—
Di dalam keheningan yang kembali menyelimuti mereka, kedua tubuh itu terbaring berdekatan, dengan pikiran masing-masing yang penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab.
—
Keesokan paginya, suasana pagi yang sepi terasa berbeda. Dongjun terbangun lebih awal, merasakan udara pagi yang dingin menyentuh kulitnya. Ia beranjak dari tempat tidur, dengan langkah ringan dan hati yang tak dapat diungkapkan. Ada perasaan cemas yang menyelubunginya, meskipun ia mencoba untuk menyembunyikannya. Ia mulai mempersiapkan dirinya, mengenakan hanfu yang sederhana namun elegan, dan merapikan rambutnya dengan hati-hati. Pagi ini terasa berbeda, seperti sesuatu yang penting menunggu di depan sana.
Sementara itu, Dingzhi baru terbangun setelahnya, tidur yang tampaknya cukup lelap setelah hari yang panjang kemarin. Ia memandang sekeliling, menyadari bahwa Dongjun sudah lebih dulu siap. Tanpa banyak bicara, Dingzhi pun mulai mempersiapkan dirinya, menyadari bahwa hari ini adalah hari yang penuh arti.
Dongjun keluar dari kamar dengan langkah tenang, namun begitu ia melangkah beberapa langkah ke luar, ia mendapati sejumlah dayang dan pengawal yang mengikuti di belakangnya. Mereka bergerak dengan rapi, seolah tak ingin melewatkan gerak-geriknya. Dongjun berhenti sejenak, merasakan pandangan mereka yang selalu mengawasi setiap langkahnya. Dengan suara pelan, ia berkata, "Aku tidak akan kabur, tenang saja."
Salah satu dayang wanita, dengan wajah yang ramah namun penuh rasa hormat, menjawab, "Maafkan kami, tuan, tetapi kami sudah diperintahkan untuk menjagamu dan mengikutimu selalu."
Dongjun menghela napas panjang, merasa sedikit gusar dengan keadaan itu. Sebenarnya, ia hanya ingin berjalan sebentar di taman dekat paviliun, menikmati udara pagi dan menenangkan pikirannya sebelum pertemuan yang besar itu. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan terhadap perintah yang sudah diberikan.
"Baiklah, terserah kalian saja," katanya akhirnya, suara yang terdengar datar dan sedikit kecewa. Ia melangkah lagi, dengan dayang dan pengawal yang terus mengikuti di belakangnya, meskipun hatinya sebenarnya ingin merasakan sedikit kebebasan, meskipun hanya untuk beberapa saat. Taman yang indah dengan bunga-bunga yang bermekaran itu seakan menawarkan kedamaian yang sangat ia butuhkan, namun ia harus menerimanya dengan perasaan yang terbebani oleh berbagai hal yang tak bisa dihindari.
Keheningan yang mendalam di taman itu tiba-tiba terpecah oleh suara Dingzhi, yang menyusup ke telinga Dongjun dengan lembut namun penuh arti. "Kau menyukai bunga itu? Ketika kita menikah nanti, akan ku beri paviliun yang penuh dengan bunga," ucapnya, dengan nada yang tampak seperti sebuah janji yang tulus, meskipun ada ketegangan yang tak terungkap di balik kata-katanya.
Semua dayang dan pengawal yang berada di sekitar mereka langsung tunduk hormat dengan penuh rasa hormat. "Yang Mulia," ujar mereka serentak, suara mereka terdengar lembut, mencerminkan kedudukan mereka yang harus tunduk pada perintah dan aturan yang berlaku.
Dongjun, yang telah mendengarkan ucapan Dingzhi dengan penuh perhatian, hanya menoleh perlahan. Tanpa ekspresi yang jelas, ia menjawab dengan suara yang lebih tenang, "Tidak apa-apa, aku ingin tinggal di sini saja setelah menikah."
Kata-kata itu terucap begitu saja, seolah tidak ada perlawanan atau rasa keberatan sedikit pun dalam dirinya. Dongjun tidak marah, tidak mengelak, bahkan tidak tampak terkejut. Sikapnya sangat pasrah, bahkan cenderung menerima apa yang telah ditawarkan, meskipun hatinya penuh dengan ketidakpastian. Ada sesuatu yang terasa begitu datar dan penuh kebingungan dalam cara Dongjun menyampaikan itu semua.
Dingzhi mengerutkan dahinya, merasa kebingungannya semakin dalam. *Apa-apaan ini?* pikirnya, merasa tak habis pikir. Mengapa Dongjun menanggapi perkataannya dengan begitu pasrah? Mengapa tidak ada perlawanan sama sekali? Tidak ada marah, tidak ada penolakan, tidak ada pertanyaan. Semua yang dikatakan Dongjun terasa seperti jawaban yang sudah diterima sebelumnya, meskipun itu adalah kenyataan yang belum pasti.
Dingzhi terdiam sejenak, matanya menelusuri sosok Dongjun yang tampaknya semakin jauh darinya, meskipun tubuh mereka hanya terpisah oleh beberapa langkah saja. Perasaan aneh mulai muncul dalam dirinya—perasaan bingung dan gelisah yang makin sulit untuk dipahami.
"Kenapa?" gumam Dingzhi pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Dongjun.
Dongjun memandang Dingzhi sejenak, perasaan dalam dirinya sulit dijelaskan. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum berkata, "Aku ingin berbicara berdua denganmu, apakah bisa?"
Dingzhi yang mendengar itu menatap Dongjun dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, namun tak ragu memberikan izin. Dengan satu hentakan jari, ia memberi perintah kepada semua dayang dan pengawal untuk pergi dari tempat itu. Mereka semua mundur dengan hormat, meninggalkan kedua pria itu sendirian di tengah taman yang sepi, hanya ada angin yang berdesir di antara mereka.
Keheningan menyelimuti mereka sejenak, hingga akhirnya Dongjun tersenyum tipis, meski senyum itu lebih tampak seperti senyum yang penuh keraguan. "Bolehkah aku meminta suatu hal kepadamu?" tanyanya pelan, matanya menatap Dingzhi dengan penuh arti.
Dingzhi sedikit terkejut, namun ia menanggapi dengan suara yang lembut, meski ada rasa penasaran yang muncul. "Ya, apa itu?" jawabnya, suaranya penuh perhatian.
Dongjun mengambil napas panjang, merasa berat untuk mengucapkan apa yang ada di dalam hatinya. "Aku ingin agar pernikahan kita dilaksanakan secara rahasia," katanya dengan hati-hati. "Aku tidak ingin pernikahan kita diumumkan kepada seluruh negeri. Aku juga... aku juga ingin kau memiliki selir, jika itu yang kau inginkan. Aku tidak masalah dengan itu."
Kata-kata itu keluar begitu saja, seperti sebuah permintaan yang terdengar luar biasa, namun terdengar begitu tulus dan tanpa tuntutan. Dongjun tidak mengharapkan balasan yang memaksa, hanya ingin meminta sedikit kebebasan, meskipun ia tahu itu tidak akan mudah diterima.
Dingzhi terkejut mendengar permintaan itu, dan reaksinya langsung terbaca jelas di wajahnya. Wajahnya mengernyit, rautnya mengeras, dan dengan suara yang lebih serius, ia menjawab, "Tidak. Pernikahan kita hanya akan terjadi sekali, dan itu akan diumumkan ke seluruh negeri. Tidak ada yang namanya rahasia dalam pernikahan ini. Aku tidak akan menerima selir lainnya, hanya kau, Dongjun."
Ada ketegangan yang bisa dirasakan di antara mereka, seolah-olah keputusan ini adalah keputusan penting yang akan membentuk masa depan mereka. Dongjun menatap Dingzhi dengan ekspresi yang sulit dibaca, namun ia tidak bisa menyembunyikan perasaan kecewa yang mulai menyelimutinya.
Dingzhi melanjutkan dengan nada yang lebih tegas, "Aku ingin semuanya jelas, Dongjun. Aku ingin kita berjalan bersama tanpa ada keraguan. Tidak ada ruang untuk hal-hal yang tersembunyi."
Dongjun hanya mengangguk perlahan, meskipun hatinya masih terasa penuh dengan pertanyaan. Ia tahu bahwa pernikahan ini bukan sesuatu yang sederhana, dan meskipun ia mencoba untuk menerima kenyataan, ada banyak hal yang harus ia hadapi.
"Baiklah," jawab Dongjun akhirnya, suaranya rendah dan penuh kepasrahan. "Jika itu yang kau inginkan."
Dingzhi memandangnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan, seolah-olah ingin memastikan bahwa apa yang ia putuskan benar-benar diterima oleh Dongjun. Keheningan kembali melingkupi mereka, hanya suara angin yang terdengar, seolah waktu berjalan perlahan di antara keputusan-keputusan yang harus mereka hadapi bersama.
—
To Be Continue
—
KAMU SEDANG MEMBACA
Betrayed | Yebai
Historical FictionTiān Jiàn Guó (天剑国) - Kerajaan Pedang Langit. Selama ratusan tahun Tiān Jiàn dikenal sebagai Kerajaan dengan seribu ilmu pedang, tidak ada yang bisa mengalahkan teknik pedang mereka. Sampai suatu waktu Tiān Jiàn melahirkan seorang putra yang akan me...
