12. Pavilion

248 32 0
                                        

Di bawah langit yang semakin gelap, Dongjun menangis dalam diam, merasakan kesepian yang mendalam.

Dongjun memasuki kamar yang luas dengan langkah ringan, seolah ruangan itu terasa terlalu besar dan sunyi. Kamar yang dihiasi dengan perabotan mewah dan ornamen elegan itu tampak hampir kosong, seolah tidak ada yang menghuninya. Di satu sudut ruangan, sebuah lemari besar dengan pintu kayu terbuka, memperlihatkan koleksi hanfu yang tertata rapi. Setiap kainnya mencerminkan keindahan dan kesempurnaan, dengan warna dan desain yang mewah. Namun, mata Dongjun tertuju pada satu set hanfu yang berbeda, yang tidak mencolok namun tetap elegan. Sebuah hanfu wanita, dengan bahan yang tipis dan jatuh dengan lembut hingga sebatas lutut. Warna merah muda yang lembut seolah memantulkan sedikit cahaya dari luar jendela.

Ia memutuskan untuk mengenakannya. Tanpa terburu-buru, Dongjun melepaskan pakaian yang dikenakannya dan menggantinya dengan hanfu tersebut. Rambutnya yang panjang terurai bebas, jatuh menutupi bahu dan lehernya. Ia berdiri di depan cermin, memandang refleksinya. Ada sesuatu yang tampak berbeda dari dirinya, atau mungkin hanya perasaan dalam dirinya yang berubah. Sebuah senyum tipis terbentuk di bibirnya, namun senyum itu terasa lebih seperti kebingungannya sendiri yang memudar.

Saat itulah pintu kamar terbuka dengan pelan, dan Dingzhi memasuki ruangan. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat Dongjun yang berdiri dengan pakaian baru itu. Matanya tak bisa lepas dari sosok yang tampak begitu berbeda di hadapannya. Tidak hanya pakaian yang dikenakan Dongjun, tetapi juga sikap dan aura yang terpancar darinya. Dingzhi menatapnya, sejenak terkunci dalam kebingungannya sendiri, sebelum melangkah masuk dengan lebih pasti.

"Ini kamarku," ujar Dingzhi, suaranya tetap tegas, tetapi ada nada yang lebih dalam, yang entah bagaimana menggetarkan suasana. "Mulai sekarang, kau tidur denganku."

Dongjun menatapnya dengan lembut, seolah mencerna kata-kata itu. Tidak ada penolakan, hanya kebingungan yang terbalut dalam ketenangan. Perlahan, ia mengangguk, jawaban yang mengalir tanpa banyak pikiran.

"Baiklah," jawabnya pelan, suaranya hampir seperti desahan angin. Ia menundukkan kepala, merasa tidak ada gunanya menolak lagi, seperti tidak ada pilihan selain mengikuti arus yang sudah terbentuk.

Dingzhi melangkah menuju kasur besar, melepaskan jubahnya dengan gerakan cepat, kemudian berhenti dan menatap ke arah Dongjun yang masih berdiri di sana. Sejenak, mata mereka bertemu, ada ketegangan yang tercipta di antara keduanya, meski tak ada kata yang diucapkan.

Akhirnya, Dongjun membuka mulut, suara lembutnya mengalir keluar, seperti sebuah bisikan yang penuh pertanyaan. "Apakah kau tidak membersihkan diri dulu?"

Dingzhi menoleh ke arahnya, wajahnya tidak menampakkan ekspresi apa pun, hanya sedikit mengedikkan bahu, tanda bahwa ia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. "Mungkin nanti," jawabnya singkat, seolah tidak ada yang terlalu penting selain melanjutkan apa yang sudah dimulai.

Dongjun memperhatikan dengan cermat, merasakan sedikit kebingungannya sendiri. Tanpa banyak berpikir, ia melangkah mendekat, matanya tidak lepas dari Dingzhi. "Biarkan aku membersihkan tubuhmu," katanya, suaranya lebih rendah kali ini, seolah ingin menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar sebuah permintaan.

Dingzhi terdiam, matanya memperhatikan setiap gerakan Dongjun. Untuk sesaat, ada keheningan yang melingkupi mereka berdua. Dongjun tidak buru-buru, hanya menunggu, memberi ruang bagi Dingzhi untuk memutuskan. Tapi ada sesuatu dalam tatapan Dingzhi yang berubah, sebuah ketegangan yang tidak bisa disembunyikan. Tidak ada jawaban langsung, tetapi tidak ada penolakan juga.

Betrayed | YebaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang