—
"Mulai sekarang, jangan percaya siapa pun sepenuhnya... bahkan keluargaku sendiri."
—
Keheningan menyelimuti paviliun setelah peringatan Dingzhi. Angin sore masih masuk lewat celah jendela, membawa aroma bunga plum yang mulai gugur. Dongjun berdiri di tempatnya, menatap punggung Dingzhi yang kini hanya berjarak beberapa langkah darinya.
Lalu, dengan nada nyaris seperti gumaman, Dongjun berkata pelan, "Sebenarnya sedari awal pun aku tidak percaya padamu…”
Sebuah kejujuran yang terdengar datar, tapi bukan tanpa luka.
Namun, sebelum kesan itu menenggelamkan suasana, ia menambahkan, masih dalam nada ringan, bahkan sedikit menggoda, “…tapi kalau diperhatikan, sepupumu itu cukup tampan juga.”
Kata-katanya melayang di udara, mungkin tidak diniatkan untuk didengar… tapi tentu saja, Dingzhi mendengarnya dengan sangat jelas.
Dingzhi menoleh sekilas, mata sipitnya sedikit menyipit. Tidak ada kata balasan. Ia hanya menghela napas pelan dan berjalan menjauh, menahan sesuatu yang entah kesal, entah jengkel, atau mungkin... sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.
Ia duduk dengan anggun namun penuh tekanan di kursi samping meja rias. Cermin di depannya memantulkan bayangan wajahnya yang tegang dagu yang sedikit terangkat, dan alis yang kini membentuk garis ketidaksabaran yang halus.
“Tampan?” pikirnya. "Dia bilang sepupuku tampan?”
Itu bukan kalimat yang seharusnya mengganggu perasaannya. Tapi entah kenapa, hati Dingzhi terasa tersenggol. Mungkin karena cara Dongjun mengucapkannya dengan ringan, seolah-olah kehadiran Jing Yuan bisa menggeser dunia mereka yang sudah cukup rumit.
Dongjun, yang menyadari perubahan suasana, mengerutkan dahi sedikit.
Ia melangkah pelan mendekat. “Kau… marah?” tanyanya, tidak yakin apakah yang barusan ia katakan salah. Lagipula, ia hanya menggoda. Atau… mungkin ia ingin melihat reaksi Dingzhi?
Dingzhi tidak menjawab langsung. Ia mengambil sisir dari meja rias, memainkan gagangnya tanpa menyisir rambutnya sama sekali.
Setelah beberapa detik hening, ia akhirnya menjawab pelan, datar tapi menusuk, “Aku tidak peduli siapa yang menurutmu tampan. Tapi kalau kau tertarik pada Jing Yuan, sebaiknya berhati-hatilah.”
Dongjun mengangkat alis. “Kenapa? Dia berbahaya?”
Dingzhi menoleh, tatapannya tajam namun sulit dibaca. “Dia... tidak terbiasa bermain dengan aturan manusia.”
Dongjun menatapnya dalam. Di balik ketegasan Dingzhi, ia menangkap sesuatu yang lain. Bukan hanya peringatan. Ada sesuatu yang lebih pribadi, lebih... emosional.
Tiba-tiba, atmosfer di ruangan itu terasa lebih padat. Seperti benang yang menegang di antara mereka tidak karena permusuhan, tapi karena sesuatu yang tak diucapkan dengan jujur.
Dan untuk sesaat, mereka hanya saling menatap. Tak ada kata. Hanya ketegangan, keheningan, dan perasaan samar yang terus berusaha mereka abaikan.
Dengan senang hati! Berikut kelanjutan adegan yang kamu inginkan, suasana yang ringan namun tetap emosional, memperlihatkan sisi baru dari Dongjun yang mulai membuka dirinya, serta respons Dingzhi yang tanpa sadar semakin terikat secara emosional:
Setelah hening beberapa saat, Dongjun memiringkan kepalanya sedikit, lalu mengangkat bahu dengan santai.
“Yah, kalau sepupumu memang berbahaya, mungkin aku harus hati-hati,” katanya, suaranya ringan. “Tapi... sepertinya dia bukan tipeku. Terlalu tinggi. Terlalu serius. Dan... terlalu bersih.”
Ia menoleh pada Dingzhi yang masih duduk dengan wajah datar.
“Lagipula,” lanjutnya sambil tersenyum kecil, “kalau aku memang harus jatuh cinta pada seseorang di istana ini, kurasa... ada kandidat lain yang lebih menyebalkan tapi lumayan menarik.”
Dingzhi menoleh cepat padanya, alis terangkat. “Apa maksudmu?”
Dongjun hanya tertawa pelan, bukan tawa mengejek, bukan tawa formal, tapi tawa lepas yang terdengar seperti dirinya yang sesungguhnya, untuk pertama kalinya. Suaranya ringan, bening, dan begitu asing di dalam ruangan penuh tekanan dan formalitas ini.
Dingzhi terdiam.
Wajahnya perlahan berubah, bukan karena marah, tapi karena terpesona.
Untuk sesaat, ia lupa bahwa mereka berada di tengah permainan politik, di antara ramalan dan perjanjian kerajaan. Yang ia lihat saat ini hanya seorang pemuda… tertawa tanpa beban, tanpa topeng, tanpa luka di matanya. Hanya ketulusan sederhana dari seseorang yang mulai menertawakan hidup, meski hidup tidak pernah mudah.
Tanpa sadar, Dingzhi berdiri.
Langkahnya pelan. Ia mendekat.
Sebelum Dongjun sempat bertanya, Dingzhi mengangkat tangannya dan—dengan gerakan halus, melepaskan ikat kepala Dongjun. Kain itu jatuh perlahan, meluncur turun seperti kabut yang tersibak.
Rambut panjang Dongjun yang tersusun rapi sebelumnya kini terurai bebas, jatuh dengan lembut di sepanjang bahunya, membingkai wajahnya yang bersih dan penuh kejujuran. Untaian rambut itu bergerak mengikuti angin yang masuk dari jendela, menciptakan bayangan lembut di pipinya.
Dingzhi menatap tanpa berkata apa-apa.
Dia cantik. Bahkan sebagai laki-laki, Dongjun memiliki kelembutan alami yang sulit diabaikan, terutama saat ia berhenti berpura-pura menjadi sosok yang selalu tenang dan patuh.
Dongjun terdiam sesaat, menyadari sentuhan itu. Matanya bertemu mata Dingzhi.
“Kenapa... kau lepas ikat kepala-ku?” tanyanya pelan, hampir berbisik.
Dingzhi membuka mulutnya, ingin menjawab... tapi tidak tahu jawaban apa yang tepat. Ia hanya bisa menatap rambut yang kini terurai dan berpikir:
"Kenapa aku ingin melihatnya seperti ini?"
Namun yang keluar hanyalah kalimat singkat, pelan, namun jujur:
“…Karena aku ingin tahu seperti apa wajahmu... saat kau tidak menyembunyikan dirimu.”
Dongjun menatapnya, kali ini tak ada senyum, hanya keheningan yang mendalam di antara mereka.
Sesuatu sedang berubah.
—
To be continue
—
KAMU SEDANG MEMBACA
Betrayed | Yebai
Historical FictionTiān Jiàn Guó (天剑国) - Kerajaan Pedang Langit. Selama ratusan tahun Tiān Jiàn dikenal sebagai Kerajaan dengan seribu ilmu pedang, tidak ada yang bisa mengalahkan teknik pedang mereka. Sampai suatu waktu Tiān Jiàn melahirkan seorang putra yang akan me...
