Keesokan harinya, Gito bingung apakah dia harus menjemput Shani atau tidak, karena kejadian kemarin, ia mengingat lekas pulang menjemput Shani ia curhat kepada Daniel. Tentu Daniel memarahi nya dengan keras namun membuat Gito sadar akan beberapa hal, bahwa ia cemburu. Cemburu karena untuk waktu yang cukup lama (Sekitar 1 bulan) Ia tidak bisa untuk duduk berdua dan bercanda berdua seperti apa yang Vino dengan Shani lakukan malam itu, walau mereka memang belajar.
Kecemburuan itu... Valid. Namun cara nya yang salah, kurang lebih begitu kata Daniel, Daniel juga bilang bahwa hal pertama yang harus di lakukan adalah minta maaf dan menjelaskan situasi, oleh karena itu sekarang Gito sudah menunggu di depan rumah Shani, untuk berangkat bersama.
Kereta pikiran Gito terus mengalir, ia terus memikirkan apa yang harus dikatakan. Sebagian dari dirinya merasa tidak adil, dia berhak marah namun sebagian juga merasa dirinya keterlaluan semalam.
"Gito?"
Suara yang agak kaget dan memiliki unsur pertanyaan itu membuat Gito menengok, benar saja itu Shani. Ia terlihat bingung melihat Gito disana pada pagi itu.
"Pagi, ayo berangkat" Ucap Gito, sedikit awkward karena tensi di antara mereka, tapi Gito tetap memberanikan diri untuk menjadi seperti 'biasa' di pagi ini.
Shani berjalan menghampiri Gito dengan mukanya yang masih bingung, ia berhenti sejenak sebelum akhirnya berkata "Aku kira kamu ga bakal jemput aku, aku udah bilang ke temen-temen ku yang lain kalo aku berangkat sama mereka."
Gito menghela nafasnya, ntah kenapa lagi ia merasa amarah nya menaik. "Ga mungkin aku ga jemput kamu," Ucapnya dengan nada yang tidak mengenakan, hal itu membuat Shani menunduk, tidak bisa menatap mata Gito.
Gito menyadari hal itu, dan langsung mencoba mengkoreksi mood nya agar tidak teriritasi lagi. "Gapapa, maaf ya. Aku juga mau minta maaf soal semalem, aku mikir aku cemburu... karena udah sebulan kamu sibuk, dan ngeliat kamu ada waktu untuk bercanda kaya gitu sama cowok lain bikin aku kesel. Aku tau caraku salah, aku minta maaf nanti pulang sama aku ya?" Ucap Gito sembari memegang tangan Shani dan mengusap nya dengan lembut.
Sekarang mereka saling menatap, ya pada akhirnya Shani memaklumi hal itu, karena apa yang di rasa oleh Gito masuk pada nalar pemikiran nya, ia paham. Namun satu hal yang ia rasa ia harus luruskan, bahwa ia tidak sedang bercanda, namun belajar walau memang diselipkan sedikit untuk menaikkan mood di malam itu, namun intinya adalah mereka belajar.
Shani menarik napas panjang sebelum merespons. Ia menggenggam tangan Gito yang memegang tangannya, memberikan sedikit tekanan seolah ingin meyakinkan bahwa dia tidak marah.
"Aku ngerti, Git," ucapnya pelan, suaranya lembut namun tegas. "Tapi aku juga perlu kamu ngerti. Aku sama Kak Vino kemarin itu bukan bercanda, kita belajar. Memang ada momen kita ketawa-ketawa, tapi itu cuma biar suasananya nggak terlalu tegang."
Gito menghela nafasnya, "Aku tahu, tapi pemandangan itu aku ga suka. Kamu paham kan maksud ku?"
Shani menaikkan satu alisnya mulai merasa iritasi dengan kata-kata Gito, "Jadi maksudnya aku ga boleh belajar sama guruku?"
"Ga gitu"
"Terus apa Gito?"
Gito terdiam, menatap Shani dengan frustrasi yang berusaha ia redam. Ia tahu jika ia salah bicara, situasi ini bisa semakin buruk. Tapi di sisi lain, perasaannya yang terus berkecamuk membuatnya sulit menjelaskan dengan benar.
"Aku nggak bilang kamu nggak boleh belajar sama Kak Vino," Gito akhirnya membuka suara, nadanya lebih tenang dari sebelumnya. "Tapi aku... aku cuma nggak suka lihat kamu lebih nyaman sama orang lain, apalagi cowok. Ya... Kamu kan tau sendiri aku nembak kamu dari pas kamu bahkan gatau namaku siapa, terus kamu terima gitu aja, gimana kalau kamu nyaman sama cowok lain?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Masa Sekolah
RomanceApajadinya jika Gito di kerjai oleh teman-temannya dan di daftarkan pada acara confession di festival sekolahnya, semua hal terjadi secara tidak sengaja dan karena keusilan. Akankah Gito malu? Atau akan kah ada kisah kasih selama masa putih abu-abu...
