—
Dingzhi tetap diam, menunggu, tangan yang mencengkeram pipi Dongjun tak melepaskannya. Dengan perhatian penuh, ia menunggu jawaban yang mungkin tidak akan datang dengan mudah.
—
Karena Dongjun terus membisu, tidak mengeluarkan sepatah kata pun, Dingzhi akhirnya menghela napas dengan kesal. Ketidakpastian yang tertinggal di antara mereka semakin terasa mencekam. Keheningan itu membuat Dingzhi semakin tak sabar, dan tanpa banyak berkata-kata lagi, ia bangkit dari posisinya, keluar dari tandu, dan memberi perintah agar perjalanan dilanjutkan. Kuda-kuda itu bergerak lagi, membawa mereka menuju tujuan mereka selanjutnya: istana.
Perjalanan yang semula terasa cukup panjang kini terasa semakin membosankan bagi Dingzhi, yang masih dibebani oleh kekhawatiran terhadap kondisi Dongjun. Namun, tidak ada pilihan selain melanjutkan. Mereka akhirnya tiba di istana, dan begitu mereka sampai, Dongjun langsung dibawa ke paviliun utama milik Dingzhi.
Dongjun duduk di teras paviliun, matanya menunduk rendah, seolah ingin menghindari pandangan dunia sekitarnya. Suasana yang sunyi di sekitar paviliun hanya membuat perasaan Dongjun semakin tertekan. Hanya suara angin yang berdesir lembut dan burung yang sesekali berkicau yang terdengar, sementara hatinya penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab.
"Apakah masa depanku seperti itu?" Dongjun bergumam pelan, matanya kosong menatap ke tanah di bawahnya. "Tetapi mengapa aku bisa melihatnya? Apa artinya semua ini?"
Pikirannya yang masih diselimuti kebingungan dan kekhawatiran seolah-olah semakin berat. Bayangan masa depan yang samar-samar terus menghantui pikirannya, membingungkan dan menakutkan, tapi ia merasa tak mampu menjelaskan apa yang terjadi di dalam dirinya. Ia merasa seolah-olah ada sesuatu yang mendesaknya untuk memahami takdir ini, namun ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Dingzhi yang sedang berdiri tidak jauh darinya akhirnya tidak tahan lagi. Melihat Dongjun yang terlarut dalam keheningan dan kebingungannya membuat hatinya geram. Ia mendekat dengan langkah cepat dan, tanpa peringatan, menampar wajah Dongjun dengan keras.
Pekikan pelan terdengar dari mulut Dongjun yang terkejut, wajahnya terbalik oleh tamparan itu. Namun, yang paling mengejutkan adalah sorot mata Dingzhi. Mata Dingzhi penuh dengan kemarahan yang begitu dalam, hampir seperti meledak. Ada kekecewaan yang terpendam, dan mungkin, juga rasa takut.
"Apakah kau mendadak bisu?" suara Dingzhi keluar dengan nada tegas, penuh ketegangan. "Atau kesurupan?" tanya Dingzhi lagi, nada suaranya tidak bisa disembunyikan, mencampurkan rasa frustrasi dan kecemasan yang makin menggebu.
Dongjun terdiam sejenak, perasaan kesal dan marah bercampur aduk dalam dirinya. Ia menahan sakit di pipinya yang terasa perih akibat tamparan itu, tapi hatinya lebih pedih lagi. Mengapa ia tidak bisa menjelaskan apa yang dirasakannya? Mengapa ia tidak bisa mengungkapkan apa yang seharusnya ia tahu? Pikiran dan perasaan yang saling bertentangan semakin membuatnya terjepit di antara dua dunia yang tidak dapat ia pahami sepenuhnya.
Dingzhi menatapnya tajam, menunggu jawaban. Namun, Dongjun tetap tidak mengeluarkan suara, tidak merespons. Wajahnya masih terkulai, tenggelam dalam kebingungannya sendiri, tak mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
Dingzhi mendengus kesal, merasa seperti berhadapan dengan tembok yang tak dapat ia tembus. "Kau bisa melakukan lebih dari sekadar diam, Dongjun!" kata Dingzhi, suaranya lebih rendah sekarang, hampir seperti sebuah peringatan. Ia berjalan mundur, matanya masih memancarkan ketegangan, namun ia tahu bahwa Dongjun membutuhkan lebih dari sekadar kemarahan untuk mengeluarkan apa yang tersembunyi di dalam dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Betrayed | Yebai
Ficción HistóricaTiān Jiàn Guó (天剑国) - Kerajaan Pedang Langit. Selama ratusan tahun Tiān Jiàn dikenal sebagai Kerajaan dengan seribu ilmu pedang, tidak ada yang bisa mengalahkan teknik pedang mereka. Sampai suatu waktu Tiān Jiàn melahirkan seorang putra yang akan me...
