"Pa?"
Jaehyun yang sedang sibuk dengan pekerjaan kantornya langsung menoleh kearah pintu, di sana sudah berdiri Jeno. Tidak biasanya anaknya itu datang ke ruang kerjanya.
"Ada apa Jen? Masuk." Ucap Jaehyun.
Jeno pun masuk dan kembali menutup pintunya, sedangkan di dalam kamar Wonbin terlihat cemas dan gelisah dia benar-benar tidak bisa tenang. Seharusnya dia tidak memberitahu Jeno, Wonbin tidak tahu kalau Jeno bakal senekat ini. Wonbin belum siap kalau bubu dan papanya mengetahui kehamilannya.
"Ada apa Jen?" Tanya Jaehyun lagi karena anaknya hanya diam.
Kini Jeno sudah duduk berhadapan dengan papanya, di bawah sana tangannya mengepal kuat memberinya kekuatan untuk mengatakannya pada Jaehyun.
"Jeno nggak mau pergi pa, Jeno mau tetap di sini." Ucap Jeno takut-takut, sebelumnya Jeno tidak pernah melawan perkataan Jaehyun apapun yang papanya katakan Jeno pasti menurutinya tanpa membantah.
Jaehyun menghela nafas seraya melepaskan kacamatanya, "kita udah pernah bahas ini oke? Papa udah siapin semua kebutuhan kamu di sana, kamu nggak kehilangan keluarga kamu, papa sama bubu pasti datengin kamu."
"Jeno nggak pernah minta sesuatu sama papa tapi tolong kali ini turutin satu permintaan Jeno pa, Jeno nggak bisa pergi."
"Keputusan bubu sama papa sudah bulat Jen, kamu bakal menetap di sana papa bukan buang kamu ini yang terbaik buat kamu." Ucap Jaehyun final tapi sepertinya Jeno belum mau menyerah begitu saja.
Jeno turun dari kursinya dia berlutut di depan papanya membuang jauh harga dirinya bahkan Jeno sampai menangis di depan Jaehyun, sesuatu yang belum pernah Jeno lakukan. Kepalanya menunduk, memohon pada papanya.
"Jeno mohon pa," ucapnya dengan nada yang bergetar dan pelan.
"Bangun Jen papa nggak pernah ngajarin kamu merendahkan harga diri kamu." Ucap Jaehyun tapi tidak berhasil buat Jeno berdiri.
"Jen dengerin papa, papa lakuin ini bukan cuma buat kamu tapi buat adik kamu juga. Karna perbuatan kamu Wonbin trauma-
"Wonbin hamil pah," ucapan Jeno sukses buat perkataan Jaehyun berhenti seketika, Jaehyun benar-benar terkejut dia lupa kalau Wonbin sama seperti Taeyong.
"Wonbin hamil anak Jeno." Sambungnya.
Jaehyun terdiam, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Memberitahu Taeyong itu sama saja membuat Taeyong semakin membenci Jeno tapi kalau tidak memberitahunya posisi Jaehyun yang bahaya, bisa saja dia kehilangan Taeyong karena kecewa.
"Jeno harus jaga Wonbin pa, setidaknya sampai Wonbin melahirkan anak Jeno. Biarin Jeno di sini pa, Jeno mau jaga Wonbin."
"Bubu tau?"
Jeno menggeleng, "baru papa yang tau, Jeno juga baru tau hari ini."
"Berdiri Jen," ucap Jaehyun.
Kali ini Jeno menurut, dia langsung berdiri di depan Jaehyun yang menatapnya.
"Kamu harus kasih tau bubu."
"Jeno belum siap pa, Jeno nggak mau bubu semakin benci sama Jeno sampai sekarang bubu belum mau ngomong sama Jeno. Jeno takut pa."
"Jangan jadi pengecut Jen, ini ulah kamu. Jangan nyuruh papa buat rahasiain ini ke bubu."
Jeno terdiam, dia kembali menunduk. Jeno takut bubu bakal menyuruh papanya untuk segera mengirimnya begitu mengetahuinya, Jeno belum siap berpisah dengan Wonbin dan anaknya Jeno yakin bubu tidak akan membiarkannya melihat anaknya.
"Papa kasih kamu waktu 2 Minggu buat bicara sama bubu, gimanapun juga bubu harus tau Jen. Menyembunyikannya nggak bakal menyelesaikan masalah."
"Iya pa," jawab Jeno.
"Sekarang dimana Wonbin?"
"Ada di kamarnya."
Jaehyun pun langsung keluar dari ruang kerja dan diikuti Jeno, berjalan ke kamar Wonbin yang pintunya tertutup rapat.
Tokk.. tokkk.. tokk..
