#story13
Aruna Daniella Suherman tidak menyangka jika dirinya di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Di umurnya yang sudah menginjak angka 27, Aruna di paksa menikah dengan Calvin Dalbero Nugraha demi menjalin kerja sama dengan keluarga Nugraha. Perus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
2193 kata *****
"Kita jenguk Papa, ya?" ajak Aruna, menatap Calvin yang duduk di sebelahnya.
Selepas Abi dan Clara memutuskan untuk pergi karena Calvin yang tidak bisa di ajak bicara, laki-laki itu belum beranjak dari duduknya.
Sebelum Clara dan Abi pergi, Aruna sempat menanyakan di rumah sakit mana Darmawan di rawat. Dan sebagai menantu, Aruna ingin menjenguk Papa mertuanya, melihat bagaimana kondisi kesehatan Darmawan. Memang, Clara mengatakan Darmawan baik-baik saja, hanya drop biasa, tapi tetap saja mereka harus menjenguk.
"Aku enggak mau, Run. Sebelum Papa minta maaf ke kamu, aku enggak akan mau ketemu sama Papa." Calvin pun keras kepala, masih saja ingin Darmawan meminta maaf kepada Aruna.
"Aku udah maafin Papa, Vin."
Calvin menatap Aruna frustasi. "Please, bersikap egois sekali aja, Run. Papa udah keterlaluan, dia udah nyakitin hati kamu. Semudah itu kamu maafin dia? Bahkan dia belum mengucapkan kata maaf secara langsung ke kamu. Dia belum menemui kamu dan memohon maaf di kaki kamu."
"Kamu mau aku jadi menantu durhaka?" tanya Aruna, membuat Calvin terdiam. "Aku enggak mungkin biarin Papa minta maaf di kaki aku, Vin. Itu bukan hal yang pantas di lakukan oleh orang tua kepada anaknya. Harusnya, kita yang minta maaf ke Papa karena belum bisa ngasih keturun__"
"Keturunan lagi?!" Calvin lelah dengan masalah keturunan yang terus saja di bahas. Dia tidak memikirkan keturunan, dia hanya memikirkan rumah tangganya. Calvin hanya memikirkan perasaan Aruna, menyelamatkan perempuan itu dari tuntutan yang akan membebaninya.
Aruna menelan ludahnya sejenak, dadanya terasa sesak. Aruna tidak mau membahasnya, tapi memang begitu kenyataannya. "Memang begitu nyatanya. Aku belum bisa kasih keturunan," ucapnya, mengalihkan pandangan ke arah lain.
"STOP, RUN!" bentak Calvin. Laki-laki itu memegangi bahu Aruna. "Lihat aku, Run," suruhnya, meminta Aruna untuk menatap ke arahnya. Aruna menurut, dia menarik matanya menatap Calvin. "Ini yang enggak aku mau, Run. Kamu jadi sedih karena hal itu. Aku mau kamu bahagia sama aku, Run. Bukan malah merasa terbebani dengan tuntutan dari keluarga aku."
Mata Aruna memanas. "Aku bahagia sama kamu, Vin. Aku bahagia, tapi kita enggak bisa lepas tangan dari tanggung jawab kita sebagai seorang anak. Kamu enggak mungkin mengabaikan orang tua kamu hanya karena aku."
"Keturunan bukan tanggung jawab kita sebagai anak, Run. Aku menikahi kamu buat hidup sama kamu sampai tua. Masalah keturunan, itu hanya bonusnya." Calvin menghela napas kasar. Tangannya tergerak mengusap air mata Aruna.
Calvin memang ingin Aruna menumpahkan kesedihannya di depannya, tapi bukan berarti Aruna harus selalu menangis saat bersamanya. Hati Calvin terasa perih jika melihat air mata kesedihan itu tumpah dari pelupuk mata Aruna. Istrinya itu terlalu sering menangis ketika bersamanya.