#story13
Aruna Daniella Suherman tidak menyangka jika dirinya di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Di umurnya yang sudah menginjak angka 27, Aruna di paksa menikah dengan Calvin Dalbero Nugraha demi menjalin kerja sama dengan keluarga Nugraha. Perus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
2069 kata ****
Calvin masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi makan siang untuk Aruna. Laki-laki itu membangunkan Aruna yang tertidur agar Aruna bisa mengisi perutnya. Dari pagi Aruna belum makan, dan hanya terbaring di ranjang.
Calvin duduk di sisi kasur, menaruh nampan di atas nakas. “Ayo, bangun dulu, Run.” Calvin membantu Aruna untuk duduk, menyandarkan punggung perempuan itu ke kepala ranjang. Calvin menaruh punggung tangannya di kening Aruna. Kompres demam yang sebelumnya sudah dilepaskan. “Enggak turun panas kamu, Run.”
Mata Aruna terbuka sayu, dan berat sekali rasanya. Makin siang, panas di tubuhnya semakin tinggi. Kompres demam yang dia pakai tadi pagi hanya memberikan dingin sementara saja, setelah rasa dinginnya menghilang, kening Aruna kembali panas. “Aku mau istirahat aja.”
Calvin menahan Aruna yang ingin berbaring lagi. “Makan dulu, Sayang.”
Aruna menggeleng lemah, matanya terasa begitu panas, dan napas panasnya bisa dia rasakan. “Aku enggak mau, Vin.”
“Run..” Calvin masih menahan tangan Aruna. “Makan dikit. Gimana mau sembuh kalau kamu enggak mau makan.” Calvin menatap Aruna penuh pengertian. “Dikit aja, ya? Tadi aku bikinin bubur buat kamu.” Calvin meraih mangkuk berisi bubur buatannya. Sebelum memutuskan untuk memberikannya kepada Aruna, Calvin sudah mencicipinya terlebih dahulu, rasanya cukup enak.
Walaupun ini pertama kalinya Calvin mencoba membuat bubur, dan harus melewati kegagalan berulang kali. Pada percobaan ketiga, akhirnya dia bisa membuat bubur yang enak, dan layak untuk di makan. Calvin rasa, buburnya ini tidak buruk.
“Ayo, Run.” Calvin mendekatkan sendok ke mulut Aruna, tapi perempuan itu tak kunjung membuka mulutnya.
Aruna sama sekali tidak tertarik dengan bubur itu. Tidak ada niatan untuk memakannya. “Aku enggak mau, Vin.” Aruna menatap Calvin dengan mata memanas. Bawaannya, suasana hatinya saat ini sedang buruk. Dia ingin menangis jika harus di paksa makan. “Enggak mau.” ulangnya lagi.
“Sedikit aja, Run. Biar perut kamu enggak kosong banget.” Calvin masih mencoba membujuk Aruna. “Aaa...” Calvin mendekatkan sendok itu lagi, lebih dekat, hampir bersentuhan dengan bibir Aruna.
Meskipun malas, Aruna membuka mulutnya, menerima suapan bubur dari Calvin. Laki-laki itu tersenyum melihat Aruna yang menerima suapannya. “Nah, itu__ Run..” Calvin berubah panik saat Aruna mual sambil menutup mulutnya. Laki-laki itu menaruh mangkuknya dengan cepat di atas nakas. “Kenapa? Enggak enak buburnya?” tanya Calvin sembari memberikan segelas air putih kepada Aruna.
Aruna menggelengkan kepalanya. Perempuan itu tidak menerima air putih dari Calvin. Tangannya masih saja mengatup mulutnya dengan rapat. Ketika bubur itu menyentuh lidahnya, dia mendadak merasa begitu mual. Lingkar mata Aruna memerah. Sekali lagi mual menyerangnya, dan dia muntah di atas kasur. Semua isi perutnya keluar.