"Wonbin, buka papa mau masuk." Ucap Jaehyun setelah mengetuk pintu kamar anak sambungnya, dan tidak lama dari itu pintu kamar Wonbin terbuka menampakan Wonbin yang kondisinya sangat berantakan sepertinya dia habis menangis.
"Boleh papa masuk?" Ucap Jaehyun lagi, setelah dapat anggukkan dari Wonbin Jaehyun langsung masuk begitupun dengan Jeno.
Tatapan Wonbin dan Jeno bertemu tapi tidak lama karena Wonbin langsung memalingkan wajahnya.
Jaehyun duduk di tepi tempat tidur anaknya sedangkan Wonbin berdiri di depannya dan Jeno berdiri di belakang Wonbin, Jaehyun melirik perut Wonbin yang masih terlihat datar.
"Berapa usia kandungannya?" Tanya Jaehyun tiba-tiba.
Sialan jadi Jeno benar-benar memberitahu papanya? Wonbin tidak menjawab tapi air matanya kembali menetes padahal tadi dia sudah banyak menangis.
"Kamu jangan nangis papa cuma nanya." Ucap Jaehyun lagi yang melihat tiba-tiba Wonbin menangis.
"Dua Minggu pa," jawab Jeno. "papa nggak bakal nyuruh Wonbin gugurin kandungannya kan?"
"Jangan gila kamu, papa nggak bakal setega itu, itu bahaya buat Wonbin."
"Pa jangan kasih tau bubu," ucap Wonbin di sela tangisnya sama seperti Jeno tadi. "Wonbin belum siap." Sambungnya.
"Papa udah bahas sama Jeno tadi, papa kasih waktu kalian 2 Minggu buat ngomong sendiri sama bubu gimanapun juga bubu harus tau dari kalian sendiri jangan biarin bubu tau sendiri apalagi tau dari orang lain."
Melihat Wonbin hanya diam Jeno langsung maju berdiri di sampingnya dan langsung menggenggam tangan Wonbin di bawah sana, tangannya sangat mungil pas untuk di genggam Jeno.
"Nggak perlu takut kita hadapin ini berdua," ucap Jeno berusaha menenangkan Wonbin.
"alahh.. tadi juga kamu nangis Jen, sekarang kayak pahlawan nenangin Wonbin." Ejek Jaehyun.
Cklekk
Tiba-tiba pintu kamar Wonbin terbuka lebar di depan sana berdiri Taeyong yang baru selesai masak makan malam, dia terkejut melihat suami dan anaknya kumpul di kamar Wonbin.
"Kalian lagi ngapain? Tumben kumpul di kamar Wonbin?" Tanya Taeyong.
"Kita lagi ngobrol santai aja, kamu udah selesai masak?" Tanya balik Jaehyun karena Wonbin dan Jeno hanya diam bahkan tidak berani menatap Taeyong.
Taeyong mengangguk, "ayo makan nanti keburu dingin masakanku, Jen kamu jangan absen lagi ya kita makan bareng."
Setelah berucap seperti itu Taeyong langsung pergi tanpa rasa curiga sedikit pun, Taeyong itu benar-benar sama kayak Wonbin masih polos dan gampang percaya.
"Pah bubu udah mau ngomong sama Jeno!" Seru Jeno kegirangan, tadi dia tidak salah dengar kan?
"Ya terus? Ayo Wonbin kita makan, tinggalin aja cowok brengsek kayak dia."
"Iya pah."
"Selama hamil jangan deket-deket sama Jeno ya, papa nggak mau anak ini sama brengseknya kayak Jeno."
"Nggak bisa gitulah, itu kan anak Jeno."
"Tapi Wonbin anak papa mau apa kamu?"
"Tapi yang ngehamilin Wonbin itu aku bukan papa, apa papa mau aku hamilin juga?!"
"Jen jangan sampai laptop Wonbin masuk ke mulut kamu ya!"
Jeno langsung kabur sebelum benar-benar Jaehyun memasukan laptop itu ke mulutnya.
TBC
Sebenernya part 16 ini udah pernah di kerjain udah selesai setelah dua hari part 15 di up tapi waktu ngerjain pas Wattpad lagi eror jadi nggak ke save
Butuh niat buat ngetik ulang apa yang udah pernah di ketik
Jadi maaf kalo up nya lama
KAMU SEDANG MEMBACA
STEP BROTHER [Jeno x Wonbin]
Fanfiction[MATURE] [BxB] [CRACK PAIR] [MPREG] Hidup Wonbin sangat sempurna dengan memiliki Bubu dan ayah tiri yang sangat menyayanginya tapi itu semua tidak bertahan lama begitu Jeno berhasil menghancurkan hidupnya dalam sekejap. Karena kesalahan kecil Jeno b...
![STEP BROTHER [Jeno x Wonbin]](https://img.wattpad.com/cover/362775007-64-k580932.jpg)