~16~

422 20 0
                                        

HAPPY READING
.
.
. .
.
. . . . .
.
. .
.
.

Dinda segera beranjak setelah mendegar Mommynya mengetuk pintu kamar yang memang sedari tadi sengaja ia kunci. Suasana hatinya sedang tidak baik saat ini, dan ia tidak ingin diganggu. Tapi sang Mommy memaksanya membuka pintu daritadi.

"Kenapa Mom?" Ujarnya begitu pintu terbuka. Mommy tersenyum melihat anak semata wayangnya.

"Lagi apa sayang?"

"Dinda lagi nonton. Kenapa Mom?" Tanyanya lagi. Dari nada bicaranya saja Denada sudah bisa menebak kalau putrinya itu sedang dalam kondisi mood yang buruk.

"Ada Risku di bawah." Tuturnya lembut sambil membenarkan anak rambut Dinda yang berantakan. Dinda membolakan kedua matanya, terkejut.

"Beneran?"

Pasalnya beberapa hari ini ia memang sengaja menjauh dari sahabatnya itu. Ia tidak pernah menunggu Risku di lapangan untuk ke parkiran bersama, dan ketika istirahat tiba, Dinda memilih makan bersama teman sekelasnya.

"Iya sayang, tadi udah Mommy suruh ke atas, tapi katanya dia pengen main ayunan di sebelah."

Seketika Dinda menoleh ke arah jendela, melihat langit begitu gelap. Dengan cepat ia mengambil selimut dari dalam lemari kemudian berlari keluar kamar, melewati Mommynya yang sedari tadi berdiri di ambang pintu.

"Dinda ke Risku dulu." Katanya pada Denada. Sang Mommy hanya bisa mengangguk sambil tersenyum.

Sedari pulang sekolah tadi hujan lebat mengguyur bumi, meskipun sekarang sudah reda, tapi Dinda yakin udara di luar pasti dingin sekali.

Risku yang sedang asik mengayunkan ayunan yang ia naiki seketika tersenyum, saat sebuah selimut mendarat mulus menutupi tubuhnya. Ia yang awalnya menunduk pun sedikit mendongak, mendapati gadis bercelana training dan kaos lengan panjang itu sedang memandangnya dengan garang.
 
Risku nyengir tanpa dosa. "Duduk sini." Titahnya seraya menepuk tempat kosong di sebelah kirinya.

Gadis itu menggeleng, "Ayo masuk aja, di sini dingin."

Niat awalnya membawakan Risku selimut memang supaya mereka tidak perlu masuk ke dalam rumah, tapi melihat Risku yang pucat karena kedinginan ia pun berubah pikiran.

Dinda menarik tangan Risku untuk berdiri, namun Risku menolak mentah-mentah, menyembunyikan kedua tangannya di dalam selimut supaya Dinda tidak bisa menariknya lagi.

Belum mau kalah, Dinda malah menarik selimut yang tadi ia pasangkan ke tubuh Risku, berakhir mereka saling tarik-menarik selimut.

"Masuk gak. Ayo masuk..." 

"Gak."

"Ayo..." Dinda terus menarik-narik selimut Risku sampai pada akhirnya pemuda itu melepaskannya begitu saja, Dinda yang masih dalam keadaan menarik pun hampir terjengkang dan mundur beberapa langkah.

"Eh, Din." Risku refleks julurin tangannya buat nahan selimutnya lagi.

"RISKU." teriaknya marah.

Risku panik dikit, tapi terus ketawa gak jelas soalnya muka Dinda lawak banget.

"Hahaha maaf-maaf. Untung ga jatuh." Risku menarik selimut yang masih sahabatnya pegang erat itu supaya mendekat.

"Maaf ya, ada yang luka gak?" Tanyanya khawatir, ia segera menyesali perbuatan jailnya.

Mengabaikan pertanyaan Risku, Dinda menarik tangan pemuda itu, "Ayo masuk aja." Ajaknya lagi. Kali ini dia meminta dengan lembut.

"Gamau, kita di sini dulu ya..." Risku menggeleng-gelengkan kepala, "Gue mau main ayunan sambil liat pelangi."

my freak brotherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang