HAPPY READING
11
Aroma gugurnya daun samar-samar tercium tatkala angin berhembus masuk melalui celah-celah kecil, sedikit mengusik ketenangan di sore hari ini. Cicitan burung yang hilir mampir di atas pepohonan taman rumah ikut meramaikan suasana.
Felix melenguh sedikit, terbangun dari tidurnya.
Perlahan, matanya terbuka namun kemudian menyipit ketika sinar keemasan mentari sedikit menusuk matanya melalui jendela di samping kamar yang hanya ditutupi tirai putih nan tipis.
"Sudah bangun, hm?"
Lantas pandangannya bergerak pada Joker yang tengah membaringkan tubuh tepat di sampingnya. Pria itu tersenyum, begitu lembut— sampai Felix refleks terbuai akan senyuman itu.
"Iya. Joker tidak tidur?" Ujar Felix kemudian.
Joker terdiam. Mungkin karena tubuh besar pria itu yang membelakangi jendela, wajahnya yang terlihat remang-remang kembali mengurai senyum, "Ada kamu di samping, bagaimana bisa tidur?"
Malu-malu pemuda itu tersenyum mendengar penuturan sedikit tak masuk akal Joker. Felix hanya bisa membalasnya dengan kembali tersenyum lebih lebar. Membuat kedua matanya benar-benar melengkung bak bulan sabit.
Keadaan mulai menghening, hanya diiringi gemerisik daun yang bertabrakan juga angin yang sedikit lebih dingin daripada yang sebelumnya.
Keduanya saling melihat satu sama lain. Melalui mata, namun yang pasti mereka merasakan sesuatu yang jauh lebih dalam ketimbang sekedar pandangan netra.
Detik demi detik berlalu, seirama dengan rambut Joker yang mulai berantakan karena hembusan angin melalui jendela yang sedikit memberi celah.
Tubuh keduanya masih tak beralas apapun. Sehelai benang tak lagi terlihat diantara permukaan kulit mereka. Pemuda itu merasa sedikit tergelitik geli ketika dengan begitu pelan-pelan jemari Joker mengelus kulit lengannya.
"Kamu suka kalau aku begini?"
Ragu-ragu Felix mengangguk malu. Dirinya tak bisa berbohong ketika Joker menatapnya begitu lamat-lamat.
Kemudian Joker bergerak lebih mendekat. Dikecupnya ujung hidung pemuda itu yang terlihat sungguh menggemaskan. Lalu ia kembali berucap, "Kamu suka... kalau aku begini juga?"
Siapapun yang melihatnya pasti akan tahu jikalau perlakuan Joker pada kekasihnya begitu lembut dan tidak tergesa-gesa. Sampai-sampai Felix sendiri tidak lagi bisa menjawab, terlalu terpaku dengan kenyataan bahwa Joker terpahat begitu sempurna.
Joker sadar jika prilakunya membuat Felix kehabisan seribu kata. Pria itu lantas beralih memeluk Felix erat, "Jangan pergi ya?"
"Pergi?" Felix tertawa. Bagaimana mungkin ia bisa pergi jika bukan Joker yang membawanya? Dengan siapa lagi ia akan bermuara kalau bukan pria itu yang bersedia menampung dirinya?
Tidak ada jawaban dari Joker. Wajahnya terdiam, bibirnya terkatup rapat. Jika ia harus menjawab kemana Felix akan pergi, satu hal yang pasti; ia bukan Tuhan.
Lengan-lengan besarnya semakin merenguh tubuh yang jauh lebih kecil daripada miliknya. Joker merasa begitu tentram. Memeluk Felix adalah obatnya.
"Just, don't go."
Joker takut. Joker takut menghadapi kenyataan yang tak disangka-sangka akan mencuat ke permukaan. Bagaimana kalau pemudanya akan benar-benar pergi suatu saat?
YOU ARE READING
Mr. Sunshine
Hayran KurguHYUNJIN-FELIX ⚠⚠WARNING⚠⚠ Rated: R-Restricted [17+] Genre: Fanfiction, Romance, Historical, Fantasy Tags: #fluffy, #abusive, #psychological, #hiddenagenda, #humantrafficking, #1970s, #doubleidentity, #mentalillnesses, #rape, #violance, #death Felix...
