BAB 26

6.7K 249 1
                                        

Hari ini Aruna dan Calvin mendapatkan ucapan selamat dari banyak orang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari ini Aruna dan Calvin mendapatkan ucapan selamat dari banyak orang. Bukan hanya mereka yang bahagia, tapi semua orang terdekat ikut bahagia. Bahkan, keluarga mereka berbondong-bondong mendatangi Rumah Sakit untuk melihat keadaan Aruna. Padahal Aruna hendak langsung pulang saja setelah USG, hanya saja Calvin menahannya untuk pulang nanti sore.

“Udah 10 minggu baru kamu tahu, Run,” ucap Hera, menatap foto hasil USG Aruna tadi. Perempuan itu berdiri di dekat ranjang Aruna dengan Farida yang berdiri di sebelahnya.

Farida ikut melihat foto USG di tangan Hera. “Langsung punya dua cucu kita nanti, Mbak.”

Aruna tersenyum melihat kedekatan Hera dan Farida, keduanya tampak begitu akrab layaknya adik dan kakak. Hubungan antara orang tua Aruna dan orang tua Calvin sudah membaik. Darmawan sudah menemui kedua orang tua Aruna secara pribadi dan meminta maaf secara langsung. Hera dan Panji pun hanya bisa memaafkan karena itu bukan kesalahan besar. Darmawan memiliki hak untuk menyuruh anaknya menikah lagi.

“Berarti pas Papa minta Calvin nikah lagi, Aruna udah hamil, Pa,” ucap Farida, menatap ke arah Darmawan yang duduk di sofa bersama Panji dengan Cia yang berada di pangkuannya. Farida geleng-geleng kepala sambil berdecak. “Kamu jahat banget sama cucu kamu, Pa. Kalau mereka bisa ngomong, udah di maki kamu, Pa.”

“Kan, aku enggak tahu, Ma.” Darmawan membela diri.

Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Perihal niat Darmawan menikahkan Calvin lagi tidak menjadi masalah, malah sering di jadikan bahan bercanda untuk memojokkan Darmawan.

“Pantas aja waktu itu wajah kamu pucat banget, Run,” ucap Clara, perempuan itu berdiri di sebelah Calvin. Sementara Calvin, laki-laki itu senantiasa berada di sisi Aruna, bahkan genggaman tangannya tidak lepas dari tangan Aruna.

“Iya, Kak. Ini aja aku di paksa di bawa ke Rumah Sakit sama Calvin.”

Hera menatap ke arah Aruna sambil tersenyum. “Aruna dari dulu enggak pernah mau di bawa berobat ke Rumah Sakit. Untung kamu paksa dia ke Rumah Sakit, kalau enggak, kalian enggak akan tahu.”

Calvin mengangguk. “Demamnya Aruna sebagai pertanda buat kami, Ma. Tapi, aku berharap setelah ini, Aruna enggak demam lagi.” Calvin menatap Aruna lekat. Dia tidak ingin istrinya kembali demam. Calvin begitu khawatir dengan kondisi Aruna. Dia ingin istrinya selalu sehat, biar dia saja yang sakit.

“Papa coba lihat ini, deh.” Farida memperlihatkan foto hasil USG Aruna ke pada Darmawan. “Ini cucu yang Papa minta, langsung di kasih dua biar Papa puas.”

Darmawan memegangi foto hasil USG Aruna, matanya berkaca-kaca melihat cucunya. “Maafin Opa, ya, Sayang.”

“Opa ngapain minta maaf?” celetuk Cia, menengadahkan kepalanya menatap Darmawan. “Opa kan enggak salah ke Cia.”

Ucapan Cia mengundang gelak tawa dari orang di ruangan itu. Darmawan memeluk Cia, sedikit menggeser foto USG ke depan Cia. “Opa minta maaf sama Dedek bayi ini. Ini anaknya Om Calvin, nanti jadi adik Cia juga.”

Titik Tunggu (Sudah Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang