-
Dongjun menatapnya heran, tapi Dingzhi segera melangkah maju, menyusulnya dengan langkah cepat. Ia kembali menjadi sosok tenang yang selalu Dongjun kenal, namun sekarang ada sesuatu yang berbeda di matanya. Sesuatu yang disembunyikan dan Dongjun tidak tahu bahwa langkah mereka baru saja menyentuh permukaan dari misteri yang jauh lebih dalam.
-
Dingzhi baru hendak menyusul Dongjun ketika langkah seseorang berhenti tepat di hadapannya.
Jing Yuan.
Pria tinggi itu menoleh dengan senyum yang tenang namun penuh teka-teki. Tatapan matanya tajam, seolah mampu menembus segala lapisan emosi yang coba Dingzhi sembunyikan. Senyum tipis masih menggantung di bibirnya ketika ia mengangkat tangan dan menepuk pelan pundak Dingzhi.
"Jangan terlalu khawatir," ujarnya ringan, nada bicaranya santai tapi menyiratkan pemahaman yang dalam. "Aku kemari hanya untuk bertemu dengan Paman."
Dingzhi tidak langsung menjawab. Matanya menelisik penampilan Jing Yuan, pakaian serba hitam dengan potongan asing yang tidak lazim dipakai para bangsawan istana, dihiasi garis emas yang tampak seperti simbol kuno. Tapi yang paling mencolok adalah hiasan di kepalanya, sebuah ornamen perak kehitaman berbentuk tanduk kecil yang menyatu dengan ikat rambutnya, seperti menyatakan bahwa ia bukan bagian dari dunia manusia sepenuhnya.
Sebuah fakta yang tidak perlu diucapkan.
Jing Yuan bukan manusia.
Dongjun, yang melihat interaksi mereka dari jarak tak jauh, menatap pria itu dengan hati-hati. Meski Jing Yuan tidak menunjukkan ancaman secara langsung, aura yang mengelilinginya berbeda. Udara di sekitar Jing Yuan terasa lebih berat, seolah kehadirannya membawa dimensi lain yang tersembunyi di balik senyumnya yang tenang.
"Apa dia... iblis?" pikir Dongjun spontan, meskipun tidak berani mengucapkannya.
"Sudah lama tidak bertemu, Dingzhi," lanjut Jing Yuan, masih dengan nada hangat. "Kau tumbuh menjadi penerus kerajaan yang baik rupanya."
Dingzhi akhirnya berbicara, nada suaranya lebih kaku dari biasanya. "Apa kau diundang?"
Jing Yuan tertawa kecil. Tawa itu tidak dingin, tapi ada nada ambigu di dalamnya. "Aku tidak butuh undangan untuk bertemu dengan keluarga sendiri, bukan?"
Dingzhi menahan komentar yang hendak keluar. Ia tahu betul siapa Jing Yuan, keponakan ayahnya dari garis darah ibunya, yang berdarah campuran antara manusia dan makhluk dari dunia lain. Jing Yuan tidak pernah sepenuhnya tinggal di istana, lebih sering menghilang ke tempat-tempat asing bersama kelompoknya, namun setiap kali muncul, selalu membawa perubahan.
Dan kehadirannya sekarang... hanya bisa berarti satu hal.
Sesuatu akan terjadi.
"Berhati-hatilah, Dongjun," bisik Dingzhi perlahan, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat Dongjun menoleh padanya.
"Kenapa?" tanya Dongjun pelan, menyadari adanya ketegangan yang baru di udara.
Dingzhi tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Jing Yuan yang berjalan santai menjauh dari mereka, seolah-olah istana ini masih sebagian miliknya.
Dan dalam diam, Dingzhi merasakan firasat yang buruk, seakan-akan pernikahan, ramalan, dan semua beban yang mereka bawa... baru awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
-
Dingzhi masih menatap punggung Jing Yuan yang perlahan menghilang di antara lorong-lorong istana. Sesuatu di dalam dirinya mengeras, seperti dinding insting yang selama ini ia biarkan diam. Firasatnya berbicara lebih cepat daripada logikanya.
Tanpa banyak bicara, ia menggenggam tangan Dongjun.
Dongjun terkejut, bukan hanya karena sentuhan itu terasa mendadak dan hangat, tetapi karena untuk pertama kalinya, Dingzhi menggenggamnya bukan karena formalitas, melainkan karena ketegangan yang nyata.
"Ayo ikut aku," ucap Dingzhi cepat.
Dongjun tidak melawan. Ia mengikuti langkah Dingzhi yang kini berubah lebih cepat, lebih tergesa, seperti ingin menjauh dari sesuatu... atau seseorang.
Mereka melintasi koridor dengan tiang-tiang batu dan lampu gantung yang sudah mulai menyala. Sinar matahari senja kini berubah menjadi cahaya jingga pucat yang menyelinap dari balik kisi-kisi jendela. Tidak ada kata-kata di antara mereka hingga akhirnya mereka tiba di paviliun pribadi milik Dingzhi tempat yang biasanya tenang, penuh protokol, dan dijaga ketat oleh dayang dan pengawal.
Namun sore itu berbeda.
Begitu mereka masuk, Dingzhi langsung berkata tegas, "Keluar. Semua."
Para dayang dan dua orang pengawal yang berjaga di dalam ruangan saling berpandangan sebentar, tampak ragu, tapi kemudian menunduk dan keluar satu per satu tanpa berkata apa-apa. Meninggalkan Dingzhi dan Dongjun... berdua.
Begitu pintu paviliun tertutup kembali, suasana menjadi senyap. Tidak ada suara selain hembusan angin dari jendela terbuka dan detak jantung yang terasa di kepala masing-masing.
Dingzhi melepaskan genggaman tangannya dari tangan Dongjun, lalu berjalan ke tengah ruangan. Bahunya sedikit menegang, pikirannya berlari terlalu cepat.
Dongjun berdiri di ambang pintu, masih bingung dan sedikit kaku. Ia tidak terbiasa dengan ruang ini, apalagi sendirian bersama Dingzhi di dalamnya. Namun ia juga tahu, bahwa apa pun yang sedang terjadi... ini bukan hal kecil.
Dingzhi akhirnya bicara, namun tanpa menatap Dongjun secara langsung.
"Orang tadi... Jing Yuan," katanya pelan. "Dia bukan orang biasa. Dia bukan sekadar sepupuku."
Dongjun mendengarkan diam-diam.
"Aku tidak tahu kenapa dia muncul sekarang. Tapi setiap kali dia muncul, selalu ada sesuatu yang berubah." Dingzhi menatap ke luar jendela. "Terakhir kali dia datang ke istana... tiga tahun lalu. Dan malam itu, salah satu penasihat utama ayahku menghilang tanpa jejak."
Dongjun merasakan hawa dingin merayap di punggungnya.
"Dia bilang ingin bertemu dengan paman," lanjut Dingzhi, "tapi tidak mungkin itu satu-satunya alasan."
Akhirnya, ia menoleh ke arah Dongjun. Wajahnya kini lebih terbuka.. tidak lagi hanya dingin dan tertutup seperti biasanya, tapi juga sedikit... takut.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi kau harus tahu satu hal, Dongjun."
Langkahnya perlahan mendekat.
"Mulai sekarang, jangan percaya siapa pun sepenuhnya... bahkan keluargaku sendiri."
-
To be continue
-
KAMU SEDANG MEMBACA
Betrayed | Yebai
Historical FictionTiān Jiàn Guó (天剑国) - Kerajaan Pedang Langit. Selama ratusan tahun Tiān Jiàn dikenal sebagai Kerajaan dengan seribu ilmu pedang, tidak ada yang bisa mengalahkan teknik pedang mereka. Sampai suatu waktu Tiān Jiàn melahirkan seorang putra yang akan me...
