chapter 十二

354 63 7
                                        

HAPPY READING

12






Tapi bagaimanapun juga, keadaan saat ini masih terlalu bahaya. Pihak kepolisian dan juga militer Gyeongseong tidak hanya diam atas menghilangnya Hyunjin yang begitu tiba-tiba. Apalagi setelah adanya konfirmasi oleh federal paling besar sedunia. Tentu cukup menggemparkan seisi daratan.

Joker dan Felix sempat beberapa kali berpindah-pindah. Dari benua satu ke yang lainnya. Mereka sempat tinggal di Ibar, sampai Goravara. Namun sekarang sudah lima hari lamanya Felix dan Joker menetap di Picchu.

"— Bereskan."

Samar-samar terdengar suara yang tidak jelas dari telepon bertali yang ada di atas nakas, mungkin sambungan dari bawahan Joker.

Semenjak kepindahan Joker, underground group-nya masih berjalan. Meskipun tidak seaktif sebelumnya. Kendati kembali menjalankan bisnis, mereka sekarang lebih sibuk untuk menghalau lacakan NIA atas Joker.

Membunuh mata-mata NIA yang ada dimana-mana juga tidak gampang.

"Ya, potong semua jarinya kalau dia masih diam," Lanjut Joker setelah mendengar beberapa patah kata dari sisi sebrang. Kemudian, sambungan terputus.

Ini masih terlalu dini untuk menggangu kekasihnya tidur. Pukul satu malam, kalau ingin tahu. Joker tadi diam-diam meninggalkan Felix yang tengah tertidur pulas di kamar karena harus menyelesaikan urusannya yang tidak kunjung selesai.

NIA sialan.

Joker melirik pada sekitar. Hening, dan gelap. Hanya remang-remang yang terlihat akibat sinar rembulan yang cukup terang merembas lewat ventilasi. Bunyi tetesan dari keran dapur bisa terdengar, saking sunyinya.

Joker tidak suka keheningan seperti ini.

Joker membencinya.

Pria itu memilih untuk kembali ke kamar, memeluk kekasihnya lagi lalu tertidur. Seperti beberapa minggu ini yang sudah mereka lalui bersama-sama. Namun belum sempat lima langkah berjalan, Joker mengernyit sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba pening.

Tunggu, sial. Joker berusaha merutuki dirinya sendiri.

Dengan cepat ia menoleh kembali, menyapu pandangannya pada seluruh penjuru saat Joker bisa mencium bau amis yang semakin menjadi, menyeruak masuk, menyengat hidungnya.

Matanya membulat, saat dengan jelas dirinya melihat tubuh yang tidak berdaya di lantai, penuh dengan darah yang hampir menenggelamkannya.

Tubuh Joker mematung, masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Badannya mulai bergetar hebat, pandangannya tetap tidak lepas dari sosok mayat yang sudah terbaring bersimbah darah.

Deru nafasnya mulai memburu. Berkali-kali pikirannya mulai saling berkecambuk. Saling menyalahkan satu sama lain. Suara-suara di kepalanya semakin berkelebat menjadi satu, memarahinya, memakinya.

Joker terduduk di lantai.

Tangannya terasa kebas dan tidak dapat digerakan saat perlahan air matanya mulai mengalir turun.

"I-Ibu."

Di suramnya kegelapan, tubuh itu masih ada disana, menemaninya dalam keheningan.

Pria itu mulai menunduk, menjambak rambutnya kuat, "J-jangan."

Mr. SunshineWhere stories live. Discover now