Di kamar sebelah, aku disambut oleh seorang wanita dengan wajah tanpa ekspresi. Dia mengeluarkan pakaian wanita dan alat rias dari sebuah tas besar. "Ganti pakaianmu," katanya singkat. "Dan duduk di depan cermin. Kita nggak punya banyak waktu."
Aku berdiri mematung, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. "Aku nggak bisa lakukan ini," kataku lemah. "Aku bukan... aku nggak bisa."
Wanita itu mendekat, wajahnya masih dingin. "Kamu harus. Kalau nggak, mereka bakal nyakitin istrimu. Kamu nggak punya pilihan."
Kata-katanya menusuk hatiku. Demi Rina, aku harus bertahan. Dengan tangan gemetar, aku membuka seluruh pakaianku dan mengenakan pakaian wanita yang disiapkan untukku. Lingerie dan sepatu hak tinggi membuatku merasa sangat tidak nyaman. Aku menatap cermin, melihat seorang pria yang dipaksa menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Perlahan, aku mengenakan lingerie itu, merasakan kain yang asing dan tidak nyaman menyentuh kulitku. Setiap gesekan kain terasa seperti pengingat terus-menerus bahwa aku terperangkap dalam peran yang tidak kuinginkan. Kain tipis dan renda yang seharusnya lembut malah terasa seperti duri yang menusuk setiap kali aku bergerak.
Dengan tangan gemetar, aku merapikan lingerie itu di tubuhku, merasa semakin terasing dari diriku sendiri. Perasaan malu dan hina bercampur dengan rasa marah yang mendidih dalam dadaku. Bagaimana bisa hidupku berubah sedrastis ini? Pikiran-pikiran itu berputar-putar di kepalaku tanpa henti, membuatku semakin putus asa.
Selanjutnya, aku harus mengenakan sepatu hak tinggi yang telah disiapkan untukku. Sepatu itu terlalu kecil, menekan kakiku dengan keras, dan membuat setiap langkah terasa seperti siksaan. Aku mencoba berdiri tegak, tetapi keseimbangan tubuhku terasa aneh dan tidak stabil. Tumit yang tinggi memaksaku untuk mengubah cara berjalan, setiap langkah terasa canggung dan kaku.
Aku mencoba berjalan beberapa langkah, tapi setiap gerakan membuatku merasa seperti akan jatuh. Sepatu hak tinggi itu menekan ujung jari kakiku dengan kejam, dan rasa sakit mulai menjalar dari kaki hingga ke betisku. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas paku, setiap kali tumit menyentuh lantai, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku.
Aku berdiri di depan cermin, memandangi bayangan diriku yang hampir tidak dapat kupercayai. Rambutku masih acak-acakan, wajahku masih polos tanpa riasan, tapi pakaian yang kupakai sudah cukup membuatku merasa seperti orang lain. Seorang pria yang dulu penuh dengan impian dan harapan, sekarang tampak seperti sosok yang hampa dan putus asa, dipaksa menjalani peran yang tak pernah diinginkan.
Rasa malu, marah, dan putus asa bercampur aduk dalam diriku. Aku merasa begitu kecil dan tak berdaya, seolah-olah dunia telah merampas segala yang kumiliki. Namun, di balik semua itu, ada dorongan kecil dalam diriku untuk terus bertahan, demi Rina, demi cinta kami yang masih tersisa.
Wanita itu kembali mendekat, membawa alat rias dengan sikap dingin dan tanpa ekspresi. "Sekarang duduk di depan cermin," perintahnya. "Kita nggak punya banyak waktu."
Baca selengkapnya di https://karyakarsa.com/auliashara atau klik link di bio.

KAMU SEDANG MEMBACA
Terjerat Hutang
Художественная прозаNamaku Arman, seorang suami yang sangat mencintai istriku, Rina. Hidup kami sederhana di kota kecil yang tenang, dengan impian membuka toko kecil untuk kehidupan yang lebih baik. Namun, ketika modal menjadi hambatan, kami terpaksa meminjam uang dari...