyaris berbisik di antara gemericik hujan. “Aku yang menuliskan takdir yang begitu rumit untukmu.”

Dongjun menatap pria itu dengan bingung. Wajah pria itu begitu cantik dan menenangkan, namun kata-katanya membuat Dongjun merasa terjebak dalam sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Ia mendongak, mencoba mencari jawaban di balik senyum pria itu.

“Siapa kau?” Dongjun bertanya, suaranya terdengar penuh kebingungan. “Apakah kau… seorang dewa?”

Pria itu hanya tersenyum kecil, matanya yang hangat memancarkan kasih sayang yang dalam. Ia mengangguk pelan, mengakui pertanyaan Dongjun tanpa banyak kata.

“Aku adalah Dewa Penulis Takdir,” pria itu berkata dengan lembut, suaranya selembut angin yang bertiup di antara kelopak bunga. “Namaku Xie Lian.”

Dongjun terperangah mendengar nama itu, hatinya dipenuhi dengan keheranan dan kekaguman. “Xie Lian… Dewa Penulis Takdir?” gumamnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Bagaimana mungkin ia, seorang manusia biasa, bisa bertemu dengan sosok seperti itu dalam mimpinya?

Xie Lian tersenyum sekali lagi, lalu berlutut di depan Dongjun, menyamakan tinggi mereka. Ia memegang tangan Dongjun dengan lembut, membuat hati Dongjun yang tadinya kacau sedikit lebih tenang.

“Aku tahu, takdir yang kau jalani tidaklah mudah,” Xie Lian berkata, matanya yang penuh kasih menatap langsung ke dalam mata Dongjun. “Namun, setiap jalan yang kuukirkan untukmu adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan kau pahami suatu hari nanti.”

Dongjun menatap ke arah Xie Lian, merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar takdir yang rumit. Ada makna yang lebih besar di balik setiap langkah yang ia ambil. Namun, itu semua terasa begitu jauh dan kabur baginya saat ini.

“Aku tidak mengerti,” Dongjun akhirnya berkata, suaranya terdengar berat. “Kenapa aku? Kenapa takdirku harus begitu rumit?”

Xie Lian menghela napas lembut. “Karena kau dipilih untuk membawa perubahan. Baik bagi dirimu sendiri, maupun bagi dunia di sekitarmu. Tapi ingatlah, tidak ada yang kulakukan tanpa alasan.”

Dongjun merasa air mata mulai menggenang di matanya lagi, namun kali ini bukan karena putus asa, melainkan karena campuran emosi yang sulit ia ungkapkan. Di hadapan dewa yang cantik ini, ia merasa kecil, namun sekaligus diberi harapan.

“Apakah aku akan kuat untuk menghadapi semua ini?” Dongjun bertanya dengan suara bergetar.

Xie Lian mengangguk, kali ini lebih mantap. “Kau akan menemukan kekuatanmu. Dan ingat, kau tidak sendiri. Takdirmu telah diatur, namun kau selalu punya pilihan di sepanjang jalan. Kau hanya perlu mendengar kata hatimu.”

Dongjun mengangguk perlahan, meskipun di dalam hatinya masih ada keraguan. Ia menatap Xie Lian sekali lagi, mencoba menyerap semua nasihat dan ketenangan yang diberikan oleh dewa itu. Di antara mereka, suasana terasa begitu damai, seolah-olah seluruh dunia berhenti hanya untuk mereka.

Xie Lian bangkit perlahan, senyum lembut masih terpancar di wajahnya. “Sekarang tidurlah dengan tenang, Dongjun. Jalanmu mungkin penuh liku, tapi kau akan menemukan jawabannya di waktu yang tepat.”

Saat Xie Lian mulai berbalik, Dongjun melihat sosok lain muncul di antara bunga-bunga melati. Seorang laki-laki dengan baju merah pekat, berdiri anggun dengan payung di tangannya. Pria itu tampak mendekati Xie Lian, lalu dengan lembut melindungi sang dewa dengan payungnya dari hujan rintik-rintik yang turun perlahan.

Dongjun memperhatikan interaksi keduanya dengan rasa ingin tahu. Pria berbaju merah itu memberikan pandangan penuh cinta kepada Xie Lian, dan keduanya tersenyum hangat satu sama lain. Xie Lian kemudian menoleh sekali lagi ke arah Dongjun, sebelum menghilang bersama pria berbaju merah tersebut, seperti kabut yang larut dalam udara.

Saat keduanya menghilang, Dongjun terbangun dari mimpinya, tubuhnya terasa lebih ringan, meskipun hatinya masih dipenuhi oleh pertanyaan yang belum terjawab.

To be continue

Betrayed | YebaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang